Universitas Syiah Kuala | ELECTRONIC THESES AND DISSERTATION

Electronic Theses and Dissertation

Universitas Syiah Kuala

    SKRIPSI
Zurqa, PERFORMANS REPRODUKSI SAPI ACEH BETINA SEBAGAI SUMBER DAYA GENETIK TERNAK LOKAL DI KECAMATAN TAMIANG HULU KABUPATEN ACEH TAMIANG PROVINSI ACEH. Banda Aceh Fakultas Pertanian,2025

Sapi aceh merupakan salah satu ras asli indonesia yang dikenal akan ketahanannya terhadap iklim tropis, pakan berkualitas rendah, dan sistem pemeliharaan tradisional. penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi performa reproduksi sapi aceh betina sebagai sumber daya genetik lokal yang penting di kecamatan tamiang hulu, kabupaten aceh tamiang, yang memiliki populasi sapi cukup besar serta potensi pengembangan peternakan. tamiang hulu merupakan wilayah pedesaan di mana peternakan memiliki peran penting dalam ekonomi lokal, namun efisiensi reproduksi masih menjadi tantangan karena praktik manajemen yang terbatas. penelitian dilakukan pada 1 mei hingga 1 juni 2025 dengan menggunakan metode survei deskriptif di dua desa terpilih, yaitu bandar khalifah dan rongoh. sebanyak 23 peternak berpengalaman dipilih secara purposif dan memberikan data reproduksi terhadap 82 ekor sapi aceh betina. parameter reproduksi yang dicatat meliputi umur berahi pertama, umur kawin pertama, lama kebuntingan, umur beranak pertama, jarak beranak, dan interval kawin pasca beranak. data dianalisis secara deskriptif. hasil penelitian menunjukkan bahwa performa reproduksi belum optimal. rata-rata umur berahi pertama adalah 19,28 bulan, umur kawin pertama 29,37 bulan, dan umur beranak pertama 38,5 bulan, semuanya melebihi standar yang direkomendasikan. meskipun lama kebuntingan (9,04 bulan) dan interval kawin pasca beranak (4,20 bulan) berada dalam batas normal, jarak beranak (14,09 bulan) lebih panjang dari ideal (12 bulan). studi ini menekankan perlunya peningkatan manajemen reproduksi dan edukasi peternak di tamiang hulu untuk meningkatkan efisiensi pembiakan dan mempertahankan nilai genetik sapi aceh.



Abstract

Aceh cattle are a native Indonesian breed known for their resilience to tropical climates, low-quality feed, and traditional farming systems. This research aimed to assess the reproductive performance of female Aceh cattle as a vital local genetic resource in Tamiang Hulu, a sub-district in Aceh Tamiang Regency with considerable cattle population and potential for livestock development. Tamiang Hulu is a rural area where livestock farming plays a significant role in the local economy, yet reproductive efficiency remains a challenge due to limited management practices. The study was conducted from May 1 to June 1, 2025, using a descriptive survey approach in two selected villages: Bandar Khalifah and Rongoh. A total of 23 experienced farmers participated through purposive sampling, providing reproductive data on 82 female Aceh cattle. Key reproductive parameters such as age at first estrus, age at first mating, gestation length, age at first calving, calving interval, and postpartum mating interval were recorded and analyzed descriptively. Findings revealed suboptimal reproductive performance. The mean age at first estrus was 19.28 months, age at first mating 29.37 months, and age at first calving 38.5 months, all exceeding recommended standards. Although gestation length (9.04 months) and postpartum mating interval (4.20 months) were within normal limits, the calving interval (14.09 months) was longer than the ideal 12 months. The study underscores the need for improved reproductive management and farmer education in Tamiang Hulu to enhance breeding efficiency and sustain the genetic value of Aceh cattle.



    SERVICES DESK