Ekosistem mangrove merupakan suatu kawasan tropis dengan vegetasi tumbuhan yang unik pada kawasan pesisir yang dipengaruhi oleh pasang surut air laut serta dengan karakteristik sedimen yang khas. ekosistem mangrove ini memiliki peranan yang penting dalam menjaga keseimbangan lingkungan bagi kawasan pesisir baik secara fisik maupun ekologis. secara ekologis mangrove sebagai habitat potensial bagi berbagai jenis hewan antara lain berbagai spesies ikan, kepiting, udang dan kerang. ekosistem mangrove juga memiliki peranan penting bagi berbagai biota pesisir, meliputi sebagai tempat pemijahan, tempat asuhan dan tempat mencari makan. kerang darah (tegillarca granosa) merupakan salah satu spesies kerang yang hidup dikawasan ekosistem mangrove dengan cara membenamkan tubuhnya kedalam substrat untuk menghindari dari predator dan eksploitasi oleh masyarakat. terjadinya tekanan ekologis akibat degradasi habitat dan eksploitasi oleh masyarakat, menyebabkan populasi t. granosa yang terdapat dikawasan ekosistem mangrove kota langsa pada saat ini semakin menurun. pengelolaan t. granosa berbasis keramba secara in-situ di kawasan ekosistem mangrove kota langsa provinsi aceh sebagai habitat aslinya, masih sangat jarang dilakukan dalam upaya pengelolaan t. granosa. berdasarkan permasalahan yang telah dipaparkan diatas, maka penelitian ini bertujuan menganalisis morfometrik dan pola pertumbuhan t. granosa, kandungan gizi t. granosa, dinamika populasi t. granosa, pertumbuhan dan produksi tahunan t. granosa yang dikelola berbasis keramba secara in-situ di kawasan ekosistem mangrove kota langsa. teknik pengambilan sampel t. granosa dilakukan secara purposive sampling pada tiga lokasi penelitian yang ditetapkan berdasarkan kondisi rona lingkungan yang bervariasi. setiap lokasi penelitian dibuat transek dari arah pantai menuju vegetasi mangrove. pada tiap-tiap transek dibuat plot dengan ukuran 5 m x 5 m untuk pengambilan t. granosa yang terdapat pada plot tersebut. setiap sampel t. granosa yang dikumpulkan berdasarkan variasi ukuran dan jenis kelamin pada masing-masing plot, dimasukkan ke dalam botol sampel untuk diidentifikasi di laboratorium. pengukuran data fisika kimia lingkungan (salinitas air, suhu air dan ph air) dilakukan secara in-situ pada saat bersamaan pengambilan t. granosa. hasil kajian pertama menunjukkan panjang cangkang kerang berkisar antara 3 cm sampai dengan 6,76 cm, lebar cangkang berkisar anatara 2,50 cm sampai dengan 5,52 cm, sedangkan bobot total t. granosa berkisar antara 12 g sampai 122 g. pola pertumbuhan t. granosa di lokasi penelitian secara umum berlangsung secara allometri negatif (b= 2,5084), yang menunjukkan pertumbuhan panjang kerang lebih cepat dibandingkan dengan pertumbuhan bobot total kerang. hasil kajian kedua menunjukkan kandungan proksimat yang paling tinggi yaitu kandungan air dengan nilai rata-rata mencapai 68,90%, sedangkan yang paling rendah yaitu kadar abu rata-rata sebesar 1,78%. kandungan gizi yang terkandung pada t. granosa sangat bervariasi, protein memiliki komposisi yang paling tinggi dengan nilai rata-rata mencapai 13,84%, diikuti kandungan rata-rata karbohidrat dan lemak. kandungan protein pada t. granosa ini lebih tinggi dari yang dilaporkan dari