Penerapan teknologi 6g di frekuensi 100 ghz untuk daerah pedesaan sebenarnya sangat menjanjikan, namun punya kendala utama yaitu sinyal yang mudah melemah dan rentan terganggu oleh frekuensi yang sama (co-channel) dari bts sebelah. penelitian ini bertujuan untuk mengukur kekuatan sinyal yang diterima pengguna pada berbagai jarak, dan melihat seberapa besar kualitas sinyal (sinr) menurun akibat gangguan tersebut. metode yang digunakan adalah simulasi berbasis matlab r2022a dengan kondisi line of sight dan studi kasus di gampong alue meutuah, aceh selatan, dengan jarak antar bts 400 meter. hasil simulasi menunjukkan bahwa daya sinyal mengalami penurunan seiring peningkatan jarak dari 25 m sampai 200 m dengan rentang nilai antara -52,4198 dbm hingga -70,5691 dbm. meskipun demikian, nilai tersebut masih berada pada kategori sangat baik berdasarkan standar kualitas sinyal. namun, interferensi yang meningkat hingga -80,2065 dbm menyebabkan penurunan kualitas sinr secara signifikan, terutama pada area batas ujung cakupan sel (cell edge), yaitu dari rata-rata 11,79 db menjadi 5,20 db. berdasarkan hasil tersebut, teknologi 6g tetap layak diterapkan di wilayah rural, tetapi diperlukan pengelolaan interferensi yang optimal agar kualitas sinyal tetap terjaga sampai ke batas terluar cakupan bts.
Electronic Theses and Dissertation
Universitas Syiah Kuala
SKRIPSI
ANALISIS INTERFERENSI ANTAR KANAL SELULER PADA TEKNOLOGI 6G DI WILAYAH RURAL. Banda Aceh Fakultas Teknik,2026
Baca Juga : ANALISIS PENGARUH CO-CHANNEL INTERFERENCE DAN ADJACENT CHANNEL INTERFERENCE TERHADAP KUALITAS WI-FI PADA FREKUENSI 2,4 GHZ (AULIA AKBAR RABBANY, 2021)
Abstract
The deployment of 6G technology in rural areas utilizing the 100 GHz frequency band holds significant promise, yet it faces critical challenges, primarily severe signal attenuation and high vulnerability to co-channel interference (CCI) originating from adjacent base transceiver stations (BTSs). This research aims to quantify the received signal power at varying user distances and analyze the degradation of Signal-to-Interference-plus-Noise Ratio (SINR) due to this interference. The methodology employs a simulation approach using MATLAB R2022a under Line-of-Sight (LOS) conditions, with a case study focusing on Gampong Alue Meutuah, South Aceh, utilizing a BTS inter-site distance of 400 meters from 25 m to 200 m Simulation results indicate a reduction in signal power as the user distance increases, ranging from -52.4198 dBm to -70.5691 dBm. Despite this attenuation, the measured values remain within the "very good" signal quality category according to standard quality metrics. However, the presence of elevated interference, peaking at -80.2065 dBm, leads to a substantial decrease in SINR quality, particularly in the cell-edge coverage area. Specifically, the average SINR drops from 11.79 dB to 5.20 dB in these critical zones. The findings confirm that 6G technology is technically viable for deployment in rural regions. Nevertheless, optimal interference management strategies are imperative to ensure the maintenance of signal quality, particularly at the periphery of the BTS coverage area.
Baca Juga : STUDI SISTEM DVB-T (DIGITAL VIDEO BROADCASTING TERRESTRIAL) (Rizaldi, 2023)