Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi tingkat penerapan good manufacturing practices (gmp) di dapur pesantren babul maghfirah, aceh besar. gmp merupakan pedoman penting dalam menjamin mutu dan keamanan pangan yang mencakup seluruh proses produksi. metode yang digunakan adalah gap analysis dengan membandingkan kondisi aktual di lapangan terhadap standar yang ditetapkan oleh kepala bpom ri no. hk.02.02.1.2.01.22.63 tahun 2022. temuan dianalisis menggunakan sistem pembobotan berdasarkan tingkat ketidaksesuaian: minor, mayor, dan kritis. hasil penelitian menunjukkan bahwa dari 70 poin evaluasi, sebanyak 31 poin (42,86%) dinyatakan sesuai, 30 poin (44,29%) tidak sesuai, dan 8 poin tidak berlaku. total skor ketidaksesuaian adalah 49, yang mengklasifikasikan dapur pada kategori rating c (kurang). ketidaksesuaian mayor mencakup kurangnya program sanitasi tertulis, kondisi bangunan yang tidak memadai, serta fasilitas kebersihan karyawan yang belum memenuhi standar. dapat disimpulkan bahwa penerapan gmp di dapur pesantren belum optimal. rekomendasi mencakup perbaikan fasilitas, penyusunan dokumentasi sanitasi, dan pelatihan staf untuk meningkatkan mutu serta keamanan pangan di lingkungan pesantren.
Electronic Theses and Dissertation
Universitas Syiah Kuala
SKRIPSI
PENILAIAN PENERAPAN GOOD MANUFACTURING PRACTICES (GMP) DI DAPUR PESANTREN BABUL MAGHFIRAH ACEH BESAR. Banda Aceh Fakultas Pertanian Universitas Syiah Kuala,2025
Baca Juga : ANALISIS PEMBIAYAAN SEKOLAH UNTUK MENINGKATKAN MUTU PENDIDIKAN DI SMP DAN SMA BABUL MAGHFIRAH ACEH BESAR (Muhammad Irfan, 2024)
Abstract
This study aims to evaluate the implementation of Good Manufacturing Practices (GMP) in the kitchen of Babul Maghfirah Islamic Boarding School, Aceh Besar. GMP is a critical guideline to ensure food quality and safety throughout the production process. The research method used was gap analysis, comparing the actual field conditions against the standards set by the Indonesian National Agency of Drug and Food Control (BPOM) Regulation No. HK.02.02.1.2.01.22.63 of 2022. The findings were assessed using a scoring system based on the severity of non-conformities: minor, major, and critical. The results showed that out of 70 evaluation points, 31 points (42.86%) were compliant, 30 points (44.29%) were non-compliant, and 8 points were deemed not applicable. The total non-compliance score reached 49, placing the kitchen in category C (Poor). Major non-conformities included the absence of a documented sanitation program, inadequate building conditions, and substandard employee hygiene facilities. It can be concluded that the GMP implementation in the pesantren kitchen is not yet optimal. Recommendations include infrastructure improvements, development of sanitation documentation, and staff training to enhance food safety and quality.
Baca Juga : PERSEPSI SANTRI SMA PADA PESANTREN TERPADU BABUL MAGHFIRAH ACEH BESAR TERHADAP FILM DOKUMENTER MESJID RAYA BAITURRAHMAN BANDA ACEH (Azwar Rahman, 2020)