Seruan boikot terhadap produk yang terafiliasi dengan israel menjadi isu yang banyak disuarakan di media sosial, khususnya pasca agresi israel terhadap palestina dalam beberapa tahun terakhir. penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bagaimana pedagang tradisional di banda aceh memaknai seruan boikot tersebut dengan menggunakan teori resepsi media dari stuart hall. teori ini membagi posisi pemaknaan menjadi tiga, yaitu dominant-hegemonic, negotiated, dan oppositional. penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan studi audiens bersifat deskriptif, serta teknik pengumpulan data melalui wawancara mendalam dan observasi langsung terhadap enam informan pedagang kelontong di pasar rukoh, pasar al-mahirah lamdingin, dan pasar peunayong. hasil penelitian menunjukkan bahwa tidak ada informan yang sepenuhnya menolak seruan boikot (oppositional). mayoritas informan berada pada posisi dominant-hegemonic dan negotiated, yang memperlihatkan bahwa pedagang cenderung menyetujui nilai-nilai boikot dari segi kemanusiaan dan agama, namun masih mempertimbangkan aspek ekonomi dalam praktik dagang sehari-hari. beberapa pedagang tetap menjual produk yang termasuk dalam daftar boikot karena adanya permintaan konsumen, meskipun secara pribadi mereka mendukung gerakan boikot. faktor-faktor yang memengaruhi posisi pemaknaan ini meliputi agama, kemanusiaan, ekonomi, keterbatasan informasi serta faktor lingkungan sosial. penelitian ini merekomendasikan agar komunitas, organisasi, dan pembuat konten pro-palestina mengembangkan materi edukatif yang lebih membumi dan kontekstual baik dari sisi syariat maupun pengetahuan produk guna meningkatkan kesadaran dan keberanian pedagang serta masyarakat luas dalam merespons seruan boikot dengan lebih tegas. kata kunci: boikot, media sosial, resepsi media, stuart hall, pedagang tradisional, palestina.
Electronic Theses and Dissertation
Universitas Syiah Kuala
SKRIPSI
DINAMIKA PEMAKNAAN SERUAN BOIKOT PRODUK ISRAEL DI MEDIA SOSIAL OLEH PEDAGANG TRADISIONAL DI BANDA ACEH (PERSPEKTIF TEORI RESEPSI STUART HALL). Banda Aceh Fakultas Ilmu Sosial dan Politik Ilmu Komunikasi,2025
Baca Juga : ANALISIS RESEPSI PERKATAAN TOXIC PADA CHANNEL GAME WINDAH BASUDARA (Ulul Azmi Suryady, 2023)
Abstract
The call to boycott products affiliated with Israel has become a widely discussed issue on social media, especially following Israel’s recent aggression against Palestine. This study aims to explore how traditional market traders in Banda Aceh interpret this boycott movement by employing Stuart Hall’s media reception theory. The theory divides the audience’s meaning positions into three categories: dominant-hegemonic, negotiated, and oppositional. This research applies a qualitative method with a descriptive audience study approach, using in-depth interviews and direct observations with six grocery traders from Rukoh Market, Al-Mahirah Lamdingin Market, and Peunayong Market. The findings show that none of the informants completely rejected the boycott call (oppositional). Most informants fall into the dominant-hegemonic and negotiated positions, indicating that the traders generally agree with the humanitarian and religious values underlying the boycott movement, yet they still consider economic factors in their daily business practices. Some traders continue to sell boycotted products due to consumer demand, although they personally support the boycott. Factors influencing these meaning positions include religious beliefs, humanitarian concerns, economic considerations, limited access to information, and social environmental influences. This study recommends that pro-Palestinian communities, organizations, and content creators develop more grounded and contextual educational materials both in terms of religious guidance and product knowledge to enhance the awareness and courage of traders and the wider public in responding to boycott campaigns more decisively. Keywords: Boycott, Social Media, Media Reception, Stuart Hall, Traditional Traders, Palestine.