Abstrak pemilihan reje kampung sebagai bentuk demokrasi langsung di tingkat kampung kerap dipengaruhi oleh praktik politik uang dan hubungan kekerabatan. penelitian ini bertujuan untuk mengeksplorasi dampak politik uang dalam pemilihan reje kampung di kampung kuala ii, kecamatan bintang, kabupaten aceh tengah, serta mengidentifikasi faktor-faktor yang berkontribusi terhadap maraknya praktik tersebut. dalam penelitian ini, digunakan metode kualitatif dengan pendekatan studi kasus, yang melibatkan wawancara mendalam dengan berbagai narasumber, termasuk tokoh masyarakat, akademisi, dan warga setempat. analisis data dilakukan berdasarkan teori politik uang (edward aspinall) dan konsep politik kekerabatan (edward aspinall & ward berenschot). teori politik uang menyatakan bahwa transaksi antara kandidat dan pemilih, di mana suara diberikan sebagai imbalan atas manfaat materi, menjadi penyebab utama terjadinya praktik ini. akibatnya, prinsip demokrasi menjadi terdistorsi. hasil penelitian menunjukkan bahwa masyarakat di kampung kuala ii cenderung memilih calon bukan berdasarkan kompetensi dan visi mereka, melainkan atas dasar pemberian uang atau barang. di sisi lain, teori politik kekerabatan menyoroti peran hubungan keluarga dan jaringan sosial dalam menentukan hasil pemilihan, khususnya di tingkat lokal. temuan penelitian mengungkapkan bahwa pengaruh politik kekerabatan di kampung kuala ii masih sangat dominan. kandidat yang memiliki jaringan keluarga luas memiliki kemungkinan lebih besar untuk memenangkan pemilihan. hal ini menyebabkan proses pemilihan lebih ditentukan oleh faktor kekerabatan dibandingkan dengan kualitas kepemimpinan, yang pada akhirnya berdampak pada efektivitas pemerintahan desa. penelitian ini menunjukkan bahwa politik uang dan kekerabatan dalam pemilihan reje kampung memiliki dampak negatif terhadap tata kelola pemerintahan kampung. dampak tersebut mencakup terpilihnya pemimpin yang kurang kompeten, meningkatnya risiko korupsi dalam pemerintahan kampung, serta menurunnya partisipasi masyarakat dalam mengawasi jalannya pemerintahan. selain itu, fenomena ini turut memperkuat budaya politik pragmatis yang merusak nilai-nilai demokrasi di tingkat lokal. sebagai solusi, penelitian ini merekomendasikan peningkatan kesadaran masyarakat melalui pendidikan politik yang lebih komprehensif, penerapan hukum yang lebih tegas terhadap praktik politik uang, serta pengawasan yang lebih ketat dari lembaga terkait guna mewujudkan pemilihan yang lebih transparan, adil, dan demokratis. kata kunci: politik uang, pemilihan kepala desa, demokrasi lokal, politik kekerabatan, aceh tengah.
Electronic Theses and Dissertation
Universitas Syiah Kuala
SKRIPSI
FENOMENA MONEY POLITIK DALAM PEMILIHAN REJE KAMPUNG (KEPALA DESA) RN(STUDI KASUS KAMPUNG KUALA II KECAMATAN BINTANG KABUPATEN ACEH TENGAH). Banda Aceh FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK UNIVERSITAS SYIAH KUALA,2025
Baca Juga : ANALISIS PROSES TERJADINYA MONEY POLITIK PADA PEMILIHAN BUPATI DAIRI SUMATERA UTARA TAHUN 2024 (Mukhtar Angkat, 2025)
Abstract
ABSTRACT The election of Reje Kampung as a form of direct democracy at the village level is often influenced by money politics and kinship relations. This study aims to explore the impact of money politics in the election of Reje Kampung in Kampung Kuala II, Bintang District, Central Aceh Regency, and to identify the factors contributing to the prevalence of this practice. This research employs a qualitative method with a case study approach, involving in-depth interviews with various informants, including community leaders, academics, and local residents. Data analysis is based on the theory of money politics (Edward Aspinall) and the concept of kinship politics (Edward Aspinall & Ward Berenschot). The theory of money politics states that transactions between candidates and voters, where votes are exchanged for material benefits, are the primary cause of this practice. As a result, the principles of democracy become distorted. The findings indicate that the people of Kampung Kuala II tend to choose candidates not based on their competence and vision but rather on the provision of money or goods. On the other hand, the kinship politics theory highlights the role of family relations and social networks in determining election outcomes, particularly at the local level. The study reveals that kinship politics remains highly dominant in Kampung Kuala II. Candidates with extensive family networks have a greater chance of winning the election. This situation results in the election process being influenced more by kinship factors than by leadership quality, ultimately affecting the effectiveness of village governance. This study demonstrates that money politics and kinship in the election of Reje Kampung have a negative impact on village governance. These effects include the election of incompetent leaders, an increased risk of corruption within village administration, and a decline in community participation in government oversight. Furthermore, this phenomenon strengthens a pragmatic political culture that undermines the core values of local democracy. As a solution, this research recommends raising public awareness through more comprehensive political education, stricter enforcement of laws against money politics, and tighter oversight by relevant institutions to ensure a more transparent, fair, and democratic election process. Keywords: money politics, village head election, local democracy, kinship politics, Central Aceh.
Baca Juga : ANALISIS DAMPAK POLITIK UANG PADA PEMILIHAN LEGISLATIF TAHUN 2019 DI KOTA BANDA ACEH (MOHAMMAD MAHLUFI KUDAMBA, 2023)