Universitas Syiah Kuala | ELECTRONIC THESES AND DISSERTATION

Electronic Theses and Dissertation

Universitas Syiah Kuala

    SKRIPSI
Tarina Seulanga, PANDANGAN MASYARAKAT PIDIE TERHADAP FENOMENA TARI MEUGROB DAN ISU TRANCE. Banda Aceh Fakultas KIP Pendidikan Seni Drama, Tari dan Musik (S1),2025

Abstrak tarina seulanga (2025), pandangan masyarakat pidie terhadap fenomena tari meugrob dan isu trance. [skripsi, universitas syiah kuala]. di bawah bimbingan ramdiana, s.sn., m.sn, dan dr. ahmad syai, s.pd., m.sn penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bagaimana pandangan masyarakat gampong pulo lueng teuga, kabupaten pidie, terhadap fenomena trance dalam tari meugrob serta bagaimana masyarakat memaknai pengalaman tersebut dalam konteks budaya dan spiritualitas lokal. tari meugrob merupakan seni pertunjukan tradisional aceh yang sarat nilai religius, sosial, dan estetika, yang sering kali menimbulkan perdebatan karena adanya fenomena trance yang dialami oleh penari selama pertunjukan. metode yang digunakan adalah pendekatan kualitatif dengan analisis fenomenologi edmund husserl, melalui teknik pengumpulan data berupa observasi, wawancara mendalam, dokumentasi, dan angket. subjek penelitian meliputi tokoh adat, penari, pelaku budaya, dan masyarakat sekitar gampong pulo lueng teuga. hasil penelitian menunjukkan bahwa masyarakat secara umum tidak memandang trance sebagai kesurupan atau fenomena mistis, melainkan sebagai bentuk penghayatan spiritual yang mendalam terhadap syair, gerak, dan irama dalam pertunjukan. trance dipahami sebagai manifestasi dzikir kolektif dan euforia spiritual yang memperkuat semangat kebersamaan serta mempererat hubungan sosial masyarakat. sementara sebagian kecil masyarakat masih menilai fenomena tersebut sebagai hal yang perlu diluruskan dari sudut pandang keagamaan, namun secara keseluruhan mereka tetap menganggap tari meugrob sebagai warisan budaya yang bernilai religius dan patut dilestarikan. penelitian ini menyimpulkan bahwa fenomena trance dalam tari meugrob bukanlah gejala mistik, melainkan ekspresi kesadaran budaya dan spiritual masyarakat aceh. temuan ini diharapkan dapat menjadi bahan rujukan bagi pelestarian dan pemahaman seni tradisional aceh agar tidak tereduksi oleh pandangan mistis, melainkan dipahami sebagai warisan budaya yang memiliki kedalaman nilai spiritual dan sosial. kata kunci: tari meugrob, trance, fenomenologi, budaya aceh, pandangan masyarakat.



Abstract

ABSTRACT Tarina Seulanga (2025), Pidie Community's Views on the Meugrob Dance Phenomenon and the Trance Issue. [Thesis, Syiah Kuala University]. Under the Guidance of Ramdiana, S.Sn., M.Sn, and Dr. Ahmad Syai, S.Pd., M.Sn This study aims to determine the views of the people of Gampong Pulo Lueng Teuga, Pidie Regency, regarding the trance phenomenon in the Meugrob Dance and how they interpret this experience within the context of local culture and spirituality. Meugrob Dance is a traditional Acehnese performing art steeped in religious, social, and aesthetic values, often sparking debate due to the trance phenomena experienced by dancers during the performance. The method used was a qualitative approach with Edmund Husserl's phenomenological analysis, using data collection techniques such as observation, in-depth interviews, documentation, and questionnaires. The research subjects included traditional leaders, dancers, cultural practitioners, and the community around Gampong Pulo Lueng Teuga. The results indicate that the community generally does not view trance as possession or a mystical phenomenon, but rather as a form of deep spiritual appreciation of the poetry, movement, and rhythm of the performance. Trance is understood as a manifestation of collective dhikr (remembrance of God) and spiritual euphoria that strengthens the spirit of togetherness and strengthens social ties. While a small portion of the community still views this phenomenon as something that needs to be addressed from a religious perspective, overall, they still consider the Meugrob Dance a cultural heritage with religious value and worthy of preservation. This study concludes that the trance phenomenon in the Meugrob Dance is not a mystical phenomenon, but rather an expression of the cultural and spiritual awareness of the Acehnese people. These findings are expected to serve as a reference for the preservation and understanding of Acehnese traditional arts, ensuring that they are not reduced to mystical views but rather understood as a cultural heritage possessing deep spiritual and social values. Keywords: Meugrob Dance, trance, phenomenology, Acehnese culture, public perception.



    SERVICES DESK