Tanaman cabai adalah salah satu komoditas hortikultura yang banyak dibutuhkan dalam kehidupan sehari-hari. tanaman ini juga bernilai ekonomi yang tinggi dan dapat menyebabkan inflasi negara. peningkatan produksi tanaman cabai tidak terlepas dari kendala yang sering dihadapi yaitu adanya gangguan hama tanaman, salah satunya yaitu lalat buah. lalat buah (diptera: tephritidae) merupakan salah satu hama penting yang menyerang pada tanaman cabai. tingkat populasi lalat buah dapat dipengaruhi oleh faktor lingkungan seperti suhu, intensitas cahaya, kelembapan, musuh alami, tanaman inang, angin, serta ketinggian suatu wilayah. tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui keanekaragaman lalat buah pada tanaman cabai yang ditanam dengan ketinggian tempat yang berbeda. penelitian ini dilaksanakan di desa suka mulia dan desa suka damai, kecamatan lembah seulawah, kabupaten aceh besar. identifikasi lalat buah dilakukan di laboratorium ilmu hama tumbuhan jurusan proteksi tanaman, fakultas pertanian, universitas syiah kuala. penelitian berlangsung sejak juli sampai agustus 2025. pengambilan sampel lalat buah pada setiap lokasi dilakukan dengan metode diagonal yaitu dengan menetapkan 5 titik pemasangan perangkap lalat buah dengan jarak antar perangkap ±20 m. pengambilan sampel lalat buah dilakukan sebanyak 9 kali, dengan interval waktu 2 hari. peubah yang diamati meliputi identifikasi spesies lalat buah, kelimpahan individu lalat buah, kekayaan spesies lalat buah, indeks keanekaragaman (h’), indeks kemerataan (e), indeks dominansi (d), dan indeks kemiripan komunitas (is) spesies lalat buah. data penelitian yang meliputi kelimpahan individu, kekayaan spesies, indeks keanekaragaman, indeks kemerataan, dan indeks dominansi spesies lalat buah antar ketinggian tempat berbeda dianalisis dengan uji f (anova), data yang menunjukkan perbedaan yang nyata pada uji f dilanjutkan dengan uji bnt pada taraf 0,05. hasil penelitian menunjukkan bahwa, kelimpahan individu lalat buah yang diperoleh pada tiga ketinggian tempat berbeda totalnya 627 individu, pada ketinggian tempat berbeda berpengaruh sangat nyata terhadap tingkat kelimpahan individu lalat buah, dimana pada ketinggian 400–500 mdpl (30,556) berbeda nyata dengan ketinggian 501–600 mdpl (23,333) dan 601–700 mdpl (15,778). spesies lalat buah yang ditemukan yaitu ada lima, diantara b. dorsalis, b. carambolae, b. fuscitibia, b. umbrosa, dan b. occipitalis. ketinggian tempat berbeda berpengaruh nyata terhadap tingkat kekayaan spesies lalat buah, dimana pada ketinggian 400–500 mdpl (3,667) berbeda nyata dengan ketinggian 501–600 mdpl (2,889) dan 601–700 mdpl (2,333). ketinggian tempat berbeda berpengaruh nyata terhadap indeks keanekaragaman spesies lalat buah, dimana pada ketinggian 400–500 mdpl (0,822) berbeda nyata dengan ketinggian 601–700 mdpl (0,602), tetapi tidak berbeda nyata dengan ketinggian 501–600 mdpl (0,723), tergolong dalam kriteria rendah (< 1). ketinggian tempat berbeda tidak berpengaruh nyata terhadap indeks kemerataan spesies lalat buah, tergolong dalam kriteria tinggi (> 0,6). ketinggian tempat berbeda tidak berpengaruh nyata terhadap indeks dominansi spesies lalat buah, tergolong dalam kriteria sedang (> 0,5). nilai indeks similaritas yang membandingkan setiap lokasi penelitian dengan ketinggian tempat berbeda tergolong dalam kriteria sangat tinggi yaitu 0,89 sampai 1,00 (mutlak).
Electronic Theses and Dissertation
Universitas Syiah Kuala
SKRIPSI
KEANEKARAGAMAN LALAT BUAH (DIPTERA: TEPHRITIDAE) PADA TANAMAN CABAI (CAPSICUM ANNUM L.) YANG DITANAM DENGAN KETINGGIAN TEMPAT BERBEDA DI KECAMATAN LEMBAH SEULAWAH KABUPATEN ACEH BESAR. Banda Aceh Fakultas Pertanian,2025
Baca Juga : KAJIAN KEKAYAAN JENIS DAN DISTRIBUSI SPASIAL LALAT BUAH (DIPTERA: TEPHRITIDEA) PADA TANAMAN INANG DI KOTA BANDA ACEH (Cut Januarita, 2019)
Abstract
Chili pepper is one of the horticultural commodities that is widely needed in daily life. This crop also has high economic value and can contribute to national inflation. Increasing chili production is often constrained by pest attacks, one of which is fruit flies. Fruit flies (Diptera: Tephritidae) are among the major pests that attack chili plants. Fruit fly population levels can be influenced by environmental factors such as temperature, light intensity, humidity, natural enemies, host plants, wind, and altitude. This study aimed to determine the diversity of fruit flies on chili plants cultivated at different altitudes. This research was conducted in Suka Mulia Village and Suka Damai Village, Lembah Seulawah District, Aceh Besar Regency. Fruit fly identification was carried out at the Plant Pest Science Laboratory, Department of Plant Protection, Faculty of Agriculture, Syiah Kuala University. The study was conducted from July to August 2025. Fruit fly sampling at each location was performed using a diagonal method by establishing five trap points with a distance of approximately ±20 m between traps. Sampling was carried out nine times at two-day intervals. The observed variables included fruit fly species identification, individual abundance, species richness, diversity index (H’), evenness index (E), dominance index (D), and community similarity index (IS). Data on individual abundance, species richness, diversity index, evenness index, and dominance index among different altitudes were analyzed using the F-test (ANOVA). Variables showing significant differences in the F-test were further analyzed using the Least Significant Difference (LSD) test at the 0.05 level. The results showed that the total number of fruit fly individuals collected across the three different altitudes was 627 individuals. Altitude had a highly significant effect on fruit fly individual abundance, where the altitude of 400–500 m above sea level (30.556) was significantly different from 501–600 m above sea level (23.333) and 601–700 m above sea level (15.778). Five fruit fly species were identified, namely B. dorsalis, B. carambolae, B. fuscitibia, B. umbrosa, and B. occipitalis. Altitude significantly affected fruit fly species richness, where 400–500 m above sea level (3.667) differed significantly from 501–600 m above sea level (2.889) and 601–700 m above sea level (2.333). Altitude also significantly affected the fruit fly diversity index, where 400–500 m above sea level (0.822) differed significantly from 601–700 m above sea level (0.602), but was not significantly different from 501–600 m above sea level (0.723), all of which fell into the low diversity category (< 1). Altitude did not have a significant effect on the evenness index, which was classified as high (> 0.6), nor on the dominance index, which was classified as moderate (> 0.5). The similarity index values comparing each research location at different altitudes were classified as very high, ranging from 0.89 to 1.00 (identical).