Beton mutu tinggi memiliki kecenderungan panas disebabkan oleh proses hidrasi semen yang tinggi. hal ini dapat dapat mengakibatkan beton tersebut mengalami keretakan mikro. self-healing merupakan teknologi beton yang sedang berkembang yang dapat mengatasi keretakan pada beton dengan menggunakan bakteri ureolitik. bakteri ureolitik tersebut dapat memproduksi kalsit sehingga diharapkan dapat menutup keretakan yang terjadi pada beton. penelitian ini betujuan untuk mengetahui pengaruh bakteri solibacillus sp. sebagai self-healing concrete terhdapat kuat tekan beton mutu tinggi, metode self-healing yang digunakan pada penelitian ini menggunakan enkapsulasi bakteri yang terbuat dari tanah diatomae dengan kadar 0,5%, 0,6%, dan 0,7% dari berat semen dan menggunakan nilai faktor air semen 0,3. pengujian kuat tekan menggunakan benda uji silinder 100 mm x 200 mm sebanyak 12 benda uji. proses pemberian retak dilakukan pada umur 7 hari dengan pemberian beban tekan sebesar 60% dari mutu rencana pada saat beton berumur 7 hari serta pengujian kuat tekan dilakukan pada umur 35 hari. hasil persentase perbaikan retak pada beton pada umur 28 hari oleh bakteri dengan variasi 0,5%, 0,6%, dan 0,7% berturut-turut adalah 98,89%, 98,15%, dan 85,06%. hasil kuat tekan pada umur 35 hari dengan variasi 0,5%, 0,6%, dan 0,7% berturut-turut adalah 51,48 mpa, 45,86 mpa, dan 55,16 mpa. hasil penelitian dapat disimpulkan terjadinya penutupan retak oleh kalsit yang di hasilkan dari bakteri urolitik terhadap beton mutu tinggi, namun tidak terjadi peningkatan terhadap kuat tekan beton mutu tinggi.
Electronic Theses and Dissertation
Universitas Syiah Kuala
SKRIPSI
STUDI KUAT TEKAN MENGGUNAKAN BAKTERI SOLIBACILLUS SP. SEBAGAI SLEF-HEALING PADA BETON MUTU TINGGI. Banda Aceh Fakultas Teknik,2025
Baca Juga : PENGARUH PENGGUNAAN BAKTERI SOLIBACILLUS SP. TERHADAP KUAT TARIK BELAH BETON MUTU TINGGI (Musthafril Rizal, 2023)
Abstract
High-strength concrete tends to generate heat due to the intense hydration process of cement. This can lead to microcracks in the concrete. Self-healing is an emerging concrete technology that addresses cracking by utilizing ureolytic bacteria. These bacteria are capable of producing calcite, which is expected to seal the cracks formed in the concrete. This study aims to investigate the effect of Solibacillus sp. bacteria as a self-healing agent on the compressive strength of high-strength concrete. The self-healing method used in this research involves bacterial encapsulation using diatomaceous earth at concentrations of 0.5%, 0.6%, and 0.7% by the weight of cement, with a water-cement ratio of 0.3. The compressive strength test was conducted using cylindrical specimens measuring 100 mm x 200 mm, with a total of 12 specimens. Cracks were induced at the age of 7 days by applying a compressive load of 60% of the target strength. The compressive strength was tested at 35 days of age. The percentage of crack healing at 28 days for bacterial variations of 0.5%, 0.6%, and 0.7% were 98.89%, 98.15%, and 85.06%, respectively. The compressive strength results at 35 days for these variations were 51.48 MPa, 45.86 MPa, and 55.16 MPa, respectively. Based on the results, it can be concluded that crack closure occurred due to calcite produced by the ureolytic bacteria in high-strength concrete, although no significant increase in compressive strength was observed.
Baca Juga : PENGGUNAAN BAKTERI STAPHYLOCOCCUS DALAM SELF HEALING CONCRETE TERHADAP KUAT TEKAN BETON MUTU ULTRA TINGGI (DINA PUTROE PHOEN, 2025)