Kabupaten aceh utara merupakan salah satu daerah dengan produksi padi tertinggi di provinsi aceh, namun masih menghadapi tantangan serius dalam ketahanan pangan. hal ini tercermin dari rendahnya angka kecukupan energi (ake) masyarakatnya yang hanya mencapai 1.927 kkal/kapita/hari pada tahun 2023, ini sangat jauh di bawah standar nasional. berdasarkan peta food security and vulnerability atlas (fsva) tahun 2023, kecamatan lhoksukon dan baktiya tercatat sebagai wilayah dengan tingkat kerawanan pangan tertinggi di aceh utara. penelitian ini bertujuan untuk mengetahui tingkat kerawanan pangan pada rumah tangga petani padi marginal menggunakan metode household food insecurity access scale (hfias), serta menganalisis pengaruh faktor sosial-ekonomi terhadap kerawanan pangan di wilayah tersebut. metode analisis yang digunakan dalam penelitian ini meliputi statistik deskriptif dan regresi logistik ordinal. variabel dependen dalam penelitian ini adalah tingkat kerawanan pangan rumah tangga, yang terdiri dari empat kategori yakni; (1) sangat rawan pangan, (2) rawan pangan sedang, (3) sedikit rawan pangan, dan (4) tahan pangan, sedangkan variabel independen meliputi pendapatan rumah tangga, luas lahan, total produksi gabah, tingkat pendidikan, jumlah tanggungan, dan usia kepala rumah tangga. hasil penelitian menunjukkan bahwa dari 100 rumah tangga petani padi marginal yang menjadi sampel penelitian, 78% rumah tangga petani berada pada kondisi rawan pangan sedang hingga sangat rawan pangan selama 30 hari terakhir. hasil uji regresi logistik secara simultan menunjukan bahwa seluruh variabel independen berpengaruh signifikan terhadap tingkat kerawanan pangan pada rumah tangga petani padi marginal di kabupaten aceh utara dengan signifikansi (0,000 < 0,05). secara parsial, pendapatan rumah tangga (x1) merupakan faktor ekonomi yang berpengaruh signifikan dengan nilai (0,001 < 0,05), yang menunjukkan bahwa rendahnya pendapatan menjadi salah satu penyebab kerawanan pangan. berdasarkan hasil di lapangan, seluruh rumah tangga petani padi marginal memiliki pendapatan di bawah upah minimum kabupaten (umk) aceh utara sebesar rp3.685.616,00 per bulan, dengan rata-rata pendapatan sebesar rp1.406.180,00 per bulan. kemudian, faktor sosial yang berpengaruh signifikan adalah tingkat pendidikan kepala rumah tangga (x4), yang mayoritas hanya berpendidikan hingga tingkat sekolah dasar dengan nilai signifikansi (0,009 < 0,05). sementara, variabel luas lahan, total produksi, jumlah tanggungan, dan usia kepala rumah tangga, tidak menunjukkan pengaruh yang signifikan. nilai nagelkerke sebesar 0,754 menunjukan bahwa model regresi logistik ini mampu menjelaskan variasi tingkat kerawanan pangan pada rumah tangga petani padi marginal di kabupaten aceh utara sebesar 75,4%, sedangkan 24,6% sisanya dijelaskan oleh variabel lain di luar model penelitian.
Electronic Theses and Dissertation
Universitas Syiah Kuala
SKRIPSI
ANALISIS PENGARUH FAKTOR SOSIAL EKONOMI TERHADAP TINGKAT KERAWANAN PANGAN PADA RUMAH TANGGA PETANI PADI MARGINAL DI KABUPATEN ACEH UTARA. Banda Aceh Fakultas Pertanian,2025
Baca Juga : PENGARUH INKLUSI KEUANGAN TERHADAP KERAWANAN PANGAN DI PROVINSI ACEH (KHOIRIAH NASUTION, 2025)
Abstract
North Aceh Regency is one of the regions with the highest rice production in Aceh Province, but still faces serious challenges in food security. This is reflected in the low energy sufficiency (AKE) rate of its people, which only reached 1,927 kcal/capita/day in 2023, this is far below the national standard. Based on the 2023 Food Security and Vulnerability Atlas (FSVA) map, Lhoksukon and Baktiya Districts were recorded as areas with the highest levels of food insecurity in North Aceh. This study aims to determine the level of food insecurity in marginal rice farming households using the Household Food Insecurity Access Scale (HFIAS) method, and to analyze the influence of socio-economic factors on food insecurity in the region. The analytical methods used in this study include descriptive statistics and ordinal logistic regression. The dependent variable in this study is the level of household food insecurity, which consists of four categories, namely; (1) very food insecure, (2) moderate food insecure, (3) slightly food insecure, and (4) food secure, while the independent variables include household income, land area, total grain production, education level, number of dependents, and age of the household head. The results of the study showed that of the 100 marginal rice farming households sampled in the study, 78% of the farming households were in a state of moderate to very food insecurity during the last 30 days. The results of the simultaneous logistic regression test showed that all independent variables significantly influenced the level of food insecurity in marginal rice farming households in North Aceh Regency with a significance level of (0.000 < 0.05). Partially, household income (X1) is an economic factor that has a significant influence with a value of (0.001 < 0.05), which indicates that low income is one of the causes of food insecurity. Based on the results in the field, all marginal rice farming households have incomes below the North Aceh Regency Minimum Wage (UMK) of Rp3,685,616.00 per month, with an average income of Rp1,406,180.00 per month. Then, the social factor that has a significant influence is the education level of the head of the household (X4), the majority of whom only have an education up to elementary school level with a significance value of (0.009 < 0.05). Meanwhile, the variables of land area, total production, number of dependents, and age of the head of the household do not show a significant influence. The Nagelkerke value of 0.754 indicates that this logistic regression model is able to explain variations in the level of food insecurity in marginal rice farming households in North Aceh Regency by 75.4%, while the remaining 24.6% is explained by other variables outside the research model.
Baca Juga : ANALISIS TINGKAT KESEJAHTERAAN RUMAH TANGGA PETANI KOPI DI KECAMATAN PERMATA KABUPATEN BENER MERIAH (Sairah, 2024)