Paparan radiasi pengion dari peralatan sinar-x dalam prosedur radiologi diagnostik dapat menimbulkan risiko kesehatan yang serius, baik bagi tenaga medis maupun pasien. salah satu langkah penting untuk mengurangi risiko tersebut adalah dengan penggunaan alat pelindung diri (apd), seperti apron timbal, yang berfungsi melindungi organ kritis dari paparan radiasi. penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi kelayakan apron timbal sebagai alat pelindung radiasi yang digunakan di instalasi radiologi rumah sakit tipe b banda aceh. tiga apron diuji menggunakan metode radiografi, terdiri dari dua apron yang telah digunakan di rumah sakit dan satu apron baru dari laboratorium sebagai kontrol. pemeriksaan dilakukan dengan pesawat sinar-x pada tegangan 75 kv dan arus 100 mas. analisis citra radiografi dilakukan menggunakan perangkat lunak radiant dicom viewer untuk mengukur dan mengidentifikasi adanya retakan, lipatan, atau deformasi lainnya. hasil penelitian menunjukkan bahwa salah satu apron mengalami retakan seluas 47,3 mm² pada area kritis, yang melebihi batas maksimum 15 mm² sesuai standar bapeten, sehingga dinyatakan tidak layak pakai. sementara dua apron lainnya masih dalam kondisi layak meskipun terdapat deformasi ringan. penelitian ini menegaskan pentingnya inspeksi berkala terhadap apron timbal guna memastikan efektivitas perlindungan radiasi serta menjamin keselamatan kerja di lingkungan radiologi. kata kunci: apron timbal, radiografi, proteksi radiasi, sinar-x, studi kelayakan, standar bapeten.
Electronic Theses and Dissertation
Universitas Syiah Kuala
SKRIPSI
STUDI KELAYAKAN APRON TIMBAL SEBAGAI ALAT PELINDUNG RADIASI MENGGUNAKAN METODE RADIOGRAFI. Banda Aceh Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahua,2025
Baca Juga : ANALISIS PENAHAN RADIASI PESAWAT SINAR–X RUANG RADIOGRAFI UMUM SEBAGAI UPAYA PROTEKSI RADIASI DI RSUD DR. ZAINOEL ABIDIN BANDA ACEH (Muliana Z, 2024)
Abstract
Ionizing radiation exposure from X-ray equipment during diagnostic radiological procedures poses significant health risks to both medical personnel and patients. To mitigate these risks, personal protective equipment (PPE), particularly lead aprons, is essential in reducing radiation dose to kritis organs. This study aims to assess the feasibility and integrity of lead aprons used in the Radiology Department of a Type B Hospital in Banda Aceh. The research was conducted using radiographic testing on three lead aprons: two aprons currently in clinical use and one new apron from a laboratory as a control. The radiographic examination was carried out using an Xray machine with exposure parameters of 75 kV and 100 mAs. Damage analysis was performed using Radiant DICOM Viewer software, focusing on identifying cracks, folds, or other structural deformations. Results showed that one of the aprons exhibited a crack measuring 47.3 mm² in a critical area, exceeding the maximum allowable limit of 15 mm² as regulated by BAPETEN, thus rendering it unfit for continued use. The remaining aprons presented minor physical deformations but remained within acceptable safety thresholds. This study underscores the necessity for regular quality assurance inspections of radiation shielding garments to maintain safety standards and protect individuals from unnecessary radiation exposure in clinical environments. Keywords: lead apron, radiography, radiation protection, X-ray, feasibility study, BAPETEN standard
Baca Juga : PENGARUH PAPARAN RADIASI SINAR-X TERHADAP KUALITAS SPERMATOZOA PADA MENCIT (MUS MUSCULUS L.) (Rizki Miranda, 2020)