Kota banda aceh merupakan wilayah yang memiliki berbagai tempat yang dengan historis yang panjang atau dapat dikenal juga dengan cagar budaya, salah satu cagar budaya milik pemerintah kota banda aceh yang menarik adalah gedung menara sentral telepon militer belanda. gedung ini merupakan salah satu peninggalan bersejarah masa kolonial belanda yang memiliki nilai historis dan kultural penting bagi kota banda aceh. namun, kondisi gedung saat ini menunjukkan kerusakan yang cukup parah akibat kurangnya perawatan secara berkelanjutan oleh pemerintah kota banda aceh sebagai aset daerah sehingga tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui dan memahami manajemen pemeliharaan aset cagar budaya oleh pemerintah kota banda aceh dengan analisis data mengacu pada teori manajemen george r. terry yang mencakup empat indikator yaitu perencanaan, pengorganisasian, pergerakan, dan pengawasan. penelitian ini menggunakan metode penelitian kualitatif dengan pendekatan deskriptif. hasil penelitian menunjukkan bahwa manajemen pemeliharaan gedung menara sentral telepon militer belanda belum terlaksana dengan baik sesuai dengan teori yang digunakan. perencanaan telah disusun dalam rkbmd dan rkpd, namun pelaksanaannya tertunda karena keterbatasan anggaran dan prioritas program kerja, pengorganisasian tidak erjalan dengan baik karena posisi jabatan yang masih belum teriis dengan sumber daya menusia yang berkompeten, pergerakan menunjukkan komitmen positif melalui keterlibatan langsung kepala bidang kebudayaan dalam urusan di lapangan, pengawasan masih lemah dan terdapat miskomunikasi antar instansi terkait pemeliharaan aset. hambatan dari pemeliharaan gedung menara sentral telepon militer belanda meliputi keterbatasan anggaran sehingga tertundanya renovasi, kekurangan sumber daya manusia yaitu kosongnya posisi pamong cagar budaya di dinas pendidikan dan kebudayaan kota bandas aceh, koordinasi antar pihak eksternal yaitu balai pelestarian kebudayaan wilayah i provinsi aceh, pengamat budaya serta masyarakat serta kurangnya pemahaman terhadap urusan kebudayaan. oleh karena itu, diperlukan strategi manajemen yang lebih optimal dan komprehensif guna menjaga keberlanjutan warisan budaya ini dimasa mendatang. kata kunci: manajemen, pemeliharaan aset, cagar budaya, gedung menara sentral telepon militer belanda, pemerintah kota banda aceh.
Electronic Theses and Dissertation
Universitas Syiah Kuala
SKRIPSI
ANALISIS MANAJEMEN PEMELIHARAAN GEDUNG MENARA SENTRAL TELEPON MILITER BELANDA SEBAGAI ASET CAGAR BUDAYA OLEH PEMERINTAH KOTA BANDA ACEH. Banda Aceh Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik-Universitas Syiah Kuala,2025
Baca Juga : PERLINDUNGAN LOKASI YANG DIDUGA SITUS CAGAR BUDAYA OLEH PEMERINTAH KOTA BANDA ACEH (SUATU PENELITIAN PADA PEMBANGUNAN INSTALASI PENGOLAAN AIR LIMBAH (IPAL) DI GAMPONG JAWA ) (DESFA MEUTIA LESTARI, 2018)
Abstract
Banda Aceh City is a region that has various places with a long historical background or also known as cultural heritage. One of the cultural heritage assets owned by the Banda Aceh City Government that is interesting is the Dutch Military Telephone Central Tower Building. This building is one of the historical relics from the Dutch colonial era which has important historical and cultural value for Banda Aceh City. However, the current condition of the building shows quite severe damage due to the lack of continuous maintenance by the Banda Aceh City Government as a regional asset. Therefore, the purpose of this research is to find out and understand the management of cultural heritage asset maintenance by the Banda Aceh City Government with data analysis referring to George R. Terry's management theory which includes four indicators, namely planning, organizing, actuating, and controlling, using a qualitative descriptive research method through data collection techniques in the form of observation, interviews, and documentation. The results of the research show that the maintenance management of the Dutch Military Telephone Central Tower Building has not been well implemented according to the theory used. Planning has been arranged in the RKBMD and RKPD, but its implementation is delayed due to budget constraints and prioritization, organizing is hampered by the vacancy in the position of cultural heritage officer, actuating shows a positive commitment through the direct involvement of the Head of the Culture Division in field inspections, controlling is still weak and there is miscommunication between institutions related to asset maintenance. The obstacles to maintaining the Dutch Military Telephone Central Tower Building include budget constraints causing renovation delays, lack of human resources especially in the position of cultural heritage officer, and weak coordination between external parties such as the Cultural Heritage Preservation Office Region I of Aceh Province, cultural observers, and the community, as well as lack of understanding of cultural. Therefore, a more optimal and comprehensive management strategy is needed to preserve this cultural heritage in the future. Keywords: Management, Asset Maintenance, Cultural Heritage, The Dutch Military Telephone Central Tower Building, Banda Aceh City Government.