Universitas Syiah Kuala | ELECTRONIC THESES AND DISSERTATION

Electronic Theses and Dissertation

Universitas Syiah Kuala

    SKRIPSI
Bintang Dehanta Tarigan, ANALISIS EKONOMI PEMELIHARAAN AYAM BROILER YANG DIBERI RANSUM KOMERSIL YANG SEBAGIAN DISUBSTITUSI DENGAN TEPUNG KULIT UBI KAYU (MANIHOT ESCULENTA) FERMENTASI MENGGUNAKAN RAGI TAPE.. Banda Aceh Fakultas Pertanian,2025

Potensi usaha peternakan ayam broiler sangat besar karena tingginya permintaan masyarakat akan daging ayam broiler untuk memenuhi kebutuhan protein hewani. salah satu faktor yang berperan penting dalam proses produksi ayam broiler adalah biaya pakan. biaya pakan merupakan biaya terbesar dalam produksi ayam broiler yang bisa mencapai 70–80% dari total biaya produksi. oleh karena itu, biaya pakan perlu diturunkan misalnya dengan mensubstitusi sebagian ransum komersil dengan menggunakan bahan-bahan pakan yang murah, misalnya dengan cara memanfaatkan bahan baku limbah pertanian antara kulit ubi kayu (manihot utilissima). tujuan penelitian ini adalah untuk menganalisis aspek ekonomi, antara lain, biaya produksi dan keuntungan pemeliharaan ayam broiler. penelitian ini dilakukan di laboratorium lapangan peternakan (llp), fakultas pertanian, universitas syiah kuala, banda aceh. penelitian dilakukan dari tanggal 18 januari sampai dengan 26 maret 2025. penelitian menggunakan 100 ekor day old chick (doc) strain mb 202p, unsex, produksi pt japfa, sumatera indonesia. bahan-bahan yang digunakan adalah pakan komersil br0, br1, dan br2 produksi pt japfa, medan, tepung kulit ubi kayu fermentasi (tkuf), jagung, dedak padi, tepung ikan, top mix, ragi tape, vita chicks, vita stress, cyprotylogrin, vaksin, detergen, kapur, plastik terpal, kantung plastik, dan litter. alat-alat yang digunakan terdiri dari timbangan digital, tempat pakan dan tempat minum, disc mill, kompor, dandang, dan bola lampu pijar. rancangan yang digunakan yaitu rancangan acak lengkap (ral) yang terdiri dari 5 perlakuan dan 4 ulangan. parameter yang diamati meliputi berat badan akhir, jumlah konsumsi ransum, penerimaan, biaya produksi, keuntungan, b/c dan r/c ratio, dan bep. hasil analisis diketahui bahwa penerimaan paling tinggi terdapat pada perlakuan r0+, yaitu pemeliharaan ayam broiler yang 100% diberi ransum komersil. penerimaan paling rendah diperoleh pada perlakuan r3, yaitu pemeliharaan ayam broiler yang diberi ransum komersil yang 25% disubstitusi dengan bps dimana 15% jagung diganti dengan 15% tkuf ditambah 6,4% tepung ikan, 3,1% dedak, dan 0,5% top mix. di antara perlakuan ransum-ransum yang menggunakan bahan pakan substitusi, penggunaan ransum r1 menghasillkan penerimaan lebih tinggi daripada penggunaan ransum r0-. sedangkan pada penggunaan r2 dan r3 menghasilkan penerimaan yang lebih rendah daripada penggunaan r0-. hasil analisis biaya-biaya dikaetahui bahwa total biaya paling tinggi terdapat pada perlakuan r0-, sedangkan total biaya paling rendah diperoleh pada perlakuan r3. penggunaan 15% jagung dalam bps (r0-) menyebabkan kenaikan total biaya dibandingkan dengan penggunaan seluruhnya ransum komersil (r0+). penggantian jagung dengan tkuf menurunkan total biaya ransum, namun biaya tersebut masih lebih tinggi daripada r0+, sedangkan pada penggunaan r3 menghasilkan total biaya yang lebih rendah daripada r0+.. ransum yang disubstitusi dengan beberapa bps menghasilkan harga ransum per kg yang lebih rendah daripada harga ransum komersil. akan tetapi r0- dan r1 tidak menghasilkan biaya ransum yang lebh rendah daripada r0+. hasil perhitungan income over feed cost (iofcc) dan total keuntungan dapat dilihat bahwa total keuntungan paling tinggi terdapat pada perlakuan r0+, yaitu pemeliharaan ayam broiler yang diberi sepenuhnya ransum komersil, sedangkan terendah terdapat pada r0-, yaitu perlakuan ransum komersil yang 25% disubstitusi dengan bps yang mengandung 15% jagung + 6,4% tepung ikan + 3,1% dedak + 0,5% top mix dan 0% tkuf. hasil total keuntungan ini dipengaruhi oleh income over feed cost (iofc) sebab biaya variabel ransum berbeda antara semua perlakuan, sedangkan biaya lainnya sama. hasil analisis kelayakan memperlihatkan semua ransum perlakuan dalam penelitian ini menghasilkan b/c ratio >0 dan r/c ratio >1 sehingga layak digunakan. dari hasil penelitian ini dapat disimpulkan bahwa penggunaan tkuf sebagai pengganti jagung menurunkan harga per kilogram ransum dan biaya ransum. namun jika digunakan untuk menggantikan sebagian ransum komersil, biaya ransum menurun hanya pada penggunaan 15% tkuf, sedangkan pada penggunaan 5 atau 10% tkuf belum dapat menurunkan biaya ransum dibandingkan dengan menggunakan seluruhnya ransum komersil. penggunaan 5% tkuf sebagai pengganti jagung menaikkan penerimaan, namun pada penggunaan 10 atau 15% tkuf menurunkan penerimaan. jika tkuf maupun jagung digunakan untuk menggantikan sebagian ransum komersil, tingkat penerimaan berkurang daripada menggunakan seluruhnya ransum komersil. penggantian jagung dengan tkuf menaikkan keuntungan daripada menggunakan seluruhnya jagung. akan tetapi, tingkat keuntungan dari penggunaan bahan pakan substitusi ini tidak lebih tinggi daripada menggunakan seluruhnya ransum komersil.



