Pertumbuhan kota yang pesat di kawasan metropolitan mebidangro (medan, binjai, deli serdang, dan karo) berdampak signifikan terhadap lingkungan, terutama munculnya fenomena urban heat island (uhi), yaitu suhu udara di perkotaan lebih tinggi dibandingkan wilayah pedesaan. fenomena ini disebabkan oleh perubahan fungsi lahan, berkurangnya vegetasi, dan dominasi permukaan keras seperti aspal dan beton akibat urbanisasi dan pertumbuhan penduduk. penelitian ini bertujuan menganalisis perkembangan wilayah mebidangro melalui perubahan tutupan lahan terbangun dan hubungannya dengan perkembangan uhi selama dua dekade terakhir (2004, 2014, dan 2024). metode yang digunakan adalah analisis citra satelit landsat (landsat 5 tm dan landsat 8 oli/tirs) dengan pendekatan supervised classification pada platform google earth engine (gee) untuk pemetaan tutupan lahan, serta perhitungan land surface temperature (lst) untuk mendeteksi distribusi dan intensitas uhi. hasil penelitian menunjukkan peningkatan signifikan lahan terbangun di mebidangro, khususnya di medan, binjai, dan deli serdang, yang berpengaruh pada peningkatan intensitas dan distribusi uhi. lahan terbangun meningkat dari 32.557,97 hektar pada 2004 menjadi 37.316,99 hektar pada 2014, dan melonjak menjadi 59.464,66 hektar pada 2024, meningkat 82,65% dalam dua dekade. suhu permukaan rata-rata (lst) naik dari 20,3°c (2004) menjadi 23,17°c (2014), dengan area non uhi menurun dari 224.771,54 hektar (69,3%) menjadi 206.801,36 hektar, sementara area uhi ringan dan sedang meluas. wilayah dengan permukaan keras dan minim vegetasi memiliki suhu lebih tinggi, bahkan >30°c, sedangkan daerah dengan vegetasi luas seperti kabupaten karo menunjukkan suhu lebih rendah. namun, periode 2014-2024 menunjukkan tren penurunan suhu rata-rata sebesar 1,1°c, dari 22,6°c menjadi 21,5°c, mencerminkan dinamika iklim yang kompleks dan tidak selalu linier.
Electronic Theses and Dissertation
Universitas Syiah Kuala
SKRIPSI
KAJIAN PERKEMBANGAN PERKOTAAN TERHADAP PULAU PANAS PERKOTAAN DI WILAYAH METROPOLITAN MEBIDANGRO. Banda Aceh Fakultas Teknik,2025
Baca Juga : TANGGAPAN MASYARAKAT PEDESAAN DAN PERKOTAAN DI PROVINSI ACEH TERHADAP RENCANA REDENOMNASI RUPIAH (ARISKA PUTRI, 2021)
Abstract
The rapid urban growth in the Mebidangro metropolitan area (Medan, Binjai, Deli Serdang, and Karo) has a significant impact on the environment, particularly the emergence of the Urban Heat Island (UHI) phenomenon, where urban land temperatures are higher than surrounding rural areas. This phenomenon is caused by changes in land use, reduced vegetation, and the dominance of hard surfaces such as asphalt and concrete due to urbanization and population growth. This study aims to analyze the development of the Mebidangro area through changes in built-up land cover and its relationship with UHI development over the last two decades (2004, 2014, and 2024). The method used involves Landsat satellite image analysis (Landsat 5 TM and Landsat 8 OLI/TIRS) with a Supervised Classification approach on the Google Earth Engine (GEE) platform for land cover mapping, along with Land Surface Temperature (LST) calculations to detect UHI distribution and intensity. The results show a significant increase in built-up land in Mebidangro, especially in Medan, Binjai, and Deli Serdang, which correlates with increased UHI intensity and distribution. Built-up land increased from 32,557.97 hectares in 2004 to 37,316.99 hectares in 2014, then surged to 59,464.66 hectares in 2024, an 82.65% increase over two decades. The average surface temperature (LST) rose from 20.3°C (2004) to 23.17°C (2014), with Non-UHI areas decreasing from 224,771.54 hectares (69.3%) to 206,801.36 hectares, while light and moderate UHI areas expanded. Areas dominated by hard surfaces and minimal vegetation tend to have higher surface temperatures, even exceeding 30°C, whereas regions with extensive vegetation, such as Karo Regency, show lower temperatures. However, between 2014 and 2024, there was a trend of average temperature decline by 1.1°C, from 22.6°C to 21.5°C, reflecting complex and non-linear climate dynamics.
Baca Juga : KAJIAN PENGEMBANGAN KAWASAN STRATEGIS SEKTOR PERDAGANGAN DAN JASA KOTA BANDA ACEH. STUDI KASUS : KEC. LUENG BATA (RIDHIA MAISARINA, 2016)