Abstrak pilkada kota subulussalam tahun 2024 memunculkan polemik terkait persyaratan pencalonan kepala daerah, khususnya mengenai kriteria siapa yang dianggap sebagai "orang aceh". polemik ini menimbulkan perdebatan dan juga sosial, dan politik yang cukup sangat tajam, baik di kalangan masyarakat maupun elite lokal. rumusan masalah dalam penelitian ini berfokus pada bagaimana polemik tersebut muncul dan bagaimana penyelesaiannya . penelitian ini bertujuan untuk menganalisis dinamika politik lokal dalam kasus tersebut dengan menggunakan pendekatan teori elite politik gaetano mosca, yang menyatakan bahwa kekuasaan dalam segelintir elite, meskipun sangat tampak demokratis. tetapi bagian dari manuver elite dalam mempertahankan pengaruh dan dominasi politik. metode yang digunakan adalah pendekatan kualitatif deskriptif dengan teknik pengumpulan data melalui wawancara, studi pustaka, dan dokumentasi. analisis dilakukan secara mendalam terhadap narasi dan tindakan politik yang muncul selama proses pencalonan. hasil penelitian menunjukkan bahwa polemik dan juga pencalonan tidak lepas dari peran elite politik lokal yang memanfaatkan isu identitas untuk mempertahankan kekuasaan. masyarakat hanya menjadi objek dalam dinamika yang dikendalikan oleh elite yang terorganisir. temuan ini memperkuat relevansi teori gaetano mosca, bahwa dalam sistem politik, elite tetap memegang kendali meskipun prosedur demokratis dijalankan secara formal. idak dapat dilepaskan dari peran dan kepentingan elite politik lokal. temuan penelitian menunjukkan bahwa polemik ini bukan semata-mata persoalan administratif melainkan berkaitan erat dengan dinamika kekuasaan di tingkat lokal. para elite politik memanfaatkan isu identitas sebagai instrumen politik untuk mempertahankan kekuasaan, memengaruhi opini publik, dan menyusun strategi dalam upaya memenangkan kontestasi politik. kata kunci: pilkada subulussalam, elite politik
Electronic Theses and Dissertation
Universitas Syiah Kuala
SKRIPSI
ANALISIS POLEMIK PERSYARATAN CALON WALIKOTA SUBULUSSALAM 2024. Banda Aceh Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik-Universitas Syiah Kuala,2025
Baca Juga : DUKUNGAN MASYARAKAT KOTA BANDA ACEH TERHADAP CALON WALIKOTA DAN WAKIL WALIKOTA BANDA ACEH DARI PARTAI ACEH PERIODE 2012-2017 (juanda surya, 2014)
Abstract
ABSTRACT The 2024 mayoral election (Pilkada) in Subulussalam City gave rise to a controversy regarding the candidacy requirements, particularly the criteria for defining who is considered an "Acehnese person" (“orang Aceh”). This controversy triggered sharp legal, social, and political debates among both the general public and local elites. The main research problem in this study focuses on how the polemic emerged and how it was addressed. This research aims to analyze the local political dynamics in this case using Gaetano Mosca’s elite theory, which states that power is always concentrated in the hands of a small elite, even when political systems appear democratic. In this context, the controversy surrounding the candidacy is not purely legal in nature but is part of an elite maneuver to maintain influence and political dominance. The study uses a descriptive qualitative approach, with data collected through interviews, literature review, and documentation. The analysis is carried out in-depth, focusing on the narratives and political actions that developed during the nomination process. The findings reveal that the polemic and the candidacy process are inseparable from the role and interests of local political elites. The controversy is not merely an administrative issue but is closely tied to local power dynamics. Political elites strategically utilized identity issues as political instruments to maintain control, influence public opinion, and shape strategies to win electoral competition. The public, in this context, becomes an object within a political dynamic controlled by an organized elite. These findings affirm the relevance of Gaetano Mosca’s theory, which emphasizes that in political systems, elites continue to hold real power, even when democratic procedures are formally observed. Keywords: Subulussalam Election, Political Elite
Baca Juga : PARTISIPASI POLITIK MASYARAKAT DALAM PEMILUKADA WALIKOTA/WAKIL WALIKOTA SABANG TAHUN 2012-2017 (ARIEF HIDAYAT, 2014)