Kekerasan dalam pacaran merupakan fenomena sosial dan psikologis yang semakin banyak terjadi di kalangan remaja dan dewasa muda, termasuk di aceh, yang sering kali menimbulkan dilema bagi korban untuk bertahan atau keluar dari hubungan tersebut. pengambilan keputusan menjadi aspek penting yang menentukan kemampuan korban dalam melindungi diri dan memulihkan kesejahteraan psikologisnya. penelitian ini bertujuan mengidentifikasi dimensi pengambilan keputusan pada individu yang mengalami kekerasan dalam pacaran ditinjau dari status hubungan. pendekatan penelitian menggunakan metode kuantitatif deskriptif dengan 60 responden di aceh yang terdiri atas individu yang masih bertahan dan yang telah keluar dari hubungan kekerasan. instrumen yang digunakan ialah the melbourne decision making questionnaire (mdmq) dengan empat dimensi: vigilance, hypervigilance, buck-passing, dan procrastination. hasil uji chi-square menunjukkan perbedaan signifikan antara kedua kelompok (p < 0,001), di mana individu yang masih bertahan cenderung menggunakan dimensi procrastination, sedangkan individu yang telah keluar lebih banyak menggunakan dimensi vigilance. temuan ini menunjukkan bahwa status hubungan berhubungan dengan gaya pengambilan keputusan korban, serta menegaskan pentingnya penguatan kemampuan pengambilan keputusan adaptif dalam mendukung proses pemulihan korban kekerasan dalam pacaran.
Electronic Theses and Dissertation
Universitas Syiah Kuala
SKRIPSI
IDENTIFIKASI PENGAMBILAN KEPUTUSAN PADA INDIVIDU YANG MENGALAMI KEKERASAN DALAM PERTEMANAN DITINJAU DARI STATUS HUBUNGAN PERTEMANAN. Banda Aceh Program Studi Psikologi Fakultas Kedokteran Unsyiah,2026
Baca Juga : ANALISIS TOXIC FRIENDSHIP DAN SELF ESTEEM DALAM HUBUNGAN INTERPERSONAL MAHASISWA GENERASI Z UNIVERSITAS SYIAH KUALA (NAJWA ANDINI SEPTIA, 2024)
Abstract
Dating violence is a social and psychological phenomenon that increasingly affects adolescents and young adults, including those in Aceh, often placing victims in a dilemma between remaining in or leaving abusive relationships. Decision-making plays a crucial role in determining victims’ ability to protect themselves and restore psychological well-being. This study aims to identify the dimensions of decision-making among individuals who experience dating violence, viewed from their relationship status. The research employed a quantitative descriptive approach with 60 participants in Aceh, consisting of individuals who remained in or had left abusive relationships. The instrument used was the Melbourne Decision Making Questionnaire (MDMQ), which measures four dimensions: vigilance, hypervigilance, buck-passing, and procrastination. The Chi-Square test results showed a significant difference between the two groups (p < 0.001), indicating that individuals who remained in abusive relationships tended to use the procrastination dimension, while those who had left showed a stronger tendency toward vigilance. These findings suggest that relationship status is associated with victims’ decision-making styles and highlight the importance of strengthening adaptive decision-making abilities to support recovery from dating violence.