Universitas Syiah Kuala | ELECTRONIC THESES AND DISSERTATION

Electronic Theses and Dissertation

Universitas Syiah Kuala

    THESES
Fathimatuzzuhra Achmad, STUDI KUAT TEKAN DAN MIKROSTRUKTUR BETON MUTU ULTRA TINGGI DENGAN PENAMBAHAN BAKTERI BACILLUS SP., STAPHYLOCOCCUS SP., DAN SOLIBACILLUS SP.. Banda Aceh Program Study Magister Teknik Sipil Fak.Teknik Unsyiah,2026

Beton mutu ultra tinggi merupakan pilihan utama untuk memikul beban pada struktur bangunan yang kompleks. kerusakan beton akibat retak merupakan masalah yang umum terjadi dan membutuhkan biaya perbaikan yang besar. inovasi dilakukan dengan menggunakan agen penyembuhan seperti mikroorganisme, yang disebut beton penyembuhan diri mikroba. agen penyembuhan yang digunakan adalah bakteri ureolitik dari genus bacillus sp., staphylococcus sp., dan solibacillus sp. dengan variasi yang berbeda, yaitu 0%, 0,5%, 0,6%, dan 0,7% beserta media pertumbuhan nutrient agar, urea dan ca2+ sebagai prekursor serta kaldu nutrisi, yang dihitung dari berat semen yang digunakan. sebanyak 20 benda uji pada setiap variasi menjalani proses perawatan dengan cara direndam dalam air selama 7 hari, kemudian diberikan beban awal sebesar 80% dari beban ultimit beton kontrol. selanjutnya benda uji direndam dalam air selama 28 hari untuk memaksimalkan proses penyembuhan oleh bakteri dan penutupan retak dipantau pada hari ke-0, 7, 14, 21, 28. hasil penelitian menunjukkan bahwa kuat tekan rata-rata tertinggi pada umur 28 hari terdapat pada beton yang mengandung bakteri staphylococcus sp. dengan variasi 0,5% sebesar 70,52 mpa. pertumbuhan kalsit terbaik dalam menutupi retak terdapat pada beton mutu ultra tinggi menggunakan, staphylococcus sp. variasi 0,5%, bacillus sp. dengan variasi 0,7%, dan solibacillus sp. dengan variasi 0,6%. beton dengan penambahan bakteri menghasilkan kekuatan sebesar 63,76% dari beton tanpa bakteri. pasca pembebanan awal, beton bakteri mampu mempertahankan kuat tekannya terhadap beton tanpa bakteri dengan nilai tertinggi hingga terendah diperoleh pada genus staphylococcus sp., dengan persentase 75,53%, solibacillus sp., sebesar 86,12%, dan bacillus sp. sebesar 65,64%. pemeriksaan kadar cao yang diperoleh dari uji xrf mencapai 50% pada setiap sampel, di mana kadar cao pada beton bakteri lebih rendah dibandingkan beton kontrol, menunjukkan sebagian cao terikat oleh bakteri membentuk caco3.



Abstract

Ultra-high-strength concrete is a primary choice for carrying loads on complex building structures. Concrete damage due to cracks is a common problem and requires a lot of repair costs. Innovation is carried out using healing agents such as microorganisms, called microbial self-healing concrete. The healing agents used were ureolytic bacteria genus Bacillus sp., Staphylococcus sp., and Solibacillus sp. with different variations, namely 0%, 0.5%, 0.6%, and 0.7% along with the growth media nutrient agar, urea and Ca2+ as precursors and nutrient broth, which were calculated from cement weight used. A total of 20 test specimens in each variation underwent a curing process by immersion in water for 7 days, then be subjected to an initial load of 80% from ultimate load of control concrete. Subsequently, the specimens were soaked in water for 28 days to maximize the healing process by bacteria and crack covering was monitored at 0, 7, 14, 21, 28 days. The results showed that the highest average compressive strength at the age of 28 days was found in concrete containing Staphylococcus sp. bacteria, with variation of 0.5% amounting 70.52 MPa. The best calcite growth in covering cracks was found in ultra-high-strength concretes using Staphylococcus sp. 0,5% and Bacillus sp. with a variation of 0.7% and Solibacillus sp. with variation of 0.6%. After initial loading, bacterial concrete was able to maintain its compressive strength compared to concrete without bacteria, with the highest to lowest values obtained in the genus Staphylococcus sp., with a percentage of 75.53%, Solibacillus sp., at 86.12%, and Bacillus sp. at 65.64%. The CaO content, which was obtained from XRF test, reached 50% in each sample, in which CaO content in bacterial concrete has a lower content than control concrete indicating some of the CaO is bound by bacteria to form CaCO3.



    SERVICES DESK