Universitas Syiah Kuala | ELECTRONIC THESES AND DISSERTATION

Electronic Theses and Dissertation

Universitas Syiah Kuala

    SKRIPSI
VIDIA LOLITA BERAMPU, LOCAL WISDOM IN THE FOLKLORE AND TRADITIONS OF THE HALOBAN COMMUNITY IN PULAU BANYAK. Banda Aceh Fakultas KIP Bahasa Inggris,2025

Penelitian ini mengkaji folklor, tradisi, dan kearifan lokal masyarakat haloban di pulau banyak, aceh, indonesia, dengan fokus pada pelestarian dan revitalisasi tradisi budaya yang terancam punah. bahasa haloban, yang sebagian besar digunakan oleh para tetua, berada dalam risiko kepunahan, bersama dengan kekayaan folklor dan tradisi masyarakat tersebut. studi ini menggunakan metode kualitatif, termasuk wawancara mendalam dengan lima informan yang terdiri atas dua praktisi budaya, seorang kepala desa, seorang cucu panglima kerajaan, dan seorang nelayan, untuk mendokumentasikan tradisi lisan mereka. temuan penelitian menunjukkan adanya pengetahuan budaya yang mendalam yang tertanam dalam folklor dan tradisi mengenai asal-usul kerajaan di haloban, ziarah ke desa lamo, pakaian adat, pernikahan, tarian pulau haloban, balimo-limo, kanduri blang, dan tulak bala. kearifan lokal yang terkandung dalam folklor dan tradisi tersebut mencerminkan penghormatan yang besar terhadap warisan leluhur, pentingnya identitas budaya, kohesi sosial, penghormatan terhadap alam, dan makna spiritual dari ritual dalam menjaga keharmonisan dan kesejahteraan masyarakat haloban. penelitian ini menekankan pentingnya pelestarian tradisi-tradisi ini untuk menjaga identitas budaya masyarakat serta mewariskan nilai-nilai penting terkait lingkungan dan sosial kepada generasi mendatang. studi ini turut berkontribusi dalam upaya pelestarian budaya yang lebih luas, memperkaya pemahaman tentang praktik budaya unik masyarakat haloban, dan menekankan perlunya langkah-langkah proaktif untuk melindungi serta menghidupkan kembali bahasa dan tradisi yang terancam punah di komunitas-komunitas terpencil. *kata kunci*: pelestarian budaya, bahasa terancam punah, folklor haloban, kearifan lokal, pulau banyak, aceh, tradisi.



Abstract

This research investigates the folklore, tradition, and local wisdom of the Haloban community in Pulau Banyak, Aceh, Indonesia, with a focus on preserving and revitalizing endangered cultural traditions. The Haloban language, spoken predominantly by elders, is at risk of extinction, along with the community’s rich folklore and tradition. This study employs a qualitative methodology, including in-depth interviews with five informants of two cultural practitioners, a village leader, a grandchild of the royal commander, and a fisherman, to document these oral traditions. The findings highlight the profound cultural knowledge embedded in the folklore and tradition on the origin of the kingdom in Haloban, pilgrimage to Lamo Village, traditional clothes, weddings, Haloban island dance, balimo-limo, kanduri blang, and tulak bala. The local wisdom embedded in these folklore and tradition reflect the community’s deep respect for ancestral heritage, the importance of cultural identity, social cohesion, reverence for nature, and the spiritual significance of rituals in maintaining harmony and well-being within the Haloban society. The research emphasizes the importance of preserving these traditions to maintain the community’s cultural identity and to pass on vital environmental and social values to future generations. The study contributes to broader efforts in cultural preservation, contributes to understanding the unique cultural practices of the Haloban community, and features the need for proactive measures to protect and revitalize endangered languages and traditions in isolated communities. Keywords: cultural preservation, endangered languages, Haloban folklore, local wisdom, Pulau Banyak, Aceh, tradition.



    SERVICES DESK