Universitas Syiah Kuala | ELECTRONIC THESES AND DISSERTATION

Electronic Theses and Dissertation

Universitas Syiah Kuala

    THESES
Asyari, ANALISA CURAH HUJAN-LIMPASAN PADA DAERAH ALIRAN SUNGAI KRUENG BARO DENGAN MENGGUNAKAN METODERNMODEL TANGKI. Banda Aceh Prog. Studi Magister Teknik Sipil,2009

Data debit sangat diperlukan dalam perhitungan maupun analisa kelapa secara kuantitatif dari sungai untuk memenuhi kebutuhan dalam rekayasa maupun untuk mengetahui kondisi kekritisan daerah tangkapan hujannya. tidak semua daerah tanggapan hujan mempunyai data debit yang representatif sehingga secara kuatitatif sangat sulit menentukan ketersedioan air maupun kondisi parameter daerah tangkapan hujanya. metode model tangki sugawara merupakan salah satu metode yang metransformasikan data hujan menjadi data debit dengan pendekatan daur hidrologi. metode tersebut menjabarkan hujan yang terjadi akan melimpas diatas permukaan yang akan menjadi aliran permukaan dan yang meresap ke dalam tarah akan ditampung oleh lapisan tanah atau sebagai kelengasan tanah dan akan terus masuk ke merjadi aliran air tanah, sehingga air yang ada disungai merupakan perjumlahan aliran permukaan dan aliran air tanah tersebut. hasil parameter tangki dibuat analisa parameter das kr. baro berdasarkan pada aaliran debit aliran tinggi (debit banjir). hasil penelitian menunjukkan penyebab meningkatnya aliran permukaan saat hujan adaah parameter tangki yang memberikan nilai besar pada perdu sawah dengan nilai 0,531227 (53,227 % dan 0,370 (37 % dibandingkan dngan hutan 0,01 - 0, 1 7679 (i% - 17,679 %). hal ini mengindikasikan debit bahwa perdu dan sawah dapat meningkatkan debit banjir. penyebab meningkatnya aliran dasar (base flow) memberilkan nilai yang besar pada hutan dan perdu dengan tingkat pelepasan aliran dasar sebesar 0,10698 (10,698 %) dan 0,33944 (33,944 % dibandingkan dengan sawah sebesar 0,37531 07,53i%). perubahan tata guna lahan dari 20% hutan yang akan menjadi sawah atau tegalan atau tanah kosong dapat meningkatkan limpasan permukoan 12% - 18% dan menurunkan debit aliran dasar (base flow) 10% - 19% dari kondisi semula, mengakibatkan kekritisan lahan meningkat menjadi 12.08 - 14.20. perubahan tataguna lahan dari 50% hutan menjadi sawah, tegala atau tanah kosong meningkatkan limpasan permukaan 31 % - 47% dan menurunkan debit aliran rendah (base flow) 37% - 50% dari kondisi semula, mengakibatkan kekritisan lahan meningkat menjaadi 20.09- 28. 40 kata kunci : debit sungai, transformasi hujan - debit, modal tangki sugawara



Abstract

Baca Juga : PEMODELAN BANJIR SUNGAI KRUENG BARO KABUPATEN PIDIE (M DANIYAL SAFRIZAR, 2018)



    SERVICES DESK