hasil penelitian dari pesisir sumatera utara dan mesir. hasil kajian ketiga mengumpulkan sebanyak 1.067 individu t. granosa pada lokasi penelitian yang diambil setiap satu bulan sekali dari bulan juli sampai bulan desember 2023. populasi yang paling tinggi ditemukan pada kawasan pesisir pusong sebanyak 607 individu, sedangkan populasi t. granosa yang paling rendah terdapat pada kawasan pesisir kuala langsa sebanyak 107 individu. t. granosa jantan ditemukan lebih dominan dibandingkan dengan t. granosa betina pada semua lokasi penelitian dan hanya pada bulan agustus ditemukan jumlah populasi t. granosa yang sama antara jantan dan betina. hasil analisis pca menunjukkan lokasi pusong ditemukan populasi t. granosa yang paling tinggi dibandingkan dengan kedua lokasi lainnya. pada lokasi pusong ditemukan korelasi yang kuat antara dinamika populasi t. granosa dengan keanekaragaman crustacea dan salinitas air, dibuktikan dengan ketiga parameter tersebut terdapat pada sumbu yang sama. hasil kajian ke empat menunjukkan pertumbuhan t. granosa berbasis keramba secara in-situ di kawasan pesisir ekosistem mangrove kota langsa menunjukkan terjadi pertumbuhan yang bervariasi dari setiap perlakuan. pertumbuhan panjang t. granosa yang paling tinggi ditemukan pada kawasan pesisir pusong pada perlakuan (p1) dengan kepadatan t. granosa 20 individu/ keramba, sedangkan pertumbuhan paling rendah terdapat pada kawasan lhok banie perlakuan (lb3) dengan kepadatan t. granosa paling tinggi yaitu 60 individu/keramba. laju pertumbuhan spesifik t. granosa juga menunjukkan kawasan mangrove pusong (lokasi ii) pada perlakuan (p1) dengan kepadatan paling rendah (20 individu/keramba) memiliki pertumbuhan paling tinggi dibandingkan dengan semua perlakuan lainnya pada kedua lokasi penelitian. hasil analisis pca menunjukkan kelimpahan makanan berupa keanekaragaman crustacea dan keanekaragaman plankton yang tinggi memiliki hubungan yang kuat terhadap pertumbuhan t. granosa di kawasan mangrove pusong berupa pertumbuhan panjang dan bobot. sedangkan kawasan ekosistem mangrove lhoh banie. hasil kajian kelima menunjukkan bobot basah bebas cangkang t. granosa paling tinggi ditemukan pada jenis kelamin jantan pada semua perlakuan yang berkisar antara 0,85 g sampai dengan 1,19 g. hasil analisis bobot basah bebas cangkang t. granosa betina memiliki bobot paling rendah berkisar antara 0,72 g sampai dengan 0,91 g. perlakuan (p1) dengan jenis kelamin jantan memiliki bobot basah bebas cangkang paling tinggi dari semua perlakuan lainnya, sedangkan yang paling rendah terdapat pada perlakuan (lb3) dengan jenis kelam betina. hasil analisis produksi t. granosa yang dikelola berbasis keramba secara in-situ di kawasan ekosistem mangrove kota langsa provinsi aceh selama 6 bulan pengamatan berkisar antara 0,30 gmkbc/m²/tahun sampai dengan 0,60 gmkbc/m²/tahun. produksi t. granosa paling tinggi terdapat pada kawasan pesisir pusong (p3), sedangkan produksi t. granosa yang paling rendah ditemukan pada kawasan pesisir mangrove lhok banie (lb3). karakteristik habitat yang cocok dan kelimpahan makanan berupa larva crustacea dan plankton memberikan dampak yang signifikan terhadap hasil produksi t. granosa pada kawasan pesisir kota langsa provinsi aceh.
