Pengelolaan sumber daya berkelanjutan berbasis kearifan lokal menjadi salah satu modal penting dalam pembangunan nasional, khususnya dalam mendorong ekonomi biru. penelitian ini bertujuan untuk menjelaskan alasan pentingnya pengelolaan berkelanjutan dengan berlandaskan kearifan lokal sebagai penghela ekonomi biru. menggunakan metode campuran (mixed method), penelitian dilakukan melalui studi kasus, wawancara, dan penyebaran angket kepada 74 responden yang dipilih secara acak. hasil penelitian menunjukkan empat kondisi utama yang mendasari pengelolaan berkelanjutan, yaitu: (1) berlakunya pantangan dan mitos melaut sebagai bagian dari realitas sosial dan keagamaan; (2) eksistensi hukum adat laut yang mengatur pemanfaatan sumber daya pesisir; (3) peran pranata sosial lokal sebagai pedoman dalam aktivitas melaut; dan (4) status keberlanjutan perikanan tangkap yang menunjukkan empat dari lima dimensi keberlanjutan berada dalam kategori berkelanjutan, kecuali dimensi teknologi. studi ini menegaskan bahwa keberhasilan penerapan konsep ekonomi biru bergantung pada sinergi antara konservasi lingkungan, inovasi teknologi, kebijakan pemberdayaan masyarakat, serta pelibatan aktif komunitas lokal dalam seluruh tahapan pembangunan. temuan ini memberikan rekomendasi agar kearifan lokal dijadikan sebagai dasar hukum yang disosialisasikan dan diimplement
Electronic Theses and Dissertation
Universitas Syiah Kuala
DISSERTATION
KEARIFAN LOKAL DALAM PENGELOLAAN SUMBERDAYA PESISIR BERKELANJUTAN SEBAGAI PENGHELA EKONOMI BIRUDI KOTA BANDA ACEH. Banda Aceh Fakultas Pasca Sarjana,2026
Baca Juga : STUDI PENGELOLAAN DAN POTENSI WILAYAH PESISIR KECAMATAN MUARA BATU ACEH UTARA. (Teuku Maulana Rizky, 2026)
Abstract
The sustainable management of natural resources based on local wisdom is afundamental pillar of national development, particularly in promoting the blue economy. This study aims to explain the rationale behind sustainable management rooted in local wisdom as a driver of the blue economy. Using a mixed-method approach, the research was conducted through case studies, interviews, and surveys involving 74 randomly selected respondents. The findings reveal four main conditions underpinning sustainable management: (1) the existence of maritime taboos and myths integrated into social and religious realities; (2) the applicationof traditional maritime law governing the utilization of coastal resources; (3) the role of local social institutions as guidelines for fishing activities; and (4) the sustainability status of capture fisheries, where four out of five sustainability dimensions are maintained, except for the technological dimension, which remains less sustainable. The study emphasizes that the success of blue economy implementation depends on the synergy between coastal and marine conservation, technological innovation, community empowerment policies, and the active involvement of local communities throughout all stages of development. These findings recommend that local wisdom should be institutionalized into legal frameworks and widely promoted to support sustainable coastal resource management
Baca Juga : PERAN PANGLIMA LAOT DALAM MEWUJUDKAN KEBERLANJUTAN PERIKANAN BERBASIS KEARIFAN LOKAL DI IDI RAYEUK, ACEH TIMUR (Nurul Hidayati, 2023)