Salah satu penyakit pada temak sapi yang sangat merugikan terhadap perkembangan temak adalah infestasi parasit nematoda. kerugian utama akibat parasit nematoda adalah kekurusan, terhambatnya pertumbuhan, turunnya daya tahan tubuh terhadap penyakit lain dan gangguan metabolisme serta memperlambat proses produksi. untuk menunjang pemenuhan produk panen asal hewan tidak terlepas dari manajemen peternakan, baik ta.tanan pemeliharaan maupun penanganan kesehatan sehingga bisa menentukan peningkatan hasil temak dan mencapai target produksi. di indonesia kerugian karena infeksi parasit nematoda pencemaan mencapai 4 milyar rupiah per tahun. dari basil penelitian dan survei beberapa lokasi petemakan menunjukkan bahwa 80% ternak sapi dan kerbau, kambing, domba mengalami beberapa jenis penyakit yaitu cacing gelang (toxocara sp, neoascaris vitulorum sp), cacing lambung (haemonchus sp, trichostrongylus sp, ostertagia sp, oesophagostomum sp, dan bunostomum sp, capillaria sp) serta beberapa jenis cacing lain. faktor utama peningkatan penyebaran dan tingginya infestasi nematoda gastrointestinal pada temak sapi disebabkan oleh berbagai faktor yaitu topografi daerah, letak geografisnya, kondisi lingkungan yang jelek, iklim yang tidak cocok, perbedaan umur, populasi yang tidak sesuai dan penanganan kesehatan yang tidak tepat serta tingkat pengetahuan pemilik temak yang rendah. penelitian ini bertujuan mengkaji tentang parasit nematoda gastrointestinal pada sapi berdasarkan perbedaan topografi, umur, jenis kelamin dan aspek pengetahuan (knowledge), sikap (attitude) dan tindakan (practice) atau disingkat kap responden terhadap penyakit cacing di dataran tinggi dan dataran rendah aceh. sebanyak 150 sampel feses sapi dibagi dalam 3 kelompok umur yaitu 0-6 bulan, 7-12 bulan dan >12 bulan. untuk melihat perbedaan prevalensi antar lokasi, kelompok umur dan jenis kelamin akan di analisis dengan menggunakan uji chi• kwadrat. derajat infestasi telur per gram tinja (tpgt) antar lokasi, kelompok umur dan jenis kelamin dianalisis dengan uji t-test. sedangkan perbedaan persepsi peternak terhadap penyakit cacing pada sapi akan di analisis dengan analisa deskriptif. hasil penelitian menunjukkan bahwa prevalensi parasit nematoda gastrointestinal pada sapi di dataran tinggi lebih rendah yaitu 22% berbanding dataran rendah sebesar 66,7%. telur cacing yang didapat umumnya jenis strongyl, setelah dianalisis dengan chi-kwadrat memperlihatkan perbedaan nyata (p 12 bulan sebanyak 12%, cenderung memiliki prevalensi yang lebih tinggi pada umur 0-6 bulan. setelah di uji chi-kwadrat menunjukkan perbedaan nyata(p12 bulan sebesar 78%. dari analisis uji chi-kuadrat menunjukkan beda nyata (p0,05). sedangkan dataran rendah ,;, untuk jenis kelamin jantan ialah 67,8% dan untuk jenis kelamin betina ialah 65,9%, juga terlihat tidak ada beda nyata (p>0,05). prevalensi untuk: kelompok umur di dataran tinggi terlihat kelompok umur 0-6 bulan jantan 20% clan betina 37,1%, untuk umur 7-12 bulan jantan 10% dan betina 25%, sedangkan umur > 12 bulan jantan 12,2% clan betina 11,9%, terlihat pada kelompok umur 0-6 bulan dan 7-12 bulan dari basil uji chi-kwadrat ada beda nyata (p12 bulan yang terlihat tidak beda nyata (p>0,05) antara kelompok jantan clan kelompok betina. prevalensi di dataran rendah untulc umur 0-6 bulan adalah jantan 63,1% dan betina 54,2%,untuk umur 7-12 bulanjantan 65% clan betina 66,5%, umur >12 bulan jantan 76,4% dan betina 75,7%, dari basil uji cbi-kwadrat terlihat tidak beda nyata (p>0,05) antar jenis kelamin di kawasan ini. derajat infestasi telur per gram tinja (tpgt) nematoda berdasarkan iokasi dataran tinggi dan dataran rendah. telur per gram tinja (tpgt) parasit