Penelitian ini membahas tentang kondisi transportasi penyeberangan menggunakan rakit kayu yang masih digunakan oleh masyarakat di desa sekumur, kabupaten aceh tamiang. hingga saat ini, rakit menjadi satu-satunya sarana penyebrangan untuk warga yang ingin menyeberang sungai, baik untuk keperluan sehari-hari seperti bekerja, sekolah, maupun mengangkut hasil pertanian. namun, penggunaan rakit ini menyimpan banyak persoalan, terutama terkait keselamatan, kenyamanan, dan ketergantungan terhadap kondisi cuaca. ketika sungai meluap, aktivitas warga menjadi terhambat dan anak-anak pun kesulitan pergi ke sekolah. sayangnya, sampai saat ini pemerintah belum membangun jembatan sebagai solusi permanen. penelitian ini bertujuan untuk melihat bagaimana tata kelola pemerintah dalam menangani transportasi penyeberangan tersebut dan apa saja kendala yang dihadapi dalam pembangunan jembatan. metode yang digunakan adalah pendekatan kualitatif dengan teknik pengumpulan data melalui wawancara, observasi, dan dokumentasi. peneliti mewawancarai pihak-pihak terkait, mulai dari pemerintah daerah, kepala desa, akademisi, hingga masyarakat pengguna rakit. hasil penelitian menunjukkan bahwa tata kelola transportasi masih belum maksimal. pemerintah menghadapi sejumlah kendala seperti keterbatasan anggaran, prioritas pembangunan yang belum menyasar wilayah pedalaman, bahwa tata kelola penyeberangan menggunakan rakit kayu di desa sekumur masih belum optimal. dari sisi suara dan akuntabilitas warga, masyarakat merasa aspirasi mereka terkait pembangunan jembatan belum ditanggapi serius oleh pemerintah, meskipun telah disampaikan berulang kali. dalam aspek efektivitas pemerintahan, pemerintah daerah mengakui bahwa keterbatasan anggaran dan prioritas wilayah menjadi penghambat utama pembangunan jembatan. sementara pada supremasi hukum, tidak ada regulasi resmi terkait pengelolaan dan keselamatan operasional rakit, sehingga penggunaan rakit berlangsung tanpa perlindungan hukum yang memadai. secara keseluruhan, lemahnya partisipasi warga, keterbatasan respons pemerintah, dan absennya regulasi menjadikan tata kelola penyeberangan ini belum mencerminkan prinsip good governance serta lemahnya koordinasi antar instansi. penelitian ini menyarankan agar pemerintah segera membuat kebijakan yang lebih berpihak pada masyarakat terpencil, termasuk pembangunan jembatan demi keselamatan dan kemudahan akses warga. kata kunci :tata kelola, rakit kayu, transportasi, desa sekumur, aceh tamiang
Electronic Theses and Dissertation
Universitas Syiah Kuala
SKRIPSI
TATA KELOLA TRANSPORTRASI PENYEBERANGAN MENGGUNAKAN RAKIT KAYU PADA PEMERINTAH ACEH TAMIANG. Banda Aceh Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik-Universitas Syiah Kuala,2025
Baca Juga : PENGARUH MODAL INTELEKTUAL, SISTEM PENGENDALIAN MANAJEMEN DAN BUDAYA ORGANISASI TERHADAP TATA KELOLA UNIVERSITAS YANG BAIK (STUDI PADA PERGURUAN TINGGI DI INDONESIA) (SALSA FADILLA, 2022)
Abstract
Penelitian ini membahas tentang kondisi transportasi penyeberangan menggunakan rakit kayu yang masih digunakan oleh masyarakat di Desa Sekumur, Kabupaten Aceh Tamiang. Hingga saat ini, rakit menjadi satu-satunya sarana penyebrangan untuk warga yang ingin menyeberang sungai, baik untuk keperluan sehari-hari seperti bekerja, sekolah, maupun mengangkut hasil pertanian. Namun, penggunaan rakit ini menyimpan banyak persoalan, terutama terkait keselamatan, kenyamanan, dan ketergantungan terhadap kondisi cuaca. Ketika sungai meluap, aktivitas warga menjadi terhambat dan anak-anak pun kesulitan pergi ke sekolah. Sayangnya, sampai saat ini pemerintah belum membangun jembatan sebagai solusi permanen. Penelitian ini bertujuan untuk melihat bagaimana tata kelola pemerintah dalam menangani transportasi penyeberangan tersebut dan apa saja kendala yang dihadapi dalam pembangunan jembatan. Metode yang digunakan adalah pendekatan kualitatif dengan teknik pengumpulan data melalui wawancara, observasi, dan dokumentasi. Peneliti mewawancarai pihak-pihak terkait, mulai dari pemerintah daerah, kepala desa, akademisi, hingga masyarakat pengguna rakit. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tata kelola transportasi masih belum maksimal. Pemerintah menghadapi sejumlah kendala seperti keterbatasan anggaran, prioritas pembangunan yang belum menyasar wilayah pedalaman, bahwa tata kelola penyeberangan menggunakan rakit kayu di Desa Sekumur masih belum optimal. Dari sisi suara dan akuntabilitas warga, masyarakat merasa aspirasi mereka terkait pembangunan jembatan belum ditanggapi serius oleh pemerintah, meskipun telah disampaikan berulang kali. Dalam aspek efektivitas pemerintahan, pemerintah daerah mengakui bahwa keterbatasan anggaran dan prioritas wilayah menjadi penghambat utama pembangunan jembatan. Sementara pada supremasi hukum, tidak ada regulasi resmi terkait pengelolaan dan keselamatan operasional rakit, sehingga penggunaan rakit berlangsung tanpa perlindungan hukum yang memadai. Secara keseluruhan, lemahnya partisipasi warga, keterbatasan respons pemerintah, dan absennya regulasi menjadikan tata kelola penyeberangan ini belum mencerminkan prinsip good governance serta lemahnya koordinasi antar instansi. Penelitian ini menyarankan agar pemerintah segera membuat kebijakan yang lebih berpihak pada masyarakat terpencil, termasuk pembangunan jembatan demi keselamatan dan kemudahan akses warga. Kata Kunci :Tata Kelola, Rakit Kayu, Transportasi, Desa Sekumur, Aceh Tamiang
Baca Juga : TATA KELOLA PERKEBUNAN KELAPA SAWIT BERKELANJUTAN DALAM PENINGKATAN DAYA SAING KOMODITAS DI PROVINSI ACEH (Azanuddin Kurnia, 2026)