Universitas Syiah Kuala | ELECTRONIC THESES AND DISSERTATION

Electronic Theses and Dissertation

Universitas Syiah Kuala

    SKRIPSI
FARAH ANNISA, KAJIAN PENERAPAN ASPEK TEKNIS PEMELIHARAAN KERBAU LOKAL DI KECAMATAN TEUNOM KABUPATEN ACEH JAYA. Banda Aceh Fakultas Pertanian,2025

Kerbau (bubaius bubalis) merupakan salah satu jenis ternak ruminansia besar yang memiliki kemampuan khusus yang dapat bertahan hidup di rawa-rawa. keberadaan ternak kerbau ini banyak dimanfaatkan oleh para petani sebagai dual purpose yakni penghasil daging dan susu yang dapat meningkatkan pendapatan para petani. kerbau rawa merupakan salah satu sumber daya genetik ternak yang memiliki nilai ekonomi, sosial, dan budaya bagi masyarakat meurebo. kerbau lokal dapat dimanfaatkan sebagai sumber daging, tenaga kerja, dan pupuk kandang. kerbau lokal juga berperan dalam upacara adat dan ritual keagamaan. tujuan penelitian ini untuk mengkaji sejauh mana penerapan aspek teknis pemeliharan kerbau lokal di kecamatan teunom kabupaten aceh jaya. penelitian ini dilaksanakan pada bulan februari - maret 2025 di kecamatan teunom kabupaten aceh jaya yang meliputi 7 desa yaitu desa padang kleng, paya baro, gampong baro, alue ambang, pasie tulak bala, lhunggayo, dan panton. penelitian ini menggunakan metode survei untuk memperoleh data primer dan data sekunder. data primer diperoleh dengan melakukan wawancara langsung secara terbuka kepada pemilik ternak kerbau atau responden dengan memberikan beberapa pertanyaan yang telah dibuat sebelumnya. sedangkan data sekunder diperoleh dari instansi terkait, seperti data populasi ternak beserta dengan nama pemilik serta lokasi pemiliknya. parameter yang diamati dalam penelitian ini yaitu kajian aspek teknis pemeliharaan kerbau lokal di kabupaten aceh jaya, antara lain: 1) pemuliaan dan reproduksi, 2) makanan, 3) tatalaksana pemeliharaan, 4) kesehatan, dan 5) kandang. berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa penerapan aspek teknis pemeliharaan kerbau yang dilakukan peternak di kecamatan teunom masih tergolong rendah apabila dibandingkan dengan standar yang telah ditetapkan oleh direktorat jendral peternakan (1992). hal ini dikarenakan cara pemeliharaan kerbau yang diterapkan masih secara esktensif dan turun temurun, reproduksi kerbau masih dilakukan secara alami, dan pemberian pakan dilakukan dengan cara melepas ternak ke padang pengembalaan.



Abstract

The water buffalo (Bubaius bubalis) is a type of large ruminant livestock with special abilities that enable it to survive in swamps. These buffalo are widely utilized by farmers for their dual-purpose use, producing both meat and milk, which can increase their income. Swamp buffalo are a valuable genetic resource with economic, social, and cultural value for the Meurebo community. Local buffalo can be used as a source of meat, labor, and manure. Local buffalo also play a role in traditional ceremonies and religious rituals. The purpose of this study was to examine the extent of the implementation of technical aspects of local buffalo husbandry in Teunom District, Aceh Jaya Regency. This study was conducted in February - March 2025 in Teunom District, Aceh Jaya Regency, which includes 7 villages, namely Padang Kleng Village, Paya Baro, Gampong Baro, Alue Ambang, Pasie Tulak Bala, Lhunggayo, and Panton. This study used a survey method to obtain primary and secondary data. Primary data was obtained by conducting direct, open interviews with buffalo owners or respondents by providing several questions that had been prepared previously. While secondary data was obtained from related agencies, such as livestock population data along with the names of the owners and their locations. The parameters observed in this study were the study of technical aspects of local buffalo husbandry in Aceh Jaya Regency, including: 1) breeding and reproduction, 2) food, 3) maintenance management, 4) health, and 5) pens. Based on the research results, it can be concluded that the application of technical aspects of buffalo husbandry carried out by farmers in Teunom District is still relatively low when compared to the standards set by the Directorate General of Animal Husbandry (1992). This is because the buffalo husbandry methods applied are still extensive and hereditary, buffalo reproduction is still carried out naturally, and feeding is done by releasing the livestock into grazing fields.



    SERVICES DESK