Universitas Syiah Kuala | ELECTRONIC THESES AND DISSERTATION

Electronic Theses and Dissertation

Universitas Syiah Kuala

    SKRIPSI
MUTIA SARI, ANALISIS KESELARASAN PENGGUNAAN LAHAN TERHADAP RENCANA TATA RUANG WILAYAH (RTRW) DI KOTA SABANG MENGGUNAKAN SISTEM INFORMASI GEOGRAFIS. Banda Aceh Fakultas Pertanian,2025

Perubahan penggunaan lahan merupakan fenomena yang tidak terhindarkan seiring dengan meningkatnya kebutuhan manusia terhadap ruang, terutama di kawasan perkotaan. kota sabang, yang terletak di ujung barat indonesia dengan luas wilayah 12.214 ha, mengalami pertumbuhan penduduk cukup pesat dari 30.653 jiwa pada tahun 2010 menjadi 42.867 jiwa pada tahun 2022 dengan rata-rata pertumbuhan 3,32% per tahun. pertumbuhan ini menimbulkan tekanan terhadap lahan, yang memicu terjadinya alih fungsi dari kawasan lindung maupun pertanian menjadi permukiman, infrastruktur, dan sektor pariwisata. kondisi ini berpotensi menimbulkan ketidaksesuaian dengan rencana tata ruang wilayah (rtrw) kota sabang tahun 2012–2032, sehingga penting dilakukan analisis keselarasan penggunaan lahan untuk mendukung pengendalian pemanfaatan ruang. penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi pola penggunaan lahan tahun 2023 serta mengevaluasi tingkat keselarasan penggunaannya terhadap pola ruang berdasarkan rencana tata ruang wilayah (rtrw) kota sabang tahun 2012–2032. analisis dilakukan menggunakan citra satelit resolusi tinggi dengan pendekatan digitasi on-screen dan klasifikasi berdasarkan standar nasional indonesia (sni) 7645:2014. hasilnya menunjukkan bahwa kota sabang memiliki 17 kelas penggunaan lahan, dengan hutan lahan kering sebagai kelas dominan yang mencakup sekitar 60,03% dari total luas wilayah. keberadaan kelas-kelas lain seperti permukiman, perkebunan, dan tanaman campuran mencerminkan aktivitas sosial-ekonomi yang mulai berkembang. kesesuaian pemanfaatan ruang dianalisis melalui metode overlay antara peta penggunaan lahan dan peta pola ruang rtrw. hasilnya menunjukkan bahwa 62,81% termasuk kategori selaras, 24,79% termasuk kategori transisi, dan 12,40% termasuk kategori tidak selaras dengan peruntukan ruang. ketidakselarasan ruang di kota sabang umumnya disebabkan oleh alih fungsi lahan yang tidak sesuai peruntukan, seperti permukiman di kawasan lindung dan perkebunan di zona sempadan. untuk memastikan keakuratan hasil interpretasi, dilakukan uji akurasi yang menghasilkan nilai overall accuracy sebesar 96,55% dan kappa accuracy sebesar 96,16%, yang menunjukkan bahwa klasifikasi sangat andal secara statistik. secara keseluruhan, penelitian ini menegaskan pentingnya pendekatan spasial dalam mengevaluasi keselarasan penggunaan ruang, terutama di wilayah pesisir yang rentan terhadap tekanan lingkungan dan pembangunan. hasil analisis diharapkan dapat menjadi dasar pertimbangan dalam penyusunan strategi pengelolaan ruang yang lebih adaptif, berkelanjutan, dan berbasis data spasial, guna mendukung arah pembangunan kota sabang.



Abstract

Land use change is an inevitable phenomenon along with the increasing human need for space, especially in urban areas. Located at the western tip of Indonesia and covering an area of ​​12,214 hectares, Sabang City, experiencing rapid population growth, from 30,653 in 2010 to 42,867 in 2022, with an average annual growth rate of 3.32%. This growth puts pressure on land, triggering the conversion of protected areas and agriculture to residential, infrastructure, and tourism. This situation has the potential to create inconsistencies with the 2012–2032 Sabang City Spatial Plan (RTRW). Therefore, analyzing land use alignment is crucial to support spatial utilization control. This study aims to identify land use patterns in 2023 and evaluate the degree of alignment of these uses with spatial patterns based on the 2012–2032 Sabang City Spatial Plan (RTRW). The analysis was conducted using high-resolution satellite imagery with an on-screen digitization approach and classification based on the Indonesian National Standard (SNI) 7645:2014. The results indicate that Sabang City has 17 land use classes, with Dryland Forest as the dominant class, covering approximately 60.03% of the total area. The presence of other classes, such as settlements, plantations, and mixed crops, reflects the growing socio-economic activities. Spatial use suitability was analyzed using an overlay method between land use maps and spatial pattern maps of the RTRW (Regional Spatial Plan). The results showed that 62.81% of the land was in the harmonious category, 24.79% was in the transitional category, and 12.40% was in the inconsistent category. Spatial inconsistencies in Sabang City are generally caused by inappropriate land use conversion, such as settlements in protected areas and plantations in border zones. To ensure the accuracy of the interpretation results, an accuracy test was conducted, resulting in an overall accuracy of 96.55% and a kappa accuracy of 96.16%, indicating that the classification is statistically highly reliable. Overall, this study emphasizes the importance of a spatial approach in evaluating the harmony of spatial use, especially in coastal areas that are vulnerable to environmental and development pressures. The results of the analysis are expected to serve as a basis for consideration in developing a more adaptive, sustainable, and spatial data-based spatial management strategy to support the development direction of Sabang City.



    SERVICES DESK