Sapi aceh merupakan salah satu plasma nutfah ternak lokal yang memiliki potensi tinggi dalam mendukung ketahanan pangan dan perekonomian masyarakat, khususnya di wilayah provinsi aceh. namun, dalam pengembangannya, masih terdapat kendala teknis yang menghambat optimalisasi produktivitas ternak, terutama di tingkat peternakan rakyat. penelitian ini bertujuan untuk menganalisis tingkat penerapan aspek teknis pemeliharaan sapi aceh oleh peternak di kecamatan tamiang hulu, kabupaten aceh tamiang, dengan mengacu pada standar yang ditetapkan oleh direktorat jenderal peternakan (1992), yang mencakup lima aspek utama yaitu, pemuliaan dan reproduksi, pakan, tatalaksana pemeliharaan, kesehatan, serta kandang dan perlengkapannya. metode penelitian yang digunakan adalah survei deskriptif dengan pendekatan kuantitatif. sampel penelitian terdiri atas empat puluh delapan peternak yang dipilih menggunakan rumus slovin dari populasi peternak di tiga desa, yaitu rongoh, bandar khalifah, dan alur tani dua. data dikumpulkan melalui wawancara langsung menggunakan kuesioner terstruktur serta observasi lapangan, kemudian dianalisis secara deskriptif kuantitatif untuk mengukur skor dan persentase penerapan setiap aspek teknis. hasil penelitian menunjukkan bahwa secara umum penerapan aspek teknis sistem pemeliharaan sapi aceh oleh peternak di kecamatan tamiang hulu masih tergolong rendah, dengan rata-rata persentase keseluruhan sebesar 44,9% dari standar ideal. aspek teknis yang paling tinggi penerapannya adalah aspek kandang dan perlengkapan 81,91%, diikuti oleh aspek kesehatan ternak 69,60%. sementara itu, aspek pakan memperoleh skor terendah dengan persentase 20,12%, yang mencerminkan minimnya pemberian pakan tambahan, kurangnya variasi jenis pakan, serta ketiadaan sistem pengawetan pakan dan suplementasi mineral. selain itu, aspek pemuliaan dan reproduksi serta tatalaksana pemeliharaan juga belum diimplementasikan secara optimal, ditunjukkan oleh rendahnya pencatatan reproduksi, pemilihan pejantan yang tidak selektif, serta manajemen pemeliharaan yang masih bersifat tradisional dan ekstensif. faktor-faktor yang mempengaruhi rendahnya tingkat penerapan antara lain adalah keterbatasan pengetahuan teknis peternak, minimnya kegiatan penyuluhan dan pelatihan oleh instansi terkait, rendahnya akses terhadap sumber daya pakan berkualitas, serta kondisi infrastruktur peternakan yang belum memadai. temuan ini menunjukkan adanya kesenjangan antara pedoman teknis yang ditetapkan pemerintah dan praktik aktual di lapangan. oleh karena itu, dibutuhkan intervensi strategis dari pihak pemerintah maupun lembaga pendidikan untuk mendorong peningkatan kapasitas peternak melalui pelatihan, pendampingan teknis, dan penyediaan sarana prasarana yang mendukung pemeliharaan ternak yang lebih efektif, efisien, dan berkelanjutan.
Electronic Theses and Dissertation
Universitas Syiah Kuala
SKRIPSI
ASPEK TEKNIS SISTEM PEMELIHARAAN SAPI ACEH DI KECAMATAN TAMIANG HULU KABUPATEN ACEH TAMIANG PROVINSI ACEH. Banda Aceh Fakultas Pertanian,2025
Baca Juga : PERFORMANS REPRODUKSI SAPI ACEH BETINA SEBAGAI SUMBER DAYA GENETIK TERNAK LOKAL DI KECAMATAN TAMIANG HULU KABUPATEN ACEH TAMIANG PROVINSI ACEH (Zurqa, 2025)
Abstract
Aceh cattle are one of Indonesia’s local livestock genetic resources (plasma nutfah) with high potential to support food security and improve community livelihoods, particularly in the Aceh Province. However, the development of this breed still faces several technical challenges that hinder the optimization of livestock productivity, especially at the smallholder farming level. This study aims to analyze the level of implementation of technical aspects in Aceh cattle management by farmers in Tamiang Hulu Subdistrict, Aceh Tamiang Regency, based on the standards established by the Directorate General of Livestock Services (1992). These standards cover five key aspects: breeding and reproduction, feeding, management practices, animal health, and housing and facilities. The research employed a descriptive survey method with a quantitative approach. The sample consisted of 48 farmers selected using Slovin’s formula from the population of cattle farmers in three villages: Rongoh, Bandar Khalifah, and Alur Tani Dua. Data were collected through structured questionnaires and direct field observations, then analyzed using descriptive quantitative methods to assess the scores and percentages of implementation for each technical aspect. The results showed that, overall, the implementation of technical management aspects for Aceh cattle in Tamiang Hulu was still relatively low, with an average implementation rate of only 44.9% of the ideal standard. The highest implementation was observed in the housing and facilities aspect (81.91%), followed by animal health (69.60%). In contrast, the lowest score was found in the feeding aspect, at only 20.12%, reflecting the lack of supplemental feeding, limited feed variety, and the absence of feed preservation systems and mineral supplementation. Moreover, the breeding and reproduction, as well as management practice aspects, were also not optimally applied, as evidenced by poor reproductive record-keeping, unselective bull selection, and traditional, extensive farming methods. Factors contributing to the low implementation level include limited technical knowledge among farmers, lack of extension and training programs by relevant agencies, poor access to quality feed resources, and inadequate livestock infrastructure. These findings reveal a significant gap between the government's technical guidelines and the actual practices in the field. Therefore, strategic interventions from the government and educational institutions are necessary to enhance farmer capacity through training, technical assistance, and provision of facilities that support more effective, efficient, and sustainable livestock management practices.
Baca Juga : KAJIAN ASPEK TEKNIS PEMELIHARAAN SAPI POTONG DI KECAMATAN LEMBAH SEULAWAH KABUPATEN ACEH BESAR (ANDREAN, 2025)