Abstrak tradisi pernikahan masyarakat aceh menempatkan mahar atau jeulame sebagai simbol kehormatan, harga diri, serta bentuk tanggung jawab dari pihak laki-laki terhadap perempuan. namun, di gampong ladang tuha i, tidak terdapat aturan adat yang secara khusus mengatur nilai mahar, sehingga penetapannya lebih di pengaruhi oleh kebiasaan keluarga, status sosial, dan tingkat pendidikan calon mempelai perempuan. di sisi lain, lonjakan harga emas setiap tahun dan perbedaan kondisi ekonomi masyarakat menimbulkan dilema antara mengikuti kebiasaan keluarga, standar tidak tertulis di masyarakat, atau menyesuaikan diri dengan kondisi sosial dan ekonomi saat ini. penelitian ini bertujuan untuk menganalisis jenis tindakan sosial orang tua terhadap penetapan mahar di gampong ladang tuha i berdasarkan teori tindakan sosial max weber, yang membagi tindakan menjadi empat jenis: tindakan rasionalitas instrumental, tindakan berdasarkan nilai, tindakan afektif dan tindakan tradisional. metode penelitian yang digunakan adalah kualitatif dengan pendekatan studi kasus. data diperoleh melalui teknik wawancara mendalam, observasi, dan dokumentasi terhadap sepuluh informan, yang terdiri dari keuchik, empat orang tua, dan enam pasangan muda. hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat keberagaman tipe tindakan sosial orang tua dalam menetapkan mahar. sebagian orang tua menunjukkan tindakan rasional instrumental, misalnya orang tua menetapkan mahar dengan mempertimbangkan kondisi ekonomi keluarga. ada pula yang berlandaskan rasionalitas nilai, seperti menetapkan mahar sesuai belakang pendidikan atau nilai keagamaan. tindakan afektif terlihat pada orang tua yang menetapkan mahar rendah karena rasa kasih sayang kepada calon menantu, sedangkan tindakan tradisional muncul pada orang tua yang mengikuti kebiasaan keluarga tanpa mempertimbangkan kondisi ekonomi keluarga. kata kunci: tindakan sosial, mahar, teori max weber, kebiasaan keluarga, gampong ladang tuha i
Electronic Theses and Dissertation
Universitas Syiah Kuala
SKRIPSI
ANALISIS TINDAKAN SOSIAL ORANG TUA TERHADAP PENETAPAN MAHAR (STUDI DI GAMPONG LADANG TUHA I). Banda Aceh Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik-Universitas Syiah Kuala,2025
Baca Juga : PENETAPAN MAHAR BAGI PEREMPUAN DI DESA KAMPUNG PAYA, KECAMATAN KLUET UTARA, KABUPATEN ACEH SELATAN (RIDA ALFIDA, 2016)
Abstract
ABSTRACT Acehnese wedding traditions place the dowry or jeulame as a symbol of honor, selfrespect, and a form of responsibility from the man to the woman. However, in Gampong Ladang Tuha I, there are no customary rules that specifically regulate the value of the dowry, so its determination is more influenced by family customs, social status, and the education level of the prospective bride. On the other hand, the annual surge in gold prices and differences in community economic conditions create a dilemma between following family customs, unwritten standards in society, or adapting to current social and economic conditions. This study aims to analyze the types of social actions of parents in determining the dowry in Gampong Ladang Tuha I based on Max Weber's theory of social action, which divides actions into four types: instrumental rationality actions, value-based actions, affective actions, and traditional actions. The research method used is a qualitative case study approach. Data were obtained through in-depth interviews, observation, and documentation techniques with ten informants, consisting of the Keuchik, four parents, and six young couples. The results show that there is a diversity of types of social actions of parents in determining the dowry. Some parents exhibit instrumental rationality, for example, setting a dowry based on the family's economic situation. Others base their actions on value rationality, such as setting a dowry based on educational background or religious values. Affective behavior is seen in parents who set a low dowry out of affection for their future daughter-inlaw, while traditional behavior occurs when parents follow family customs without considering the family's economic situation. Keywords: Social Action, Dowry, Max Weber's Theory, Family Customs, Gampong Ladang Tuha I