Aisah, siti. (2025). disfemisme dan eufemisme dalam tuturan komunitas banjar di pematang guntung serdang bedagai. [tesis. universitas syiah kuala]. di bawah bimbingan dr. drs. teuku alamsyah, m.pd. dan prof. dr. drs. razali, m.pd. penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan bentuk dan fungsi ungkapan disfemisme dan eufemisme dalam tuturan komunitas banjar di pematang guntung serdang bedagai. metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode deskriptif dengan pendekatan kualitatif. pengumpulan data menggunakan teknik pengamatan dan wawancara. data dianalisis dengan pendekatan kualitatif. hasil penelitian menunjukkan bahwa dalam tuturan komunitas banjar ditemukan adanya bentuk disfemisme dan eufemisme berupa kata, frasa dan klausa. adapun contoh disfemisme dalam bentuk kata adangan yang berarti kerbau, bentuk frasa urang ganap yang berarti manusia bajingan, dan bentuk klausa inya banar burik yang berarti dia jelek benar. adapun bentuk eufemisme dalam kata batianan yang berarti hamil, bentuk frasa wawan hiar yang berarti hilang ingatan, dan bentuk klausa inya kadak bisa bapandir yang berarti dia tidak bisa bicara. selain bentuk, terdapat juga fungsi disfemisme dalam tuturan komunitas banjar untuk merendahkan, yaitu kata macal yang berarti jahat, untuk menyatakan tidak suka, yaitu pamikirin bungul yang berarti memiliki pemikiran bodoh, untuk penggambaran negatif pada lawan politik yaitu karamput berarti pendusta, untuk mengungkapkan kemarahan yaitu tambuk yang berarti busuk dan untuk mengkritik, yaitu babinian liar yang berarti wanita liar. fungsi eufemisme digunakan untuk ungkapan kerahasiaan, yaitu mabat yang berarti diamankan, alat pendidikan, yaitu iwak karya yang berarti pengangguran, dan menghindari tabu, yaitu pampijit yang berarti bangsat. hasil penelitian tersebut menunjukkan bahwa komunitas banjar senantiasa menggunakan bentuk beserta fungsi disfemisme dan eufemisme saat berkomunikasi. kata kunci: disfemisme, eufemisme, tuturan komunitas banjar.
Electronic Theses and Dissertation
Universitas Syiah Kuala
THESES
DISFEMISME DAN EUFEMISME DALAM TUTURAN KOMUNITAS BANJAR DI PEMATANG GUNTUNG SERDANG BEDAGAI. Banda Aceh Fakultas KIP,2026
Baca Juga : DISFEMISME BAHASA KLUET DALAM TUTURAN MAHASISWA KLUET DI LINGKUNGAN UNIVERSITAS SYIAH KUALA (Veny lidya rezkiani, 2024)
Abstract
Aisah, Siti. (2024). Dysphemism and Euphemism in the Speech of Banjar Community in Pematang Guntung Serdang Bedagai. [Thesis. Syiah KualaUniversity]. Under the guidance of Dr. Drs. Teuku Alamsyah, M.Pd., and Prof. Dr. Drs. Razali, M.Pd. This research aims to describe the forms and function of dysphemism and euphemism in the speech of Banjar community in Pematang Guntung Serdang Bedagai. The method used in this research is descriptive method with qualitative approach. Data collection uses observation and interview techniques. The data were analyzed with qualitative approach. The result shows that in the speech of Banjar community, there are forms of dysfemism and euphemism in the form of word, phrases, and clauses. The example of disfemism in the form of words adangan which means buffalo, the phrase urang ganap means bastard human, and the clause banar burik bastard is really ugly. As for the form of euphemism in the word batianan which means pregnant, the phrase wawan hiar which means memory loss, and the clause form inya kadak bisa bapandir which means he can talk. In addition to the form, there is also a function of dysfemisme in the speech of the Banjar community to denigrate, namely the word macal which means evil, to express dislike, namely bungul thinking which means having stupid thoughts, to negatively portray political opponents, namely karamput which means liar, to express anger, namelytambuk which means rotten, and to criticize, namely babinian liar which meand wild women. The function of euphemism is used to express confidentiality, namely mabad which meand secured, eduvational tools, namely iwak karya which mean unemployment, and avoid taboos, namely pampijit which means bastard. The result of this study show that the Banjar community always uses the forms and function of dysphemism and euphemism when commiticating. Keywords: Dysfemism, euphemism, speech of Banjar community.
Baca Juga : EUFEMISME DALAM PIDATO BUPATI ACEH JAYA (Rozalia, 2023)