Universitas Syiah Kuala | ELECTRONIC THESES AND DISSERTATION

Electronic Theses and Dissertation

Universitas Syiah Kuala

    DISSERTATION
Reza Salima, KAJIAN KARAKTERISTIK LAHAN DAN MODEL PENGEMBANGAN SERAI WANGI RNDI DATARAN TINGGI GAYO. Banda Aceh Prodi Program Doktor Ilmu Pertanian,2025

Reza salima. kajian karakteristik lahan dan model pengembangan serai wangi di dataran tinggi gayo, di bawah bimbingan abubakar sebagai promotor, sugianto sebagai ko-promotor i dan indra sebagai ko-promotor ii penelitian ini membahas pengembangan serai wangi di dataran tinggi gayo melalui pendekatan berbasis karakteristik lahan, aspek ekonomi, dan kualitas minyak yang dihasilkan. serai wangi memiliki potensi ekonomi yang tinggi karena minyak atsiri yang dihasilkan bernilai komersial. namun, keberhasilannya tergantung pada faktor biofisik lahan dan manajemen budidaya yang tepat. hasil penelitian menunjukkan bahwa karakteristik lahan, seperti ph tanah, kandungan bahan organik, dan topografi, berperan penting dalam menentukan produktivitas serai wangi. tanaman ini tumbuh optimal pada ketinggian 600-1.200 mdpl, dengan kondisi tanah yang memiliki ph 5-6,85 dan kejenuhan basa lebih dari 26,5%. aspek ekonomi juga menjadi faktor kunci dalam keberlanjutan budidaya serai wangi. biaya produksi, pendapatan petani, serta tingkat pendidikan berkontribusi terhadap efisiensi usahatani. harga jual minyak yang optimal harus di atas rp 119.347,11 per kilogram agar petani mencapai titik impas. kualitas minyak serai wangi sebagai variabel mediasi antara aspek ekonomi dan karakteristik lahan menunjukkan pengaruh signifikan. kandungan citronellal, citronellol, dan geraniol sangat dipengaruhi oleh metode penyulingan dan kondisi lingkungan tempat tumbuh. model pengembangan yang diusulkan dalam penelitian ini mampu menjelaskan 83,4% variabilitas dalam pengembangan serai wangi. model ini mencerminkan keterkaitan erat antara faktor ekonomi, kualitas minyak, dan karakteristik lahan sebagai strategi yang dapat diterapkan secara berkelanjutan. hasil analisis kelayakan finansial menunjukkan bahwa usahatani serai wangi menguntungkan, terutama pada ketinggian 800-1.000 mdpl. pada rentang ketinggian ini, net present value (npv) mencapai rp 100.373.958 dengan internal rate of return (irr) sebesar 108% dan payback period (pp) 1,03 tahun. analisis sensitivitas menunjukkan bahwa usaha serai wangi pada ketinggian 200-400 mdpl memiliki profitabilitas yang rendah dan berisiko tinggi. sebaliknya, pada ketinggian 600-1.200 mdpl, usaha ini tetap layak meskipun terjadi fluktuasi biaya produksi dan jumlah produksi menurun. pendapatan petani serai wangi secara keseluruhan dapat memenuhi kebutuhan hidup layak, kecuali pada ketinggian 200-400 mdpl. rata-rata penghasilan bersih petani di atas rp 3.400.000 per bulan, yang menunjukkan kontribusi ekonomi yang signifikan bagi masyarakat lokal. strategi pengembangan yang direkomendasikan meliputi peningkatan teknologi penyulingan, pengelolaan lahan yang lebih baik, serta pemberdayaan petani melalui pelatihan dan akses pasar yang lebih luas. kebijakan pemerintah dalam mendukung industri minyak atsiri juga menjadi faktor penting. penelitian ini memberikan kontribusi akademik dalam memahami faktor-faktor yang menentukan keberhasilan budidaya serai wangi. model yang dikembangkan dapat menjadi acuan bagi penelitian selanjutnya serta bagi pemerintah dalam merancang kebijakan pengembangan minyak atsiri di indonesia. diharapkan hasil penelitian ini dapat mendukung penguatan ekonomi lokal dan meningkatkan daya saing industri minyak serai wangi di tingkat nasional maupun internasional. keberlanjutan usaha ini memerlukan sinergi antara petani, pemerintah, dan sektor swasta. secara keseluruhan, penelitian ini menegaskan bahwa pendekatan berbasis integrasi faktor ekonomi, karakteristik lahan, dan kualitas minyak merupakan strategi efektif dalam meningkatkan kesejahteraan petani dan menjaga keberlanjutan produksi. kesimpulan utama dari penelitian ini adalah bahwa pengelolaan budidaya serai wangi harus mempertimbangkan faktor-faktor yang saling berkaitan secara holistik. dengan strategi yang tepat, dataran tinggi gayo dapat menjadi sentra produksi minyak serai wangi berkualitas tinggi. rekomendasi bagi penelitian lanjutan mencakup eksplorasi lebih lanjut tentang teknik penyulingan yang lebih efisien serta pengaruh variabel lingkungan lain terhadap kualitas minyak. hal ini bertujuan untuk meningkatkan nilai tambah dan daya saing produk di pasar global. sebagai langkah akhir, perlu ada kolaborasi lebih lanjut antara akademisi, industri, dan pemerintah dalam mengembangkan kebijakan dan teknologi yang mendukung pengembangan serai wangi yang berkelanjutan dan menguntungkan bagi petani.



