Pinus merupakan tanaman yang dapat digunakan untuk reboisasi, karena pinus memiliki beberapa fungsi, diantaranya sebagai tanaman pelindung tanah secara ekologis, penghasil kayu, dan penghasil getah. salah satu daerah di aceh yang menjadikan hutan pinus sebagai sumber mata pencaharian bagi masyarakatnya dalam memproduksi getah, adalah kampung penosan kecamatan blang jerango kabupaten gayo lues tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh jumlah koakan terhadap hasil getah pinus (pinus merkusii) di kampung penosan, kecamatan blang jerango, kabupaten gayo lues. penelitian ini menggunakan rancangan acak kelompok (rak) non faktorial dengan empat taraf perlakuan jumlah koakan, yaitu: satu koakan (p1), dua koakan (p2), tiga koakan (p3), dan empat koakan (p4), masing-masing dengan empat ulangan, sehingga terdapat 16 pohon sebagai satuan percobaan. hasil getah dikumpulkan setiap sepuluh hari hari selama dua bulan. analisis data dilakukan dengan uji f menggunakan ibm spss statistics 26. perbedaan antar perlakuan diuji menggunakan uji duncan. hasil penelitian menunjukkan jumlah koakan memberikan pengaruh nyata terhadap panen kedua dan ketiga, namun tidak nyata terhadap hasil getah pada panen pertama dan panen keempat. perlakuan satu koakan (p1) merupakan perlakuan terbaik yang menghasilkan volume getah tertinggi. hasil ini juga menunjukkan bahwa peningkatan jumlah koakan tidak selalu diikuti oleh peningkatan hasil getah temuan ini dapat menjadi bahan pertimbangan dalam menetapkan teknik penyadapan yang efektif dan ramah terhadap kondisi fisiologis pohon pinus di lapangan.
Electronic Theses and Dissertation
Universitas Syiah Kuala
SKRIPSI
PENGARUH JUMLAH KOAKAN TERHADAP HASIL GETAH PINUS DI KAMPUNG PENOSAN KECAMATAN BLANG JERANGO KABUPATEN GAYO LUES. Banda Aceh Fakultas Pertanian,2025
Baca Juga : KARAKTERISASI FISIK GETAH PINUS DATARAN TINGGI GAYO (Aifa Zahra Nur, 2024)
Abstract
Pine trees are a suitable plant for reforestation because they serve several functions, including ecological soil protection, timber production, and resin production. One area in Aceh where pine forests provide a livelihood for its residents through resin production is Penosan Village, Blang Jerango District, Gayo Lues Regency. The purpose of this study was to determine the effect of the number of coots on the yield of pine (Pinus merkusii) resin in Penosan Village, Blang Jerango District, Gayo Lues Regency. This study used a non-factorial randomized block design (RBD) with four levels of coot number: one coot (P1), two coots (P2), three coots (P3), and four coots (P4), each with four replications, resulting in 16 trees as experimental units. Sap yields were collected every ten days for two months. Data analysis was performed using the F-test using IBM SPSS Statistics 26. Differences between treatments were tested using the Duncan test. The results showed that the number of coaxes significantly affected the second and third harvests, but not the sap yields of the first and fourth harvests. The single coax treatment (P1) was the best treatment, producing the highest sap volume. These results also indicate that increasing the number of coaxes does not always lead to increased sap yield. These findings can be used as a consideration in determining effective tapping techniques that are physiologically friendly to pine trees in the field.