Abstract

The broiler farming business holds significant potential due to the high consumer demand for broiler chicken meat as a source of animal protein. One of the most critical factors in broiler production is feed cost, which accounts for approximately 70–80% of the total production expenses. Therefore, reducing feed costs is essential, for example, by partially substituting commercial rations with cheaper feed ingredients, such as agricultural by-products like fermented cassava peel flour (Manihot utilissima). This study aimed to analyze the economic aspects, particularly production costs and profitability of broiler farming. The research was conducted at the Animal Husbandry Field Laboratory (LLP), Faculty of Agriculture, Syiah Kuala University, Banda Aceh, from January 18 to March 26, 2025. A total of 100 unsexed MB 202p strain day-old chicks (DOC) produced by PT Japfa, Sumatra, Indonesia, were used. The feed materials included commercial feed (BR0, BR1, BR2), fermented cassava peel flour (FCPF), corn, rice bran, fish meal, top mix, fermented yeast, Vita Chicks, Vita Stress, cyprotylogrin, vaccines, detergents, lime, tarpaulin plastic, plastic bags, and litter. The equipment used included digital scales, feed and water containers, disc mill, stove, steamer, and incandescent bulbs. The study utilized a Completely Randomized Design (CRD) with five treatments and four replications. Observed parameters included final body weight, total feed consumption, revenue, production costs, profit, B/C and R/C ratios, and break-even point (BEP). The analysis showed that the highest revenue was obtained from the R0+ treatment, where broilers were fed 100% commercial ration. The lowest revenue was recorded in the R3 treatment, in which 25% of the commercial ration was substituted with an alternative feed (AF) consisting of 15% FCPF replacing corn, supplemented with 6.4% fish meal, 3.1% rice bran, and 0.5% top mix. Among the substitution rations, R1 generated higher revenue than R0-, while R2 and R3 had lower revenues than R0-. Cost analysis showed that the highest total production cost occurred in the R0- treatment, while the lowest was in R3. Substituting 15% of the feed with corn in R0- increased the total cost compared to the full commercial ration (R0+). Replacing corn with FCPF reduced total feed cost, although the cost was still higher than R0+. In contrast, R3 showed a lower total cost than R0+. The use of alternative feed ingredients resulted in a lower feed price per kilogram compared to commercial rations. However, R0- and R1 did not yield a lower overall feed cost than R0+. Income over feed cost (IOFC) and total profit calculations revealed that the highest profit was achieved in the R0+ treatment (100% commercial ration), while the lowest profit occurred in R0-, which used 25% substituted ration with 15% corn + 6.4% fish meal + 3.1% rice bran + 0.5% top mix and no FCPF. The total profit was influenced by IOFC, as feed variable costs differed across treatments, while other costs remained constant. Feasibility analysis indicated that all feed treatments produced a B/C ratio >0 and R/C ratio >1, meaning they were economically feasible. In conclusion, the use of FCPF as a corn substitute reduced feed cost per kilogram and overall feed cost. However, a reduction in total feed cost was only observed with 15% FCPF inclusion, while 5% and 10% inclusion did not reduce costs compared to the full commercial ration. Using 5% FCPF increased revenue, but 10% and 15% inclusion reduced it. Both FCPF and corn substitution in commercial rations lowered revenue compared to the 100% commercial ration. Replacing corn with FCPF increased profit relative to using corn alone, but the profit from any alternative feed substitution was still lower than using a full commercial ration.



    SERVICES DESK