Kepemimpinan perempuan merupakan isu penting dalam mewujudkan kesetaraan gender, namun kenyataannya peran perempuan dalam birokrasi masih sangat terbatas, termasuk dalam dinas pendidikan aceh. saat ini, jumlah pegawai perempuan lebih banyak dibandingkan laki-laki namun posisi kepemimpinan seperti kepala bidang dan kepala dinas masih didominasi oleh laki-laki. hal ini mencerminkan adanya ketimpangan struktural dan kultural yang membatasi akses perempuan terhadap jabatan strategis. faktor seperti stereotip gender, beban ganda, kurangnya dukungan kelembagaan, serta rendahnya indeks pemberdayaan gender turut memperkuat hambatan tersebut. penelitian ini bertujuan untuk menganalisis faktor-faktor yang menyebabkan minimnya kepemimpinan perempuan dalam birokrasi, khususnya pada dinas pendidikan aceh. penelitian ini menggunakan teori kepemimpinan dari artisa dengan menggunakan indikator hambatan kultur, rendahnya dukungan lingkungan kerja dan rendahnya keinginan motivasi memimpin. metode penelitian yang digunakan adalah kualitatif deskriptif dengan teknik pengumpulan data berupa wawancara dan dokumentasi. penelitian ini menunjukkan bahwa minimnya kepemimpinan perempuan dalam birokrasi dinas pendidikan aceh dipengaruhi oleh tiga faktor utama, yaitu hambatan kultur, rendahnya dukungan lingkungan kerja, serta rendahnya keinginan dan motivasi untuk memimpin. budaya patriarki dan stereotip gender masih kuat, sehingga membatasi ruang gerak perempuan dalam birokrasi. lingkungan kerja yang kurang mendukung, seperti minimnya kebijakan afirmatif dan akses pelatihan, turut mempersempit peluang perempuan. selain itu, beban ganda dan ekspektasi sosial menyebabkan sebagian perempuan enggan mengambil peran kepemimpinan. saran penelitian ini agar dinas pendidikan aceh memperkuat kebijakan afirmatif melalui pelatihan, mentoring, dan fleksibilitas kerja untuk mendorong kepemimpinan perempuan. perempuan juga perlu meningkatkan kepercayaan diri dan motivasi dengan membangun jaringan dan mengikuti pelatihan. penelitian lanjutan disarankan untuk mengkaji strategi efektif dan membandingkan dengan daerah lain yang berhasil meningkatkan kepemimpinan perempuan. kata kunci: kepemimpinan, birokrasi, gender, perempuan, dinas pendidikan aceh
Electronic Theses and Dissertation
Universitas Syiah Kuala
SKRIPSI
ANALISIS FAKTOR MINIMNYA KEPEMIMPINAN PEREMPUAN DALAM BIROKRASI PADA DINAS PENDIDIKAN ACEH. Banda Aceh Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik-Universitas Syiah Kuala,2025
Baca Juga : PENGARUH KOMPLEKSITAS TUGAS DAN GAYA KEPEMIMPINAN TERHADAP KEPUASAN KERJA PEGAWAI DINAS PENDIDIKAN ACEH (T. Eddi Arfiansyah, 2024)
Abstract
Women's leadership is an important issue in achieving gender equality; however, in reality, women's roles in the bureaucracy are still very limited, including in the Aceh Education Office. Currently, the number of female employees exceeds that of males, yet leadership positions such as head of division and head of department are still dominated by men. This indicates the existence of structural and cultural inequalities that limit women's access to strategic positions. Factors such as gender stereotypes, double burdens, lack of institutional support, and the low gender empowerment index further reinforce these barriers. This study aims to analyze the factors causing the lack of female leadership in bureaucracy, particularly in the Aceh Education Office. The study uses Artisa's Leadership Theory with three key indicators: cultural barriers, low workplace support, and low motivation or willingness to lead. The research method employed is descriptive qualitative, using interviews and documentation for data collection. The results show that the limited presence of women in leadership positions is influenced by three main factors: cultural barriers, insufficient support in the work environment, and a lack of motivation or desire among women to pursue leadership roles. Patriarchal values and gender stereotypes remain strong, restricting women's mobility in the bureaucracy. Inadequate workplace support such as the lack of affirmative policies and limited access to leadership training further narrows opportunities for women. Additionally, the burden of domestic responsibilities and social expectations leads some women to hesitate in taking on leadership roles.This study recommends that the Aceh Education Office strengthen affirmative policies through training, mentoring, and flexible work arrangements to promote women's leadership. Women also need to enhance their confidence and motivation by building networks and participating in leadership training. Further research is suggested to explore effective strategies and conduct comparisons with other regions that have successfully improved women's leadership. Keywords: Leadership, bureaucracy, gender, women, Aceh Education Office