Kota banda aceh memiliki peranan penting sebagai pusat pemerintahan dan administrasi provinsi aceh. sebagai representasi wajah kota, bangunan kantor pemerintahan dan swasta diharapkan mampu mencerminkan identitas kedaerahan, khususnya melalui elemen fasad. fasad bangunan merupakan elemen visual pertama yang dilihat masyarakat dan memiliki peran strategis dalam membentuk citra arsitektural kota. namun, perkembangan kawasan melalui pembangunan baru dan renovasi justru menimbulkan permasalahan dalam keselarasan visual dan karakteristik fasad yang tidak mencerminkan konteks lokal. penelitian ini bertujuan untuk menganalisis dan mengevaluasi karakteristik fasad bangunan perkantoran pada koridor jalan tengku mohammad daud beureueh serta merumuskan panduan desain fasad yang kontekstual. kajian ini menggunakan pendekatan teori fasad oleh krier (1983), teori townscape oleh cullen (1996), dan teori identitas visual oleh budiharjo (1997). metode yang digunakan adalah kualitatif deskriptif dengan teknik analisis synchronic reading dan character appraisal analysis. data diperoleh melalui observasi lapangan, dokumentasi foto, tracing gambar fasad, serta wawancara informan. hasil penelitian menunjukkan secara umum, bangunan-bangunan pada koridor ini belum sepenuhnya mencerminkan kekhasan arsitektur lokal dan belum membentuk kesinambungan visual kawasan secara optimal. berdasarkan teori townscape menunjukkan bahwa elemen-elemen seperti bentuk atap, komposisi massa bangunan, ritme jendela, ornamen dan tanda-tanda merupakan aspek yang harus dioptimalkan dalam penataan fasad. pengamatan melalui pendekatan synchronic reading menunjukkan bahwa keterkaitan antar bangunan masih lemah, baik dari segi estetika, proporsi, maupun kesinambungan gaya arsitektural. sehingga perlu penataan ulang fasad bangunan melalui pendekatan yang kontekstual terhadap budaya dan sejarah arsitektur aceh. panduan ini tidak hanya bertujuan meningkatkan identitas kawasan, tetapi juga sebagai strategi pelestarian nilai arsitektur lokal serta pembentukan citra kawasan yang berkarakter. kata kunci: fasad bangunan, karakter visual, perkantoran, banda aceh
Electronic Theses and Dissertation
Universitas Syiah Kuala
THESES
PENATAAN DESAIN FASAD BANGUNAN KANTOR SEBAGAI PEMBENTUK IDENTITAS KAWASAN PADA KORIDOR JALAN TENGKU MOHAMMAD DAUD BEUREUEH BANDA ACEH. Banda Aceh Fakultas Teknik,2025
Baca Juga : KAJIAN PENERAPAN ELEMEN FISIK ARSITEKTUR ISLAM PADA FASAD BANGUNAN PERKANTORAN DI KOTA BANDA ACEH (Aulia Rahman, 2024)
Abstract
Banda Aceh serves an important role as the administrative and governmental center of Aceh Province. As a representation of the face of the city, government and private office buildings are expected to reflect regional identity, especially through facade elements. The building façade is the first visual element perceived by the public and plays a strategic role in shaping the architectural image of the city. However, ongoing development through new constructions and renovations has led to issues of visual disharmony and façade characteristics that fail to reflect the local context. This study aims to analyze and evaluate the facade characteristics of office buildings in Tengku Mohammad Daud Beureueh Street Corridor and formulate contextual facade design guidelines. The research adopts theoretical frameworks from Krier’s façade theory (1983), Cullen’s townscape theory (1996), and Budiharjo’s theory of visual identity (1997). A qualitative descriptive method is employed, utilizing synchronic reading and character appraisal analysis techniques. Data were collected through field observation, photographic documentation, facade drawing tracing, and informant interviews. The findings indicate that, in general, the buildings along the corridor have not fully reflected the distinctiveness of local architecture and have yet to establish a coherent visual identity for the area. Based on townscape theory, elements such as roof forms, building mass composition, window rhythm, ornamentation, and signage are identified as key aspects that need to be optimized in facade design. Observations using the synchronic reading approach reveal that the visual and stylistic continuity between buildings remains weak, particularly in terms of aesthetics, proportions, and architectural coherence. Therefore, a reorganization of facade design is required, applying a contextual approach that respects the cultural and historical values of Acehnese architecture. This guideline aims not only to enhance the identity of the area but also to serve as a strategy for preserving local architectural values and shaping a distinct and character-rich urban image. Keywords: building facade, visual character, government office, Banda Aceh
Baca Juga : INDEX WALKABILITY PADA KAWASAN PERDAGANGAN DAN JASA DI KOTA BANDA ACEH (Muhammad Rifandi, 2024)