Penyakit kardiovaskular merupakan penyebab kematian nomor satu di dunia. di indonesia, sindroma koroner akut (ska) menyumbang proporsi tertinggi dalam penyakit kardiovaskular, yaitu sebesar 80% dari total kematian akibat penyakit ini. mengingat besarnya beban ska, identifikasi faktor risiko menjadi sangat penting. berdasarkan penelitian sebelumnya, obesitas diperkirakan akan menjadi faktor risiko yang berkembang paling pesat. namun, penelitian mengenai hubungan obesitas dengan kejadian ska yang menggunakan desain case-control masih sangat terbatas dan umumnya hanya berfokus pada satu indikator, yaitu indeks massa tubuh (imt). penelitian ini bertujuan untuk menggambarkan hubungan antara obesitas dan kejadian ska berdasarkan beberapa indikator antropometri, yaitu imt, lingkar pinggang/waist circumference (wc), rasio lingkar pinggang-pinggul/waist-hip ratio (whr), dan rasio lingkar pinggang-tinggi badan/waist to height ratio (whtr), serta mengukur kekuatan hubungan tersebut dengan odds ratio. penelitian ini menggunakan rancangan analitik observasional dengan pendekatan case-control. data penelitian diperoleh melalui pengukuran antropometri pada 48 orang populasi kasus dan kontrol di ruang rawat raudhah 1 serta poliklinik mata, tht, dan kulit rsudza banda aceh. hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat hubungan bermakna antara obesitas dan kejadian sindrom koroner akut (ska) berdasarkan seluruh indikator obesitas yang diuji. obesitas berdasarkan imt berhubungan signifikan dengan ska (p = 0,002; or 5,16; 95% ci = 1,73-15,43), wc juga menunjukkan hubungan bermakna (p < 0,001; or 7,0; 95% ci = 2,51-19,50), begitu pula dengan whr (p = 0,002; or 3,71; 95% ci = 1,59-8,67) dan whtr (p = 0,024; or 2,55; 95% ci = 1,12-5,82). dengan demikian, obesitas berperan signifikan terhadap kejadian ska, dengan lingkar pinggang sebagai indikator yang memiliki asosiasi terkuat.
Electronic Theses and Dissertation
Universitas Syiah Kuala
SKRIPSI
HUBUNGAN OBESITAS DENGAN KEJADIAN SINDROMA KORONER AKUT DI RSUDZA BANDA ACEH. Banda Aceh Fakultas Kedokteran,2025
Baca Juga : HUBUNGAN PENINGKATAN KADAR GULA DARAH DENGAN WAKTU TERJADINYA SINDROM KORONER AKUT DI BLUD RSUD DR.ZAINOEL ABIDIN BANDA ACEH (Teuku Mirza, 2014)
Abstract
coronary syndrome (ACS) accounts for the highest proportion of cardiovascular diseases, representing 80% of total deaths caused by these conditions. Considering the significant burden of ACS, identifying its risk factors is crucial. Previous studies have suggested that obesity is one of the fastest-growing risk factors. However, research investigating the relationship between obesity and ACS using a case-control design remains limited and generally focuses only on one indicator, namely body mass index (BMI). This study aims to describe the relationship between obesity and ACS based on several anthropometric indicators, BMI, waist circumference (WC), waist-hip ratio (WHR), and waist-to-height ratio (WHtR), and to measure the strength of these associations using odds ratios. This research employed an analytical observational design with a case-control approach. Data were collected through anthropometric measurements of 48 case and control subjects in the Raudhah 1 inpatient ward and the Eye, ENT, and Dermatology outpatient clinics at Dr. Zainoel Abidin Hospital, Banda Aceh. The results showed a significant association between obesity and the incidence of ACS across all examined indicators. Obesity based on BMI was significantly associated with ACS (p = 0.002; OR = 5.16; 95% CI = 1.73–15.43), as were WC (p < 0,001; OR 7,0; 95% CI = 2,51-19,50), WHR (p = 0.002; OR = 3.71; 95% CI = 1.59–8.67), and WHtR (p = 0.024; OR = 2.55; 95% CI = 1.12–5.82). In conclusion, obesity plays a significant role in the incidence of ACS, with BMI showing the strongest association among all indicators.