Electronic Theses and Dissertation
Universitas Syiah Kuala
DISSERTATION
PENGELOLAAN KERANG DARAH (TEGILLARCA GRANOSA) BERBASIS KERAMBA SECARA IN-SITU DI KAWASAN MANGROVE RNKOTA LANGSA. Banda Aceh Fakultas Pasca Sarjana,2025
Baca Juga : KEKERASAN PERMUKAAN GLASS IONOMER CEMENT SETELAH PENAMBAHAN 5% HIDROKSIAPATIT DARI CANGKANG KERANG DARAH (ANADARA GRANOSA) (FIKRIYADI NURZAL, 2018)
Abstract
The mangrove ecosystem is a tropical area with unique plant vegetation in coastal areas that are influenced by the ebb and flow of sea water and with distinctive sediment characteristics. This mangrove ecosystem has an important role in maintaining environmental balance for coastal areas both physically and ecologically. Ecologically, mangroves are a potential habitat for various types of animals including various species of fish, crabs, shrimp and shellfish. The mangrove ecosystem also plays an important role for various coastal biota, including as a spawning ground, nursery ground and feeding ground. Blood cockles (Tegillarca granosa) are one of the shellfish species that live in the mangrove ecosystem area by burying their bodies in the substrate to avoid predators and exploitation by the community. The occurrence of ecological pressure due to habitat degradation and exploitation by the community has caused the population of T. granosa in the mangrove ecosystem area of Langsa City to currently decline. In-Situ cage-based management of T. granosa in the mangrove ecosystem area of Langsa City, Aceh Province as its natural habitat, is still very rarely carried out in efforts to manage T. granosa. Based on the problems that have been explained above, this study aims to analyze the morphometrics and growth patterns of T. granosa, nutritional content of T. granosa, population dynamics of T. granosa, growth and annual production of T. granosa managed based on cages in-situ in the mangrove ecosystem area of Langsa City. The sampling technique for T. granosa was carried out by purposive sampling at three research locations determined based on varying environmental conditions. Each research location was made a transect from the coast towards the mangrove vegetation. At each transect, a plot measuring 5 m x 5 m was made to collect T. granosa found in the plot. Each sample of T. granosa collected based on variations in size and sex in each plot was put into a sample bottle to be identified in the laboratory. Measurement of environmental physical and chemical data (water salinity, water temperature and water pH) was carried out in-situ at the same time as taking T. granosa. The results of the first study showed that the length of the shell ranged from 3 cm to 6.76 cm, the width of the shell ranged from 2.50 cm to 5.52 cm, while the total weight of T. granosa ranged from 12 g to 122 g. The growth pattern of T. granosa at the research location generally took place in negative allometry (b = 2.5084), which showed that the growth of the shell length was faster than the growth of the total weight of the shell. The results of the second study showed that the highest proximate content was water content with an average value of 68.90%, while the lowest was an average ash content of 1.78%. The nutritional content contained in T. granosa varies greatly, protein has the highest composition with an average value of 13.84%, followed by the average content of carbohydrates and fat. The protein content in T. granosa is higher than that reported from research results from the coast of North Sumatra and Egypt. The results of the third study collected 1,067 individuals of T. granosa at the research location which were taken once a month from July to December 2023. The highest population was found in the Pusong coastal area with 607 individuals, while the lowest population of T. granosa was found in the Kuala Langsa coastal area with 107 individuals. Male T. granosa were found to be more dominant than female T. granosa at all research locations and only in August was the number of T. granosa populations equal between males and females. The results of the PCA analysis showed that the Pusong location had the highest population of T. granosa compared to the other two locations. At the Pusong location, a strong correlation was found between the dynamics of the T. granosa population with the diversity of Crustaceans and water salinity, as evidenced by the three parameters being on the same axis. The results of the fourth study showed that the growth of T. granosa based on cages in the coastal area of the Langsa City mangrove ecosystem showed varying growth from each treatment. The highest growth in length of T. granosa was found in the coastal area of Pusong in treatment (P1) with a density of T. granosa of 20 individuals/cage, while the lowest growth was found in the Lhok Banie area of treatment (LB3) with the highest density of T. granosa, namely 60 individuals/cage. The specific growth rate of T. granosa also showed that the Pusong mangrove area (location II) in treatment (P1) with the lowest density (20 individuals/cage) had the highest growth compared to all other treatments in.
Baca Juga : PERSEPSI MASYARAKAT TERHADAP EKOSISTEM HUTAN MANGROVE DI KAWASAN KUALA LANGSA, KECAMATAN LANGSA BARAT KOTA LANGSA. (Laksmi Puja Sukma, 2018)