Abstrak polarisasi politik adalah kondisi ketika masyarakat terbelah dalam sikap dan pilihan politik akibat perbedaan pandangan, kepentingan dan pengaruh sosial. fenomena ini terjadi di lingkungan dayah la tansa mugan setelah tgk. muhammad jazuli (abati) pimpinan dayah tersebut mencalonkan diri sebagai wakil bupati mendampingi mukhlis basyah (pasangan adab) dalam pilkada aceh besar tahun 2024. keterlibatan abati dalam politik praktis memicu perbedaan dukungan di antara santridan masyarakat yang sebelumnya memiliki hubungan religius yang kuat dan harmonis. penelitian ini bertujuan untuk menganalisis proses terjadinya polarisasi dukungan politik di dayah la tansa mugan serta memahami dampaknya terhadap relasi sosial keagamaan masyarakat sekitar. landasan teorinya menggunakan teori patron client james c. scott yang menjelaskan hubungan ketergantungan antara patron yang memiliki otoritas moral dan client yang memberikan loyalitas sebagai bentuk timbal balik atas perlindungan dan bimbingan spiritual. metode penelitian yang digunakan adalah kualitatif deskriptif dengan teknik pengumpulan data melalui wawancara mendalam, observasi dan dokumentasi di desa seubam cot, kecamatan montasik, kabupaten aceh besar. analisis data dilakukan secara induktif melalui reduksi data, penyajian data dan penarikan kesimpulan. hasil penelitian menunjukkan bahwa polarisasi muncul akibat pergeseran peran abati dari ulama menjadi aktor politik yang menimbulkan tiga kelompok utama: loyalis, netralis dan resisten. faktor seperti ajakan politik dalam forum keagamaan dan isu moral masa lalu memperdalam perpecahan sosial di lingkungan dayah. kesimpulannya, polarisasi di dayah la tansa mugan tidak hanya bersumber dari kontestasi elektoral tetapi juga dari pergeseran fungsi simbol keagamaan menjadi alat legitimasi politik. saran penelitian agar dayah memperkuat literasi politik dan menegakkan etika berpolitik guna menjaga independensi lembaga pendidikan islam dari kepentingan politik praktis. kata kunci: polarisasi politik, dayah, patron client, abati, pilkada aceh besar 2024.
Electronic Theses and Dissertation
Universitas Syiah Kuala
SKRIPSI
POLARISASI DUKUNGAN POLITIK DI LINGKUNGAN DAYAH LA TANSA MUGAN OLEH PASANGAN ADAB (ADUN DAN ABATI) DALAM PILKADA KABUPATEN ACEH BESAR TAHUN 2024. Banda Aceh Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik-Universitas Syiah Kuala,2025
Baca Juga : PERAN DAYAH RUHUL FATAYAT DALAM MENDORONG PARTISIPASI SANTRI ( STUDI KEMENANGAN MAWARDI ALI DAN TENGKU HUSAINI A.WAHAB PADA PILKADA SERENTAK 2017 DI KABUPATEN ACEH BESAR ) (ZAHRITA, 2018)
Abstract
ABSTRACT Political polarization is a condition in which society becomes divided in attitudes and political choices due to differences in views, interests and social influence. This phenomenon occurred within the community of Dayah La Tansa Mugan after Tgk. Muhammad Jazuli (Abati) the head of the dayah, ran as a candidate for vice regent alongside Mukhlis Basyah (the ADAB pair) in the 2024 Aceh Besar local election. Abati’s involvement in practical politics triggered differences in support among the santri and local community who had previously maintained strong and harmonious religious relations. This study aims to analyze the process of political polarization at Dayah La Tansa Mugan and to understand its impact on the socio religious relations of the surrounding community. The theoretical foundation used is James C. Scott’s Patron Client theory which explains the relationship of dependency between the patron, who holds moral authority and the clients, who provide loyalty in return for protection and spiritual guidance. The research employs a descriptive qualitative method with data collected through indepth interviews, observation and documentation in Seubam Cot Village, Montasik District, Aceh Besar Regency. Data were analyzed inductively through data reduction, data presentation and conclusion drawing. The findings reveal that polarization arose due to Abati’s role shifting from a religious scholar to a political actor, resulting in three main groups: loyalists, neutralists and resistants. Factors such as political persuasion in religious forums and moral issues from the past deepened the social division within the dayah community. In conclusion, polarization in Dayah La Tansa Mugan was not only driven by electoral contestation but also by the transformation of religious symbols into tools of political legitimacy. The study suggests that dayah institutions should strengthen political literacy and uphold ethical conduct in politics to preserve their independence from practical political interests. Keywords: political polarization, dayah, patron-client, Abati, 2024 Aceh Besar election.
Baca Juga : EKSISTENSI KEKUATAN PARTAI ACEH DALAM PEMENANGAN MUZAKIR MANAF DAN FADHLULLAH PADA PILKADA SERENTAK 2024 DI ACEH SELATAN (Sry Afriyanty, 2026)