Pelecehan dan kekerasan seksual merupakan sebuah isu yang masih sering terdengar dan terus meningkat setiap tahunnya pada era dominasi media baru meski dengan banyaknya literasi terkait dampak buruk yang diterima oleh korban. perilaku ini tak jarang terjadi dalam ruang lingkup yang dipandang aman seperti lingkungan kantor dan universitas. pelakunya juga sering kali merupakan orang yang cenderung mengenal dekat korban seperti sahabat, teman kerja, hingga sanak famili sendiri. salah satu upaya mengedukasi khalayak mengenai bagaimana bentuk pelecehan dan kekerasan seksual yang hadir dalam kehidupan sehari-hari serta dampaknya pada korban adalah melalui media film yang dianggap cukup efektif dan memiliki pengaruh lebih dalam menyampaikan gagasan dan juga realita jika dibandingkan dengan media lainnya. bersamaan dengan itu, film penyalin cahaya yang datang dengan gelar “film cerita panjang terbaik” dalam ajang piala citra 2022 dianggap sebagai salah satu solusi yang tepat untuk menyampaikan pesan tersebut. penelitian ini bertujuan untuk melihat bagaimana pesan pelecehan dan kekerasan seksual ditampilkan dalam film penyalin cahaya. penelitian ini menggunakan metode kualitatif deskriptif, yakni hanya terbatas pada bahasan untuk menggambarkan suatu masalah melalui analisis sampel untuk pengumpulan data. teori yang digunakan adalah konsep wacana kritis teun a. van dijk yang berfokus pada struktur makro, superstruktur, dan struktur mikro pada sebuah wacana seperti film. pemilihan unit analisis data dalam penelitian ini menggunakan teknik purposive sampling, yaitu penentuan dengan pertimbangan kriteria tertentu seperti adegan/scene yang mengandung muatan pelecehan dan kekerasan seksual. hasil penelitian ini menyimpulkan bahwa film ini mengangkat dua tema utama, yaitu pelecehan dan kekerasan seksual dalam ruang lingkup universitas serta ketidakadilan terhadap korban dan perjuangan penyintas kekerasan seksual. pesan tersebut disampaikan melalui berbagai elemen film seperti latar, grafis, dan ekspresi karakter, yang menekankan dampak psikologis dan fisik dari kekerasan seksual. secara keseluruhan, film ini menggambarkan pentingnya kesadaran sosial tentang ketidakadilan yang dialami korban dan perjuangan mereka untuk memperoleh keadilan
Electronic Theses and Dissertation
Universitas Syiah Kuala
SKRIPSI
ANALISIS PELECEHAN DAN KEKERASAN SEKSUAL PADA FILM PENYALIN CAHAYA (ANALISIS WACANA KRITIS TEUN A. VAN DIJK). Banda Aceh Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik-Universitas Syiah Kuala,2025
Baca Juga : REPRESENTASI PEMBUNGKAMAN TERHADAP PENYINTAS PELECEHAN SEKSUAL DALAM FILM PENYALIN CAHAYA (ANALISIS SEMIOTIKA JOHN FISKE) (MUHAMMAD ANANDA KAUTSAR, 2024)
Abstract
Sexual harassment and violence remain prevalent issues that continue to escalate each year in the era of new media dominance, despite the abundance of literacy regarding the negative impact experienced by victims. These behaviors often occur in seemingly safe environments such as the workplace and university settings. Perpetrators are also frequently individuals closely acquainted with the victims, such as friends, colleagues, or even family members. One effective means of educating the public about the forms of sexual harassment and violence present in everyday life and their impact on victims is through the medium of film, considered to be influential and impactful compared to other media forms. In line with this, the film "Penyalin Cahaya", awarded as the "Best Feature Film" at the 2022 Citra Awards, is considered an apt solution for conveying such messages. This research aims to examine how the messages of sexual harassment and violence are portrayed in the film "Penyalin Cahaya”. The research employs a qualitative descriptive method, limited to discussing and describing a problem through the analysis of samples for data collection. The theoretical framework utilized is Teun A. Van Dijk's critical discourse concept, focusing on macrostructure, superstructure, and microstructure in discourse such as film. The research uses purposive sampling, selecting units of analysis based on specific criteria, such as scenes containing elements of sexual harassment and violence. The results of this study conclude that the film raises two main themes: sexual harassment and violence within the university setting, as well as the injustice faced by victims and the struggle of sexual violence survivors. This message is conveyed through various elements of the film, such as the setting, graphics, and character expressions, which highlight the psychological and physical impacts of sexual violence. Overall, the film depicts the importance of social awareness regarding the injustices faced by victims and their fight for justice.
Baca Juga : ANALISIS WACANA KRITIS PEMBERITAAN KASUSRNKERUMUNAN RIZIEQ SHIHAB DI KOMPAS TV (PUTRI MARTINI, 2022)