Tekanan sosial yang rasakan kaum waria di kota banda aceh, daerah yang menerapkan syariat islam secara ketat. kaum waria sering mengalami diskriminasi sosial, stigma negatif, serta kesulitan dalam mengakses pekerjaan dan layanan publik. tekanan sosial ini bersumber dari berbagai elemen, termasuk keluarga, masyarakat, dan aparat penegak hukum yang cenderung melihat keberadaan mereka sebagai penyimpangan dari norma agama dan budaya setempat. penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan wawancara dan observasi untuk mengidentifikasi tekanan sosial dalam berbagai bentuk diskriminasi, termasuk pelecehan verbal dan fisik, pengucilan sosial, serta kesulitan dalam mendapatkan pekerjaan. meskipun demikian, kaum waria menunjukkan resiliensi sosial dalam menghadapi tekanan ini, baik melalui dukungan komunitas maupun strategi adaptasi individu.serta strategi resiliensi yang dilakukan oleh kaum waria dalam menghadapi diskriminasi. hasil penelitian menunjukkan bahwa kaum waria di kota banda aceh menghadapi berbagai bentuk tekanan, mulai dari pengucilan sosial hingga kesulitan mendapatkan pekerjaan yang layak. namun, mereka mengembangkan berbagai strategi resiliensi,seperti membangun komunitas pendukung, mencari alternatif pekerjaan di sektor informal, serta beradaptasi dengan norma sosial yang berlaku.
Electronic Theses and Dissertation
Universitas Syiah Kuala
SKRIPSI
RESILIENSI SOSIAL WARIA DALAM MENGHADAPI TEKANAN SOSIAL DI KOTA BANDA ACEH. Banda Aceh Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik-Universitas Syiah Kuala,2025
Baca Juga : RESILIENSI MASYARAKAT PENYINTAS ERUPSI GUNUNG SINABUNG KECAMATAN NAMAN TERAN KABUPATEN KARO PROVINSI SUMATERA UTARA (Nuryanti Purba, 2024)
Abstract
The social pressure experienced by transvestite in Banda Aceh, a region that strictly enforces Islamic law, is significant. They often face social discrimination, negative stigma, and difficulties in accessing employment and public services. This social pressure originates from various elements, including family, society, and law enforcement authorities, who tend to view their existence as a deviation from religious and cultural norms. This study employs a qualitative method with an interview and observation approach to identify social pressures in various forms of discrimination, including verbal and physical harassment, social exclusion, and difficulties in securing employment. Despite these challenges, transvestite demonstrate social resilience in facing such pressures, both through community support and individual adaptation strategies. The findings of this study reveal that transvestite in Banda Aceh experience different forms of pressure, ranging from social exclusion to difficulties in obtaining decent employment. However, they develop various resilience strategies, such as building support communities, seeking alternative employment in the informal sector, and adapting to prevailing social norms.
Baca Juga : RESILIENSI MASYARAKAT NELAYAN KOTA SIBOLGA PASCA BERLAKUNYA PERMEN – KP NO. 71 TAHUN 2016 (PRETTY OLAN OKTAVIA SIHITE, 2020)