Abstrak ubi kayu merupakan salah satu tanaman holtikultura yang dapat diolah menjadi produk lain sehingga dapat meningkatkan nilai tambah. kabupaten aceh besar merupakan salah satu tempat penghasil ubi kayu yang memiliki potensi besar untuk dikembangkan agroindustri. tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui kelayakan usaha agroindustri ditinjau dari segi pendapatan dan nilai tambah. penelitian ini dilakukan pada agroindustri kembang tanjong di kecamatan lembah seulawah kabupaten aceh besar. metode penelitian yang digunakan yaitu metode studi kasus. metode analisis menggunakan metode kuantitatif. berdasarkan hasil penelitian agroindustri kembang tanjong layak untuk diusahakan dan memperoleh pendapatannya yaitu keripik sambal rp 4.751.945, bep volume produksinya 301,2 kg, bep harga produksinya rp 28.686, roi 39 %, r/c 1,3 rupiah dan nilai tambah rp 20.920/kg atau 74,7%,. keripik ubi biasa rp 1.536.945, bep volume produksinya 538,5 kg, bep harga produksinya rp 22.438, roi 11,4 % , r/c 1,11 rupiah, nilai tambah rp 5.831/kg atau 46,6 % dan pendapatan tape ubi rp 3.243.778, bep volume produksinya 308,7 kg, bep harga produksinya rp 8.821, roi 70 %, r/c 1,7, nilai tambah rp 4.485/kg, atau 42,7 %. saran, sebaiknya pengusaha agroindustri melakukan pembaharuan sistem manajemen agroindustri yang berbasis kompetitif dan dapat mempertahankan mutu yang mampu meningkatkan nilai produksi untuk memperoleh pendapatan dan nilai tambah yang lebih besar bagi pengusahanya. kata kunci: agroindustri, ubi kayu, nilai tambah
Electronic Theses and Dissertation
Universitas Syiah Kuala
NULL
ANALISIS NILAI TAMBAH TERHADAP PRODUK OLAHAN UBI KAYU DI KECAMATAN LEMBAH SELAWAH KABUPATEN ACEH BESARRN (STUDI KASUS PADA AGROINDUSTRI “KEMBANG TANJONG”). Banda Aceh Universitas Syiah Kuala,2015
Baca Juga : ANALISIS NILAI TAMBAH DAN BEBERAPA KENDALA AGROINDUSTRI DI KABUPATEN BIREUEN (Nanda Firmanda, 2014)
Abstract
Baca Juga : UPAYA KEPALA SEKOLAH DALAM MENINGKATKAN MUTU SEKOLAH DI SD NEGERI 1 SAREE KECAMATAN LEMBAH SEULAWAH KABUPATEN ACEH BESAR (Agus Tya Sari, 2018)