Pakan ternak merupakan salah satu komponen yang berpengaruh besar terhadap keberlangsungan usaha peternakan. pakan ternak secara garis besar dapat digolongkan menjadi dua jenis, yaitu pakan hijauan dan pakan konsentrat. ketersediaan pakan hijauan sepanjang tahun bagi ternak bersifat fluktuatif, hal ini menyebabkan produktivitas ternak sangat bervariasi tergantung pada lingkungannya. pemanfaatan limbah pertanian dan perkebunan adalah salah satu cara untuk mengatasi kekurangan pakan selama musim kemarau. kulit kelapa muda adalah salah satu limbah yang dapat dimanfaatkan menjadi pakan ternak. kandungan protein kasar pada kulit kelapa muda yaitu 3,13%, namun terdapat faktor penghambat yaitu serat kasar 30,34% dan tanin 5,62%. namun demikian kulit kelapa muda berpeluang untuk ditingkatkan kualitas nutrisinya dengan cara pengolahan pakan menggunakaan teknologi silase dan fermentasi. penelitian ini bertujuan untuk melihat perbandingan kandungan nutrisi kulit kelapa muda yang telah mengalami proses teknologi yang berbeda yaitu teknologi silase dan teknologi fermentasi. penelitian pembuatan pakan silase dan fermentasi kulit kelapa muda dilaksanakan di laboratorium ilmu nutrisi, teknologi dan hijauan pakan, departemen peternakan, fakultas pertanian, universitas syiah kuala. analisis proksimat dilakukan di laboratorium pusat biotechnologi, institut pertanian bogor. penelitian ini dilaksanakan pada tanggal 22 januari hingga 17 april 2025. penelitian ini merupakan penelitian eksperimen, yang terdiri atas dua perlakuan yaitu silase dan fermentasi terhadap kulit kelapa muda. masing-masing perlakuan terdiri dari 10 ulangan, sehingga diperoleh total 20 unit percobaan. proses silase dan fermentasi dilakukan selama 21 hari. parameter yang diamati meliputi kadar bahan kering, protein kasar, serat kasar, lemak kasar, kadar abu, dan betn. data yang diperoleh dianalisis mengunakan uji t. hasil penelitian ini menunjukkan bahwa pengolahan kulit kelapa muda melalui ensilase dan fermentasi tidak memberikan perbedaan yang nyata terhadap komposisi nutrisinya. kandungan bahan kering masing-masing sebesar 8,07% dan 7,52%, protein kasar 5,46% dan 4,42%, serat kasar 27,45% dan 26,74%, lemak kasar 0,95% dan 1,01%, serta abu 5,47% dan 5,68%. demikian pula, kandungan betn tidak berbeda nyata, yaitu 56,60% pada ensilase dan 53,64% pada fermentasi. kesimpulan dari penelitian ini kandungan nutrisi kulit kelapa muda dengan metode ensilase dan fermentasi dengan ma-11 tidak berpengaruh nyata, namun penggunaan inokulum ma-11 pada proses fermentasi relatif memberikan hasil yang lebih baik dalam meningkatkan kandungan nutrisi kulit kelapa muda dibandingkan dengan metode ensilase.
Electronic Theses and Dissertation
Universitas Syiah Kuala
SKRIPSI
PERBANDINGAN KANDUNGAN NUTRISI PAKAN SILASE DAN PAKAN FERMENTASI KULIT KELAPA MUDA (COCOS NUCIFERA L.). Banda Aceh Fakultas Pertanian,2025
Baca Juga : PERBANDINGAN KUALITAS FISIK, PH DAN KADAR ASAM LAKTAT PADA SILASE DAN FERMENTASI KULIT KELAPA MUDA ( COCOS NUCIFERA L.) (LUCCYANA DAMAYANTI, 2025)
Abstract
Animal feed is one component that has a major influence on the sustainability of the livestock business. Animal feed can be broadly classified into two types, namely forage feed and concentrate feed. The availability of forage throughout the year for livestock is fluctuating, causing livestock productivity to vary greatly depending on the environment. Utilization of agricultural and plantation waste is one way to overcome feed shortages during the dry season. Young coconut skin is one of the wastes that can be utilized as animal feed. The crude protein content of young coconut skin is 3.13%, but there are inhibiting factors, namely crude fiber 30.34% and tannin 5.62%. However, young coconut skin has the opportunity to improve its nutritional quality by processing feed using silage and fermentation technology. This study aims to compare the nutritional content of young coconut skin that has undergone different technological processes, namely silage technology and fermentation technology. The research of making silage and fermented young coconut skin feed was carried out at the Laboratory of Nutrition Science, Technology and Feed Forage, Department of Animal Husbandry, Faculty of Agriculture, Syiah Kuala University. Proximate analysis was conducted at the Biotechnology Center Laboratory, Bogor Agricultural University. This research was conducted from January 22 to April 17, 2025. This research is an experimental research, which consists of two treatments, namely silage and fermentation of young coconut skin. Each treatment consisted of 10 replicates, resulting in a total of 20 experimental units. Silage and fermentation processes were carried out for 21 days. Parameters observed included dry matter content, crude protein, crude fiber, crude fat, ash content, and BETN. The results of this study showed that the processing of young coconut skin through ensilage and fermentation did not give a significant difference to its nutritional composition. Dry matter content was 8.07% and 7.52%, crude protein 5.46% and 4.42%, crude fiber 27.45% and 26.74%, crude fat 0.95% and 1.01%, and ash 5.47% and 5.68%, respectively. Similarly, BETN content was not significantly different, namely 56.60% in ensilage and 53.64% in fermentation. The conclusion of this study is that the nutritional content of young coconut peels by ensilage and fermentation methods with MA-11 does not significantly affect, but the use of MA-11 inoculum in the fermentation process gives relatively better results in increasing the nutritional content of young coconut peels compared to the ensilage method.
Baca Juga : GAMBARAN HISTOLOGI KOLON AKIBAT PEMBERIAN AMPAS KELAPA ( COCOS NUCIFERA L.) PADA AYAM BROILER (GALLUS DOMESTICUS) (PUTRI WIJAYANTI, 2022)