Abstract

REZA SALIMA. Study of Land Characteristics and Model of Citronella Development in Gayo Highlands, under supervising Abubakar as Supervisor, Sugianto as Co-Supervisor I and Indra as Co-Supervisor II. This research discusses the development of citronella in the Gayo Highlands through an approach based on land characteristics, economic aspects, and the quality of oil produced. Citronella has high economic potential due to its commercially valuable essential oil. However, its success depends on land biophysical factors and proper cultivation management. The results showed that land characteristics, such as soil pH, organic matter content, and topography, play an important role in determining citronella productivity. The plant grows optimally at an altitude of 600-1,200 meters above sea level, with soil conditions that have a pH of 5-6.85 and base saturation of more than 26.5%. Economic aspects are also a key factor in the sustainability of citronella cultivation. Production costs, farmer income, and education level contribute to farm efficiency. The optimal selling price of oil must be above IDR 119,347.11 per kilogram for farmers to break even. Citronella oil quality as a mediating variable between economic aspects and land characteristics showed a significant effect. The content of citronellal, citronellol, and geraniol is strongly influenced by the distillation method and the environmental conditions in which it grows. The development model proposed in this study was able to explain 83.4% of the variability in citronella development. The model reflects the close linkages between economic factors, oil quality, and land characteristics as a strategy that can be implemented in a sustainable manner. The results of the financial feasibility analysis show that citronella farming is profitable, especially at an altitude of 800-1,000 masl. At this altitude range, the Net Present Value (NPV) reached IDR 100,373,958 with an Internal Rate of Return (IRR) of 108% and a Payback Period (PP) of 1.03 years. Sensitivity analysis shows that citronella business at 200-400 masl has low profitability and high risk. In contrast, at an altitude of 600-1,200 masl, the business remains viable despite fluctuations in production costs and declining production quantities. The overall income of citronella farmers can fulfill the needs of a decent life, except at an altitude of 200-400 masl. The average net income of farmers is above IDR 3,400,000 per month, indicating a significant economic contribution to the local community. Recommended development strategies include improved refining technology, better land management, and farmer empowerment through training and wider market access. Government policy in supporting the essential oil industry is also an important factor. This research provides an academic contribution in understanding the factors that determine the success of citronella cultivation. The model developed can be a reference for further research and for the government in designing essential oil development policies in Indonesia. It is hoped that the results of this research can support the strengthening of the local economy and improve the competitiveness of the citronella oil industry at the national and international levels. The sustainability of this business requires synergy between farmers, government, and the private sector. Overall, this study confirms that an approach based on the integration of economic factors, land characteristics, and oil quality is an effective strategy in improving farmers' welfare and maintaining production sustainability. The main conclusion of this study is that the management of citronella cultivation must consider interrelated factors holistically. With the right strategy, the Gayo Highlands can become a center of high-quality citronella oil production. Recommendations for further research include further exploration of more efficient refining techniques and the influence of other environmental variables on oil quality. This aims to increase the added value and competitiveness of the product in the global market. As a final step, there needs to be further collaboration between academia, industry and government in developing policies and technologies that support the sustainable and profitable development of citronella for farmers.



    SERVICES DESK