Penelitian ini mengkaji ritual budaya bulan suro yang dilaksanakan oleh masyarakat jawa di desa rantau selamat, kecamatan tadu raya, kabupaten nagan raya, provinsi aceh. tradisi ini merupakan bagian dari warisan budaya jawa yang tetap dilestarikan oleh masyarakat transmigran yang telah menetap sejak era orde baru. penelitian ini bertujuan untuk menggambarkan proses pelaksanaan ritual budaya bulan suro, membandingkan praktiknya dengan masyarakat jawa di daerah asal, serta mengungkap makna dan alasan pelestarian budaya tersebut oleh masyarakat lokal. metode penelitian yang digunakan adalah pendekatan kualitatif dengan metode fenomenologi. teknik pengumpulan data dilakukan melalui observasi, wawancara mendalam, dan dokumentasi terhadap masyarakat pelaku tradisi. hasil penelitian menunjukkan bahwa ritual suroan di desa rantau selamat terdiri atas beberapa tahap utama yaitu musyawarah persiapan, doa bersama, santunan anak yatim, dan makan bersama. masyarakat memahami bulan suro sebagai bulan yang sakral, penuh pantangan, dan memiliki kekuatan spiritual yang diyakini mampu menolak bala. perbedaan mencolok antara pelaksanaan ritual di jawa dan di nagan raya terletak pada akulturasi nilai lokal aceh ke dalam tradisi jawa, seperti adanya kolaborasi dengan masyarakat non-jawa serta pemusatan acara di masjid sebagai simbol religiusitas. budaya ini dihidupkan kembali setiap tahun melalui partisipasi kolektif masyarakat, penguatan nilai-nilai solidaritas, dan pelibatan generasi muda. ritual bulan suro dipahami secara kognitif sebagai simbol tolak bala, secara gagasan sebagai bentuk penghormatan terhadap leluhur, dan secara tindakan sebagai media untuk menjaga keharmonisan sosial dan keberkahan hidup masyarakat. tradisi ini membuktikan ketahanan budaya dalam konteks sosial yang majemuk dan menegaskan pentingnya pemeliharaan kearifan lokal dalam masyarakat multikultural. kata kunci : ritual suroan, makna tradisi suroan, komponen ritual
Electronic Theses and Dissertation
Universitas Syiah Kuala
SKRIPSI
BUDAYA RITUAL SARU SURO DI DESA RANTAU SELAMAT ( STUDI FENOMENOLOGI BUDAYA MASYARAKAT JAWA DAN ACEH DI KABUPATEN NAGAN RAYA). Banda Aceh Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik-Universitas Syiah Kuala,2025
Baca Juga : PERGESERAN NILAI BUDAYA PADA TARI MANOE PUCOK DI KABUPATEN NAGAN RAYA (Sri Wahyuni, 2024)
Abstract
This study examines the cultural ritual of the Suro month carried out by the Javanese community in Rantau Selamat Village, Tadu Raya Subdistrict, Nagan Raya Regency, Aceh Province. This tradition is part of the Javanese cultural heritage that continues to be preserved by transmigrant communities who have settled in the area since the New Order era. The aim of this study is to describe the implementation process of the Suro month ritual, compare its practice with that of Javanese communities in their places of origin, and reveal the meaning and reasons behind the cultural preservation by the local society. The research uses a qualitative approach with a phenomenological method. Data collection techniques include observation, in-depth interviews, and documentation involving the community members who practice the tradition.The findings indicate that the Suroan ritual in Rantau Selamat Village consists of several main stages: preparation meetings, communal prayers, donations to orphans, and communal feasts. The community perceives the month of Suro as sacred, filled with taboos, and possessing spiritual power believed to ward off misfortune. A notable difference between the ritual practices in Java and in Nagan Raya is the acculturation of local Acehnese values into the Javanese tradition, such as collaboration with non-Javanese residents and the centralization of events at the mosque as a symbol of religiosity. This culture is revived annually through collective community participation, the strengthening of solidarity values, and the involvement of younger generations. The Suro month ritual is cognitively understood as a symbol of warding off calamity, conceptually as a form of respect for ancestors, and practically as a medium for maintaining social harmony and communal blessings. This tradition demonstrates cultural resilience in a pluralistic social context and underscores the importance of preserving local wisdom within multicultural societies. Keywords: Suroan Ritual, Meaning of the Suroan Tradition, Ritual Components
Baca Juga : PARTISIPASI MASYARAKAT DALAM PROSES PERENCANAANRNRKP DESA (STUDI KASUS DESA BAYEUN KECAMATANRNRANTAU SELAMAT KABUPATEN ACEH TIMUR) (MOHD. RIZKI MAULANA, 2022)