Universitas Syiah Kuala | ELECTRONIC THESES AND DISSERTATION

Electronic Theses and Dissertation

Universitas Syiah Kuala

    SKRIPSI
SELI NARDATILA, PERBANDINGAN EFISIENSI PEMASARAN KOPI GAYO (COFFEA SP.) DI PERHUTANAN SOSIAL DAN LAHAN MASYARAKAT STUDI KASUS: DESA KEKUYANG KABUPATEN ACEH TENGAH. Banda Aceh Fakultas Pertanian,2025

Kopi gayo merupakan salah satu komoditas unggulan indonesia yang memiliki nilai ekonomi tinggi, baik di pasar domestik maupun internasional. komoditas ini dikenal karena cita rasanya yang khas dan telah mendapatkan pengakuan sebagai produk indikasi geografis. di desa kekuyang, kabupaten aceh tengah, masyarakat membudidayakan kopi pada dua jenis lahan, yaitu lahan perhutanan sosial dan lahan milik masyarakat. keberadaan dua jenis lahan ini mencerminkan perbedaan dalam sistem pengelolaan dan distribusi hasil produksi, yang berpotensi mempengaruhi struktur dan efisiensi pemasaran kopi. penelitian ini bertujuan untuk menganalisis sistem pemasaran kopi gayo di desa kekuyang dengan menyoroti tiga aspek utama. pertama, penelitian ini meninjau tingkat harga yang diterima oleh petani melalui analisis farmer’s share. kedua, penelitian ini mengidentifikasi selisih harga pada setiap mata rantai distribusi melalui analisis profit margin. ketiga, penelitian ini menilai sejauh mana proses pemasaran mampu memberikan nilai tambah bagi petani sebagai produsen utama. penelitian ini menggunakan metode survei dengan objek penelitian berupa petani kopi gayo dan lembaga pemasaran yang beroperasi di dua wilayah, yaitu lahan perhutanan sosial dan lahan milik masyarakat di desa kekuyang, kabupaten aceh tengah. pengumpulan data dilakukan melalui wawancara mendalam dengan para responden. jenis data yang digunakan terdiri atas data primer dan data sekunder. teknik penentuan sampel menggunakan metode snowball sampling, dengan total 38 responden yang terdiri dari 30 petani, 4 pengepul, dan 4 mitra usaha. analisis data dilakukan secara deskriptif kualitatif dan kuantitatif. efisiensi pemasaran kopi dianalisis melalui perhitungan profit margin, farmer’s share, dan pendapatan petani. hasil analisis menunjukkan bahwa tingkat efisiensi pemasaran di wilayah perhutanan sosial mencapai 38,15%, yang tergolong efisien. sementara itu, efisiensi di wilayah lahan masyarakat sebesar 42,47%, yang justru dikategorikan efisien. temuan ini mengindikasikan bahwa saluran pemasaran kopi gayo pada dua wilayah tergolong efisien. nilai farmer’s share di kedua wilayah berada di atas 40%, yang mencerminkan adanya kecenderungan efisiensi dalam sistem pemasaran. analisis profit margin menunjukkan besarnya keuntungan yang diterima oleh petani sebagai imbalan dari aktivitas pemasaran. temuan ini memberikan gambaran mengenai distribusi margin pada tingkat petani, yang dapat dijadikan dasar dalam perumusan strategi pengelolaan sumber daya pertanian secara lebih efektif dan berkelanjutan. kesimpulan dari penelitian ini menunjukkan bahwa saluran pemasaran kopi gayo (coffea sp.) di wilayah perhutanan sosial dan lahan masyarakat memiliki pola rantai pemasaran yang serupa, yaitu melibatkan petani, pengepul, dan mitra usaha atau pabrik. namun, tingkat efisiensi pemasaran pada dua wilayah sudah tergolong efisien.



Abstract

Gayo coffee is one of Indonesia’s superior commodities with high economic value, both in the domestic and international markets. This commodity is known for its distinctive flavor and has received recognition as a geographical indication product. In Kekuyang Village, Central Aceh Regency, the community cultivates coffee on two types of land: social forestry land and community-owned land. The existence of these two types of land reflects differences in management systems and the distribution of production results, which have the potential to affect the marketing structure and efficiency of coffee. This study aims to analyze the Gayo coffee marketing system in Kekuyang Village by highlighting three main aspects. First, the study reviews the price level received by farmers through an analysis of the farmer’s share. Second, the study identifies price differences at each distribution chain through profit margin analysis. Third, the study assesses the extent to which the marketing process can provide added value to farmers as the primary producers. This research uses a survey method with research objects consisting of Gayo coffee farmers and marketing institutions operating in two areas: social forestry land and community-owned land in Kekuyang Village, Central Aceh Regency. Data were collected through in-depth interviews with respondents. The data used included primary and secondary data. The sampling technique employed snowball sampling, with a total of 38 respondents consisting of 30 farmers, 4 collectors, and 4 business partners. Data analysis was conducted descriptively, both qualitatively and quantitatively. Coffee marketing efficiency was analyzed through calculations of profit margin, farmer’s share, and farmers’ income. The analysis results show that the marketing efficiency level in the social forestry area reached 38.15%, which is considered efficient. Meanwhile, the efficiency in the community land area was 42.47%, which is also categorized as efficient. These findings indicate that the Gayo coffee marketing channels in both areas are relatively efficient. The farmer’s share values in both areas were above 40%, reflecting a tendency toward efficiency in the marketing system. Profit margin analysis shows the magnitude of profits received by farmers as a reward from marketing activities. These findings provide insight into the distribution of margins at the farmer level, which can serve as a basis for formulating strategies for more effective and sustainable management of agricultural resources. The conclusion of this study shows that the Gayo coffee (Coffea sp.) marketing channels in the social forestry and community land areas have similar marketing chain patterns, involving farmers, collectors, and business partners or factories. However, the marketing efficiency levels in both areas are already considered efficient



    SERVICES DESK