Pertumbuhan pesat pasca-rekonstruksi di kota banda aceh telah mendorong konversi lahan tidak terbangun menjadi kawasan terbangun, terutama ke arah timur dan selatan serta meluas hingga ke wilayah kabupaten aceh besar. perubahan penggunaan lahan ini memengaruhi morfologi dan pola spasial kota, yang menunjukkan ketidaksesuaian dengan rencana tata ruang yang telah ditetapkan. adaptasi terhadap dinamika spasial tersebut dapat dianalisis melalui bentuk perkotaan (urban form) yang mencerminkan cara kota dibangun dan diorganisasikan seiring perubahan kebutuhan lahan. penelitian ini bertujuan untuk menjawab celah penelitian terkait bentuk kota di banda aceh dan kawasan sekitarnya dengan menerapkan pendekatan analisis bentuk kota berbasis metrik spasial menggunakan perangkat lunak arcgis dan metropolitan form analysis (mfa) toolbox yang dikembangkan oleh kolaborasi antara city form lab, world bank, dan smart fm-mit. data yang digunakan meliputi penggunaan lahan, jejak bangunan, dan data kependudukan. hasil penelitian menunjukkan bahwa dari total luas wilayah sebesar 111,46 km² atau 57,11% merupakan lahan terbangun. bentuk kota menunjukkan tingkat keterhubungan spasial yang tinggi, ditunjukkan oleh rendahnya nilai indeks ketidakterhubungan sebesar 0,74 dengan cakupan lahan terbangun dalam convex hull mencapai 73%, menandakan pembangunan yang terkonsentrasi tanpa banyak lompatan spasial. meski demikian, struktur kota masih didominasi satu pusat aktivitas utama di baiturrahman dan kuta alam dengan tingkat polisentrisitas rendah dan potensi pengembangan fisik hanya 26%. tingkat keragaman penggunaan lahan juga rendah, dengan indeks maksimum 0,21. analisis selanjutnya menunjukkan adanya kesenjangan antara bentuk kota aktual dan arahan rencana tata ruang di wilayah penelitian, terutama pada distribusi pusat aktivitas, integrasi fungsi lahan, serta ketidakseimbangan antara kekompakan bangunan dengan sebaran penduduk dan pekerjaan mencerminkan rendahnya integrasi fungsi sosial-ekonomi. hasil penelitian ini menegaskan perlunya intensifikasi pemanfaatan ruang terbangun, penguatan pusat aktivitas baru, serta pengendalian ekspansi ke wilayah yang sensitif secara ekologis guna mendukung pengembangan kota yang lebih terkendali dan berkelanjutan.
Electronic Theses and Dissertation
Universitas Syiah Kuala
SKRIPSI
ANALISIS KARAKTERISTIK KOTA BANDA ACEH DAN SEKITARNYA MENGGUNAKAN METODE URBAN FORM METRICS. Banda Aceh ,2025
Baca Juga : ANALISIS PERFORMANSI BASE TRANCEIVER STATION PT.EXCELCOMINDO PRATAMA DI WILAYAH KOTA BANDA ACEH (Fuadil Akbar, 2023)
Abstract
The rapid post-reconstruction growth in Banda Aceh has driven the conversion of undeveloped land into built-up areas, particularly toward the eastern and southern parts of the city, and has expanded into Aceh Besar Regency. This land-use transformation has affected the city's morphology and spatial patterns, revealing inconsistencies with the established spatial plans. Adapting to these spatial dynamics can be examined through the lens of urban form, which reflects how the city is built and organized in response to evolving land demands. This study aims to adress the research gap on urban form in Banda Aceh and its surrounding areas by applying a spatial metric-based analysis using ArcGIS software and the Metropolitan Form Analysis (MFA) toolbox, developed through a collaboration between City Form Lab, the World Bank, and SMART FM-MIT. The analysis utilizes land use data, building footprint data, and demographic data. The results indicate that out of a total area of 111.46 km², approximately 57.11% is built-up land. The urban form exhibits a high degree of spatial connectivity, as reflected by a low discontiguity index of 0.74 and a built-up land coverage within the convex hull reaching 73%, indicating concentrated development with minimal spatial leapfrogging. However, the urban structure remains dominated by a single activity center, primarily located in Baiturrahman and Kuta Alam, with low polycentricity and limited physical expansion potential (26%). Land-use diversity is also low, with a maximum land-use mix index of only 0.21. Further analysis reveals a mismatch between the existing urban form and the intended spatial plan, particularly regarding activity center distribution, functional integration, and the imbalance between building compactness and the dispersion of population and employment, indicating weak socio-economic integration. These findings highlight the need for built-up area intensification, the development of new activity centers, and the control of expansion into ecologically sensitive areas to support more controlled and sustainable urban development.
Baca Juga : ANALISIS KARAKTERISTIK KOTA BANDA ACEH DAN SEKITARNYA MENGGUNAKAN METODE URBAN FORM METRICS (Riska Dwi Rahmadani, 2025)