Penggunaan antibiotik yang tidak rasional pada anak dapat menurunkan efektivitas terapi, meningkatkan risiko resistensi bakteri, serta menimbulkan efek samping yang tidak diinginkan. puskesmas sebagai fasilitas pelayanan kesehatan tingkat pertama memiliki peran penting dalam memastikan penggunaan antibiotik yang sesuai dengan pedoman terapi. penelitian bertujuan untuk mengevaluasi kesesuaian penggunaan antibiotik pada pasien anak di puskesmas kuta alam banda aceh tahun 2024 berdasarkan jenis antibiotik, dosis, interval waktu, durasi pemberian, potensi interaksi obat, dan indikasi penyakit. metode penelitian yang digunakan adalah observasional deskriptif dengan pendekatan retrospektif menggunakan data sekunder dari rekam medis dan resep pasien anak di puskesmas kuta alam periode januari–desember 2024. dari total 3.126 kunjungan pasien anak, terdapat 322 anak menerima resep antibiotik, dan 197 di antaranya memenuhi kriteria inklusi dan eksklusi penelitian. mayoritas pasien berusia 5-10 tahun (35%) dan berjenis kelamin perempuan (51,3%). diagnosis terbanyak adalah ispa (58,4%). antibiotik yang paling sering diresepkan ialah amoksisilin (82,2%). berdasarkan evaluasi kesesuaian, didapatkan ketidaktepatan dosis sebanyak terdapat ketidaktepatan dosis pada 30 resep (15,2%), ketidaktepatan interval waktu pada 16 resep (8,1%), ketidaktepatan durasi 21 resep (10,7%), dan ketidaktepatan indikasi 1 resep (0,5%), dan tidak ditemukan potensi interaksi obat yang bermakna. penggunaan antibiotik pada anak di puskesmas kuta alam secara umum sudah sesuai dengan pedoman terapi, meskipun masih terdapat ketidaktepatan dalam dosis, interval, dan durasi pada sebagian resep. diperlukan peningkatan ketelitian dalam penulisan resep dan kelengkapan data rekam medis untuk mendukung penggunaan antibiotik yang lebih rasional. kata kunci: antibiotik, anak, kesesuaian penggunaan, puskesmas, rasionalitas
Electronic Theses and Dissertation
Universitas Syiah Kuala
SKRIPSI
EVALUASI KESESUAIAN PENGGUNAAN ANTIBIOTIK PADA ANAK DI PUSKESMAS KUTA ALAM. Banda Aceh Fakultas Kedokteran,2025
Baca Juga : EVALUASI RASIONALITAS PENGGUNAAN ANTIBIOTIK DI RUANG RAWAT INAP ANAK RUMAH SAKIT UMUM DAERAH DR. ZAINOEL ABIDIN DENGAN KATEGORI GYSSENS TAHUN 2018 (RISQULLAH, 2019)
Abstract
Irrational antibiotic use in children diminishes treatment efficacy, increases bacterial resistance risk, and causes adverse effects. As primary healthcare providers, community health centers are vital for ensuring antibiotic use complies with therapeutic guidelines. This study evaluated the appropriateness of antibiotic use in pediatric patients at the Kuta Alam Health Center, Banda Aceh, in 2024, based on antibiotic type, dosage, timing, duration, potential interactions, and indication. A retrospective, descriptive observational method was employed using secondary data from medical records and prescriptions for pediatric patients from January to December 2024. From 3,126 pediatric visits, 322 children received antibiotic prescriptions, with 197 meeting the inclusion criteria. Most patients were aged 5-10 years (35%) and female (51.3%). The most common diagnosis was Acute Respiratory Infection (ARI) (58.4%). Amoxicillin was the most frequently prescribed antibiotic (82.2%). The evaluation revealed inaccuracies in dosage for 30 prescriptions (15.2%), time interval for 16 prescriptions (8.1%), duration for 21 prescriptions (10.7%), and indication for 1 prescription (0.5%). No significant potential for drug interactions was found. No significant drug interactions were identified. Overall, antibiotic use in children at this facility was generally aligned with guidelines, despite some discrepancies in dosage, interval, and duration. Greater precision in prescription writing and improved completeness of medical records are essential to promoting more rational antibiotic use. Keywords: Antibiotics, Children, Appropriateness of Use, Community Health Center, Rationality.
Baca Juga : LUARAN KLINIS DAN RASIONALITAS PENGGUNAAN ANTIBIOTIK EMPIRIS PADA PASIEN PNEUMONIA ANAK DI RSUD DR. ZAINOEL ABIDIN (Elisa Purwa Endah, 2023)