nematoda gastrointestinal di dataran tinggi dari 33 ekor sapi yang terinfeksi terdapat telur sejumlah 13.731 butir (rata-rata 416 telur) dan dataran rendah dari 100 ekor yang terinfeksi telurnya ada sejumlah 82.165 butir (rata-rata 821 butir telur). hasil analisis uji t ada beda nyata (p 12 bulan ada 6 ekor yang terinfeksi dengan jumlah telur 2.000 butir (rata-rata 333 butir). hasil uji t umur 0-6 bulan dengan umur 7-12 bulan tidak beda nyata (p>0,05), 7-12 bulan dengan >12 bulan jugatidak beda nyata (p>0,05), umur 0-6 bulan dengan>12 bulan ada beda nyata (p 12 bulan yang terifeksi 38 ekor dengan jumlah telur adalah 33.593 butir (rata-rata 884 butir). hasil uji t antara umur 0-6 bulan dengan 7-12 bulan clan antara umur 7-12 bulan dengan >12 bulan tidak ada beda nyata (p>0,05), namun umur 0-6 bulan dengan >12 bulan terlihat beda nyata (p0,05).untuk dataran rendah tpgt dari 56 ekor sapi jantan yang diperiksa ada 38 ekor terinfeksi dengan jumlah telur 28.263 butir (rata-rata 744 butir) dan kelamin betina dari 94 ekor di periksa, ada 62 terinfeksi jumlah 53.902 butir (rata-rata 869 butir). setelah di analisis dengan uji t terlihat tidak ada perbedaan nyata (p>0,05). berdasarkan tabulasi data persepsi responden tentang penyakit cacing pada sapi untuk dataran tinggi sebesar 2,14. sedangkan dataran rendah adalah 2,11. » perbandingan score responden dataran tinggi dengan prevalensi nematoda gastrointestinal menunjukkan score 2,14 dengan prevalensi 22%. sedangkan untuk dataran rendah scorenya 2.11 sedangkan prevalensinya adalah 66%. dari hal ini dapat dijelaskan bahwa walaupun prevalensi parasit nematoda cukup tinggi sekitar 66,6% namun scorenya tidak tinggi hanya 2,11. dibandingkan dengan dataran tinggi bias dikatakan manajemen pemeliharaan dan kesehatan dataran rendah masih kurang, ini dicerminkan dari nilai prevalensi parasit nematoda tergolong tinggi yaitu 66,6% dibandingkan dengan dataran tinggi cuma 22%. dapat disimpulkan bahwa prevalensi nematoda gastrointestinal pada sapi dataran tinggi sebesar 22% dan dataran rendah sebesar 66,6%. sapi dataran tinggi umur 0-6 bulan rentan terhadap infeksi di bandingkan umur 7-12 bulan dan umur >12 bulan. sedangkan dataran rendah umur > 12 bulan lebih rentan terhadap infeksi dibandingkan umur 0- 6 bulan dan umur 7-12 bulan. prevalensi nematoda pada sapi di dataran tinggi berdasarkan jenis kelamin lebih tinggi pada kelompok betina dari pada jantan yaitu 23,9% berbanding 15%. pada dataran rendah tidak ada perbedaan nyata (p>0,05) antara jantan dengan betina yaitu 65,0% berbanding 67,8%. untuk derajat infestasi berdasarkan intensitas telur per gram tinja menunjukkan lebih rendah didataran tinggi dibanding dataran rendah.untuk dataran tinggi tpgt kelompok umur menunjukkan pedet dan umur muda lebih tinggi derajat infestasi dari sapi dewasa. sedangkan dataran rendah untuk kelompok umur pedet lebih rendah infestasinya dari sapi dewasa. untuk derajat infestasi berdasarkan jenis kelamin menunjukkan untuk dataran tinggi jenis kelamin betina iebih tinggi disbanding pada jantan, sedangkan pada dataran rendah lebih tinggi jantan dari betina.
Electronic Theses and Dissertation
Universitas Syiah Kuala
THESES
KAJIAN EPIDEMIOLOGI PARASIT NEMATODA GASTROINTESTINAL PADA SAPI DI DATARAN TINGGI DAN DATARAN RENDAH PROVINSI ACEH. Banda Aceh Program Studi Magister Kesehatan Masyarakat Veteriner,2013
Baca Juga : IDENTIFIKASI PARASIT NEMATODA GASTROINTESTINAL ORANGUTAN SUMATERA (PONGO ABELII) DI KARANTINA BATU MBELIN, SIBOLANGIT PROVINSI SUMATERA UTARA (ICHSAN TAUFIK NASUTION, 2014)
Abstract
Baca Juga : INVENTARISASI PARASIT GASTROINTESTINAL PADA BURUNG DI TAMAN RUSA KABUPATEN ACEH BESAR (Rahmah Sari, 2024)