Wilayah pesisir kota banda aceh dan aceh besar menjadi salah satu wilayah dengan tingkat aktivitas domestik yang relatif rendah. kerang tahu atau dikenal dengan istilah ilmiah sebagai m. meretrix merupakan salah satu jenis biota laut yang mempunyai nilai ekonomis tinggi dan sering dimanfaatkan sebagai sumber pangan. distribusi kerang tahu (m. meretrix) dipengaruhi oleh beberapa faktor lingkungan seperti kondisi habitat, salinitas, dan substrat dasar. kondisi biometrik merupakan parameter penting dalam biologi perikanan yang dapat digunakan untuk menilai kesehatan, produktivitas, dan kondisi fisiologi organisme akuatik. penelitian ini bertujuan untuk menganalisis kondisi biometrik kerang tahu (m. meretrix) yang di koleksi dari pesisir pantai banda aceh dan aceh besar pada 3 titik yaitu kawasan alue naga, lampulo dan ujong pancu menggunakan metode survey eksplorasi langsung. data disajikan dalam bentuk kisaran, nilai rata-rata, dan standar deviasi. berdasarkan hasil penelitian menunjukkan bahwa kelompok ukuran panjang kerang tahu yang paling banyak ditemukan pada lokasi alue naga 31 – 33 mm berjumlah 30 ekor, pada lokasi ujong pancu memiliki panjang 25 – 27 ekor berjumlah 57 ekor, dan pada lokasi lampulo memiliki panjang 25 – 27 ekor berjumlah 28 ekor. berdasarkan nilai yang didapat nilai korelasi antara panjang cangkang dan lebar cangkang, kerang tahu dari ujong pancu cenderung memiliki nilai korelasi (r2) yang lebih rendah dibanding kerang tahu dari lampulo dan alue naga, dan nilai korelasi (r2) yang cenderung lebih tinggi yaitu di lokasi alue naga. kata kunci : alue naga, biometrik, kerang tahu, korelasi, lampulo, ujong pancu.
Electronic Theses and Dissertation
Universitas Syiah Kuala
SKRIPSI
KONDISI BIOMETRIK KERANG TAHU (M. MERETRIX) HASIL TANGKAPAN DARI PESISIR PANTAI BANDA ACEH DAN ACEH BESAR. Banda Aceh Fakultas Kelautan dan perikanan,2025
Baca Juga : BIOMETRIK KERANG DARAH (ANADARA GRANOSA) HASIL TANGKAPAN DARI PERAIRAN ALUE NAGA KECAMATAN SYIAH KUALA KOTA BANDA ACEH (SRI INTAN, 2025)
Abstract
The coastal areas of Banda Aceh City and Aceh Besar are among the regions with relatively low levels of domestic activity. The clam known as 'kerang tahu' or scientifically referred to as M. meretrix is one of the marine biota with high economic value and is often used as a source of food. The distribution of kerang tahu (M. meretrix) is influenced by several environmental factors such as habitat conditions, salinity, and substrate. Biometric conditions are important parameters in fisheries biology that can be used to assess the health, productivity, and physiological condition of aquatic organisms. This study aims to analyze the biometric conditions of kerang tahu (M. meretrix) collected from the coastal areas of Banda Aceh and Aceh Besar at three points: Alue Naga, Lampulo, and Ujong Pancu, using direct exploratory survey methods. The data is presented in the form of ranges, average values, and standard deviations. Based on the research results, it shows that the group of the longest sizes of the green mussel found at the Alue Naga location ranges from 31 – 33 mm, totaling 30 specimens, while at the Ujong Pancu location the size is from 25 – 27 mm, totaling 57 specimens, and at the Lampulo location, the size is also from 25 – 27 mm, totaling 28 specimens. Based on the obtained values, the correlation between shell length and shell width, the green mussel from Ujong Pancu tends to have a lower correlation value (R2) compared to the green mussel from Lampulo and Alue Naga, where the correlation value (R2) is generally higher at the Alue Naga location. Keywords : Biometric, Dragon Alue, Correlation, Lampulo, Shellfish, Ujong Pancu.