Cekungan krueng aceh merupakan suatu dataran rendah yang meliputi kawasan urban banda aceh dan aceh besar. cekungan ini didominasi oleh sedimen aluvium muda dan secara geologi berbatasan langsung dengan segmen aceh serta segmen seulimeum. bahaya gempabumi dapat memperparah efek kerusakan di daerah yang didominasi aluvium. untuk itu diperlukan kajian-kajian untuk mengurangi risiko bencana gempabumi di wilayah tersebut. dalam penelitian ini dilakukan kajian untuk memperkirakan ketebalan aluvium dengan menggunakan metode magnetotellurik 1d. proses akuisisi data dilakukan selama 14 jam menggunakan instrumen kms-820. data yang diperoleh dalam bentuk time series diubah menjadi data domain frekuensi untuk dilakukan analisis data secara kualitatif, kemudian pemodelan data menggunakan software ipi2win mt. hasil dari penelitian ini, diperoleh nilai resistivitas bawah permukaan dengan rentang nilai 13,9 – 134,86 Ωm yang diinterpretasikan sebagai material lempung, pasir, dan kerikil, penyusun dari formasi aluvium dengan kedalaman 20 m hingga -400 m serta estimasi ketebalan ±420 m. sedangkan nilai resistivitas 914,22 Ωm diduga sebagai formasi batupasir-konglomerat dari periode tersier yang berada di bawah formasi aluvium hingga kedalaman -1000 m.
Electronic Theses and Dissertation
Universitas Syiah Kuala
SKRIPSI
ESTIMASI KETEBALAN ALUVIUM DI CEKUNGAN KRUENG ACEH MENGGUNAKAN METODE MAGNETOTELLURIK 1D. Banda Aceh Fakultas Teknik Geofisika,2025
Baca Juga : INTERPRETASI STRUKTUR LITOLOGI BERDASARKAN PEMODELAN 1D DATA MAGNETOTELLURIK PADA WILAYAH ACEH BESAR (FIRLIZAL RISKI PAUJI, 2024)
Abstract
The Krueng Aceh Basin is a lowland that covers the urbanized areas of Banda Aceh and Aceh Besar. The basin is dominated by young alluvium sediments and is geologically adjacent to the Aceh segment and Seulimeum segment. Earthquake hazards can exacerbate the effects of damage in alluvium-dominated areas. For this reason, studies are needed to reduce the risk of earthquake disasters in the region. In this research, a study was conducted to estimate the thickness of alluvium using the 1D magnetotelluric method. The data acquisition process was carried out for 14 hours using the KMS-820 instrument. The data obtained in the form of time series is converted into frequency domain data for data analysis and data modelling using IPI2WIN MT software. The results of this study obtained subsurface resistivity values with a range of values of 13,9 – 134,86 Ωm which are interpreted as clay, sand, and gravel materials, the constituent of the alluvium formation with a depth of 20 m to -400 m and an estimated thickness of up to 420 m. While the resistivity value of 914,22 Ωm is thought to be a sandstone-conglomerate formation of the Tertiary period which is under the alluvium formation to a depth of -1000 m.
Baca Juga : ANALISIS PETROFISIKA PADA RESERVOAR ALFA BERDASARKAN DATA WELL LOG LAPANGAN “X” CEKUNGAN SUMATERA UTARA (Mayriska Husna, 2024)