Tari pho, sebuah tarian tradisional yang berasal dari desa krueng panto, aceh barat daya, dulunya merupakan ekspresi ratapan atas kematian. kini, tarian ini telah mengalami transformasi fungsi menjadi bagian penting dari upacara pernikahan, khitanan, dan hiburan rakyat. analisis mendalam menunjukkan bahwa tari pho memiliki struktur gerak yang tersusun secara sistematis dan utuh, mulai dari elemen tubuh seperti kepala, tangan, badan, dan kaki. analisis struktur ini mengungkap bahwa tarian ini terdiri dari unit-unit gerak yang saling berkaitan, mulai dari motif, frasa, kalimat, hingga gugus gerak. secara spesifik, tarian ini memiliki 7 gugus, 14 kalimat, 49 frasa, dan 159 motif gerak. temuan ini menegaskan adanya tata hubungan gerak yang teratur dan hierarkis. analisis struktur tari pho memberikan pemahaman mengenai tata hubungan gerak hierarkis gramatikal dan sintagmatis yang membentuk koreografi padu serta selaras dengan iringan musik. tata hubungan hierarkis gramatikal terlihat melalui penyusunan gerak yang disusun secara berurutan mulai dari motif, frase, kalimat, hingga rangkaian gerak utuh. tata hubungan sintagmatis tampak pada keterkaitan antarunsur gerak yang terjalin berkesinambungan sehingga menghasilkan alur tarian runtut dan teratur. keberadaan kedua pola tersebut menegaskan keteraturan struktur tari pho sebagai tarian tradisional yang memiliki nilai simbolis. tata hubungan silih berganti tidak ditemukan karena seluruh gerakan dilaksanakan secara serempak. penelitian ini menggunakan pendekatan deskriptif kualitatif melalui observasi, wawancara, dan dokumentasi dengan tujuan mengungkap struktur tari pho sekaligus menjadi rujukan dalam pelestarian, pengembangan seni tradisi, dan literatur akademik seni pertunjukan. kata kunci: analisis, struktur, tari pho.
Electronic Theses and Dissertation
Universitas Syiah Kuala
SKRIPSI
ANALISIS STRUKTUR TARI PHO DI DESA KRUENG PANTO KECAMATAN KUALA BATEE KABUPATEN ACEH BARAT DAYA. Banda Aceh Fakultas KIP,2026
Baca Juga : NOTASI LABAN TARI HASYEM MEULANGKAH DI DESA KUTA MAKMUR KECAMATAN JEUMPA KABUPATEN ACEH BARAT DAYA (ZIYATUR RAHMI, 2021)
Abstract
Pho Dance, a traditional dance originating from Krueng Panto Village, Southwest Aceh, was once an expression of mourning for the dead. Today, this dance has undergone a transformation in function to become an important part of wedding ceremonies, circumcisions, and folk entertainment. An in-depth analysis shows that Pho Dance has a systematically and coherently structured movement, starting from body elements such as the head, hands, torso, and feet. This structural analysis reveals that the dance consists of interrelated movement units, ranging from motifs, phrases, sentences, to movement clusters. Specifically, this dance has 7 clusters, 14 sentences, 49 phrases, and 159 movement motifs. These findings confirm the existence of an orderly and hierarchical movement relationship. The structural analysis of the Pho Dance provides an understanding of the grammatical and syntagmatic hierarchical movement relationships that form a cohesive choreography in harmony with the musical accompaniment. The hierarchical grammatical relationship is seen through the arrangement of movements in sequence, starting from motifs, phrases, sentences, to complete movement sequences. The syntagmatic relationship is seen in the continuous interconnection between movement elements, resulting in a coherent and orderly dance flow. The existence of these two patterns confirms the regularity of the structure of Pho Dance as a traditional dance with symbolic value. Alternating relationships are not found because all movements are performed simultaneously. This study uses a qualitative descriptive approach through observation, interviews, and documentation with the aim of revealing the structure of Pho Dance as well as serving as a reference in the preservation and development of traditional arts and academic literature on performing arts. Keywords: Analysis, Structure, Pho Dance.
Baca Juga : ANALISIS STRUKTUR GERAK TARI DIKEE PAM DI SANGGAR INDATU KECAMATAN PANGA KABUPATEN ACEH JAYA (Sari Hasfika, 2026)