Universitas Syiah Kuala | ELECTRONIC THESES AND DISSERTATION

Electronic Theses and Dissertation

Universitas Syiah Kuala

    SKRIPSI
ACHMAD REZA NUSANTARA, KARAKTERISTIK POHON TIDUR SIAMANG (SYMPHALANGUS SYNDACTYLUS, RAFFLES 1821) DI STASIUN PENELITIAN SIKUNDUR, TAMAN NASIONAL GUNUNG LEUSER. Banda Aceh Fakultas Pertanian,2025

Achmad reza nusantara. 2105110010033. karakteristik pohon tidur siamang (symphalangus syndactylus, raffles 1821) di stasiun penelitian sikundur, taman nasional gunung leuser. dibimbing oleh iqbar sebagai ketua dan durrah hayati sebagai anggota. ringkasan sebagai primata arboreal, siamang sangat bergantung pada pohon untuk mendukung berbagai aktivitas hariannya. salah satu aspek penting dalam keberlangsungan hidup siamang adalah keberadaan pohon tidur, yang berfungsi sebagai tempat beristirahat sekaligus memberikan perlindungan kepada siamang dari ancaman predator. penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi jenis pohon tidur siamang serta mengevaluasi karakteristik morfologis pohon yang dipilih oleh siamang di stasiun penelitian sikundur, taman nasional gunung leuser. observasi dilakukan terhadap dua kelompok siamang yang telah terhabituasi, yaitu siamang pair (sp) dan family group (fg), menggunakan metode eksploratif dan pencatatan langsung di lapangan. parameter yang diamati meliputi jenis pohon, tinggi bebas cabang, tinggi total, diameter batang, diameter tajuk, kerapatan dan transparansi tajuk, serta model arsitektur pohon. hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat 19 individu pohon tidur siamang yang terdiri dari 12 jenis dan 4 famili, yaitu fabaceae sebanyak 9 pohon (47.37%), dipterocarpaceae sebanyak 8 pohon (42.11%), serta masing-masing 1 pohon dari euphorbiaceae (5,26%), dan irvingiaceae (5,26%). kedua kelompok siamang menunjukkan preferensi jenis pohon tidur yang berbeda. kelompok siamang pair (sp) cenderung menggunakan pohon dari famili fabaceae, terutama spesies koompasia excelsa, sedangkan family group (fg) lebih banyak menggunakan pohon dari famili dipterocarpaceae, khususnya genus shorea dengan beragam spesies yang berbeda. pohon tidur siamang memiliki karakteristik dengan tinggi bebas cabang (tbc) berkisar antara 15–38 meter, tinggi total 20–50 meter, diameter batang 50–130 cm, diameter tajuk 8–24 meter, kerapatan tajuk 40-75%, dan transparansi tajuk 25-60%, serta model arsitektur rauh dan aubreville. kelompok fg cenderung memilih pohon dengan tinggi bebas cabang, tinggi total, dan diameter tajuk yang lebih besar dibandingkan sp, sesuai dengan kebutuhan ruang yang lebih luas untuk kelompok dengan jumlah individu lebih banyak. selain itu, konektivitas tajuk dan kedekatan sumber pakan juga memengaruhi pemilihan pohon tidur oleh siamang. temuan ini menunjukkan bahwa siamang memiliki preferensi selektif dalam memilih jenis dan karakteristik tertentu sebagai pohon tidur.



Abstract

Achmad Reza Nusantara. 2105110010033. Characteristics of Siamang ( Symphalangus syndactylus , Raffles 1821) Sleeping Trees at Sikundur Research Station, Gunung Leuser National Park. Supervised by Iqbar (chief supervisor) and Durrah Hayati (member). SUMMARY As an arboreal primate, the siamang relies heavily on trees to support its daily activities. One essential aspect of siamang survival is the availability of sleeping trees, which serve both as resting sites and as protection from predators. This study aimed to identify the tree species used as sleeping trees by siamangs and to evaluate the morphological characteristics of the selected trees at the Sikundur Research Station, Gunung Leuser National Park. Observations were conducted on two habituated siamang groups, namely the Siamang Pair (SP) and the Family Group (FG), using exploratory methods and direct field recording. The observed parameters included tree species, height to first branch, total height, trunk diameter, crown diameter, crown density, crown transparency, and tree architectural model. The results showed that 19 individual sleeping trees were used by siamangs, consisting of 12 species from 4 families: Fabaceae with 9 trees (47.37%), Dipterocarpaceae with 8 trees (42.11%), and one tree each from Euphorbiaceae (5.26%) and Irvingiaceae (5.26%). The two siamang groups exhibited different preferences for sleeping tree species. The Siamang Pair (SP) tended to select trees from the Fabaceae family, particularly Koompasia excelsa, whereas the Family Group (FG) more frequently used Dipterocarpaceae trees, especially those of the genus Shorea with multiple species. Siamang sleeping trees were characterized by a height to first branch ranging from 15–38 m, total height of 20–50 m, trunk diameter of 50–130 cm, crown diameter of 8–24 m, crown density of 40–75%, and crown transparency of 25–60%, with Rauh and Aubreville architectural models. The FG group tended to select trees with greater height to first branch, total height, and crown diameter than those chosen by SP, reflecting their need for larger space due to the greater number of individuals. In addition, crown connectivity and proximity to food sources also influenced sleeping tree selection. These findings demonstrate that siamangs show selective preferences in choosing particular tree species and morphological characteristics as sleeping trees.



    SERVICES DESK