Indonesia merupakan salah satu negara dengan keanekaragaman hayati yang tinggi, sering disebut sebagai negara megabiodiversitas. namun, indonesia juga memiliki banyak spesies flora dan fauna yang menghadapi risiko kepunahan. penyebab dari kepunahan keanekaragaman hayati merupakan akibat dari eksploitasi alam yang tidak terkendali, yang semakin luas jumlahnya. untuk menjaga keseimbangan dan keanekaragaman hayati dalam ekosistem, perlu dilakukan kegiatan pelestarian dan perlindungan satwa liar melalui kegiatan konservasi. konservasi ex-situ adalah upaya yang dilakukan untuk melindungi jenis - jenis tumbuhan dan satwa di luar habitat asli. taman rusa aceh besar merupakan salah satu lembaga konservasi non-pemerintah yang mengembangkan upaya konservasi ex-situ di aceh. penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi upaya pelestarian, pemanfaatan dan perlindungan satwa liar dalam kesesuaian kandang dan pakan yang diberikan di taman rusa aceh besar serta mengetahui motivasi pengunjung terhadap konservasi satwa liar. penelitian ini menggunakan metode pengamatan langsung (observasi), wawancara, dan dokumentasi. lokasi penelitian terletak di taman rusa aceh besar, desa lamtanjong kabupaten aceh besar. data diolah dengan metode triangulasi sumber data, antara hasil pengamatan langsung di lapangan dengan indikator kesejahteraan satwa liar, sesuai dengan peraturan direktur jenderal perlindungan hutan dan konservasi alam nomor p.9/iv-set/2011 tentang pedoman etika dan kesejahteraan satwa di lembaga konservasi. hasil penelitian menunjukkan bahwa upaya pelestarian satwa liar di taman rusa aceh besar hanya berhasil menghasilkan keturunan dari dua jenis satwa, yaitu rusa sambar (cervus unicolor) dan rusa tutul (axis axis) pada tahun 2024. pemanfaatan satwa di taman rusa aceh besar mencakup penggunaan sebagai satwa peraga di dalam kandang, interaksi langsung, dan objek penelitian. dari 44 kandang satwa liar yang ada, terdapat enam kandang yang belum memenuhi kriteria kesesuaian berdasarkan peraturan direktur jenderal perlindungan hutan dan konservasi alam nomor p.9/iv-set/2011 tentang pedoman etika dan kesejahteraan satwa di lembaga konservasi, sementara 38 kandang telah memenuhi kriteria tersebut. dari 44 jenis satwa liar, terdapat dua jenis yang tidak memenuhi standar waktu pemberian pakan yang sesuai, sedangkan 42 jenis lainnya telah memenuhi standar tersebut. motivasi pengunjung datang ke taman rusa aceh besar sebagian besar didasarkan pada keinginan untuk berwisata keluarga (58%), dengan tujuan utama melihat satwa, bersantai, serta mengambil foto dan video (66%). manfaat yang dirasakan pengunjung meliputi menghilangan rasa jenuh dan lelah (26%). area yang paling disukai pengunjung adalah area satwa (72%), dengan satwa yang paling diminati adalah buaya muara (12%).
Electronic Theses and Dissertation
Universitas Syiah Kuala
SKRIPSI
KONSERVASI EX-SITU SATWA LIAR DILINDUNGI DI TAMAN RUSA ACEH BESAR. Banda Aceh Fakultas Pertanian,2025
Baca Juga : PERILAKU HARIAN RUSA SAMBAR (CERVUS UNICOLOR) DI TAMAN RUSA SIBREH KABUPATEN ACEH BESAR (NAUFAL SUFI MUHARAM, 2024)
Abstract
Indonesia is one of the countries with high biodiversity, often referred to as a megabiodiversity country. However, Indonesia also has many species of flora and fauna that are at risk of extinction. The cause of biodiversity extinction is the result of uncontrolled exploitation of nature, which is increasingly widespread. To maintain balance and biodiversity in the ecosystem, it is necessary to preserve and protect wildlife through conservation activities. Ex-situ conservation is an effort made to protect plant and animal species outside their natural habitat. Taman Rusa Aceh Besar is one of the non-governmental conservation organizations developing ex-situ conservation efforts in Aceh. This study aims to identify efforts to conserve, utilize and protect wildlife in the suitability of cages and feed provided at the Aceh Besar Deer Park and determine visitor motivation towards wildlife conservation. This research uses direct observation (observation), interview, and documentation methods. The research location is located in Aceh Besar Deer Park, Lamtanjong Village, Aceh Besar Regency. The data were processed using the data source triangulation method, between the results of direct observations in the field with indicators of wildlife welfare, in accordance with the Regulation of the Director General of Forest Protection and Nature Conservation Number P.9/IV-SET/2011 concerning guidelines for animal ethics and welfare in conservation institutions. The results showed that wildlife conservation efforts in Aceh Besar Deer Park only succeeded in producing offspring of two species, namely sambar deer (Cervus unicolor) and spotted deer (Axis axis) in 2024. Animal utilization in the Aceh Besar Deer Park includes use as a demonstration animal in cages, direct interaction, and research objects. Of the 44 wildlife enclosures, six did not meet the criteria based on the Regulation of the Director General of Forest Protection and Nature Conservation No. P.9/IV-SET/2011 on Guidelines for Animal Ethics and Welfare in Conservation Institutions, while 38 enclosures met the criteria. Of the 44 wildlife species, there were two species that did not meet the appropriate feeding time standard, while the other 42 species met the standard. Visitors' motivations for coming to Aceh Besar Deer Park were mostly based on the desire for family travel (58%), with the main objectives of seeing animals, relaxing, and taking photos and videos (66%). The benefits perceived by visitors include relieving boredom and fatigue (26%). The most preferred area for visitors was the animal area (72%), with the most popular animal being the estuarine crocodile (12%).