Gajah sumatera merupakan salah satu kekayaan fauna indonesia yang termasuk satwa langka. berdasarkan uu no. 05 tahun 1990 tentang konservasi ekosistem sumber daya alam hayati dan ekosistem perlu dilindungi dan dilestarikan. satwa ini merupakan herbivora yang memiliki banyak perilaku harian. semakin berkurangnya habitat dari gajah khususnya hutan, gajah mencari tempat yang tersedia akan pakan dan berbagai kebutuhannya. salah satu kawasan yang tersedia pakan gajah selain hutan adalah lahan pertanian milik masyarakat. karena hal yang dilakukan oleh gajah mengakibatkan terjadi konflik dengan manusia. tujuan dari penelitian ini untuk mengetahui jumlah konflik yang terjadi dalam kurun waktu 5 tahun, jenis konflik yang terjadi, jenis kerusakan, dampak, serta estimasi kerugian ekonomi yang dialami masyarakat akibat konflik. penelitian ini dilakukan mulai april hingga juni 2024 di seluruh kecamatan di kabupaten aceh jaya. pengumpulan data dalam penelitian ini menggunakan metode purposive sampling dengan tujuan dalam pengumpulan data yang diperlukan yang langsung tertuju kepada masyarakat yang berhubungan dengan konflik yang terjadi. jumlah konflik yang terjadi antara manusia dengan gajah dalam kurun waktu 5 tahun berjumlah 95 konflik, dengan intensitas yang mengalami naik dan penurunan, dimana penurunan signifikan terjadi pada tahun 2021 dengan jumlah 12 konflik. konflik kecamatan tertinggi terjadi di kecamatan sampoiniet dengan jumlah 12 kasus. jenis konflik yang terjadi antara manusia dengan gajah adalah kerusakan tanaman, kerusakan bangunan, kerusakan bangunan dan tanaman dan perjumpaan dengan manusia. persentase jenis konflik tertinggi dimiliki oleh perjumpaan dengan manusia sebesar 40%. kerusakan yang terjadi akibat konflik manusia dengan gajah mencakup dari jenis tanaman hingga bangunan (gubuk). jenis tanaman yang paling banyak rusak dalam satuan unit adalah pada tanaman jagung dengan persentase 58,30% dan terkecil adalah pada jenis tanaman coklat, jeruk, dan jsengkol dengan persentase pada masing-masing jenis tanaman 0,1% kerusakan berdasarkan luas kawasan yang rusak terjadi pada tanaman jenis sawit dengan kerusakan seluas 357,63 ha dan memiliki persentase sebesar 71,71%. kerugian ekonomi tanaman tertinggi ada pada jenis sawit dengan kerugian sebesar rp. 117.402.676.400. kerusakan bangunan yang rusak sebanyak 19 dengan nilai unit tertinggi sebesar rp. 38.000.000. dampak yang paling banyak dirasakan masyarakat adalah ketakutan, dengan persentase sebesar 84%. total kerugian ekonomi akibat konflik yang terjadi adalah sebesar rp. 126.993.062.400, dengan rata-rata per tahun dalam rentang waktu selama 5 tahun sebesar rp. 25.398.612.480, dan rata-rata kerusakan per kecamatan sebesar 14.110.340.267, dengan kecamatan yang mengalami kerugian ekonomi tertinggi ada pada kecamatan setia bakti dengan total rp. 52.819.700.624 dengan persentase 41,59% dan terkecil pada kecamatan jaya dengan total nilai kerugian rp. 8701.860.128 dengan persentase sebesar 0,69%. penelitian ini diharapkan dapat memberikan wawasan mengenai dampak ekonomi dari konflik gajah dengan manusia dan menyarankan langkah-langkah mitigasi yang lebih efektif dalam rangka konservasi satwa liar serta keberlanjutan kehidupan masyarakat di sekitar habitat gajah. kata kunci : aceh jaya, gajah sumatera, jumlah konflik, kerugian ekonomi, kerusakan tanaman dan bangunan.
Electronic Theses and Dissertation
Universitas Syiah Kuala
SKRIPSI
ANALISIS KONFLIK GAJAH DAN MANUSIA SERTA ESTIMASIKERUGIAN EKONOMI DI KABUPATEN ACEH JAYA. Banda Aceh Fakultas Pertanian Kehutanan,2025
Baca Juga : PEMETAAN DAERAH RAWAN KONFLIK MANUSIA DENGAN GAJAH (STUDI KASUS: KECAMATAN TANGSE KABUPATEN PIDIE) (Fadel Ariefa, 2020)
Abstract
Sumatran elephants are one of Indonesia's fauna riches which are rare animals. Based on Law No. 05 of 1990 concerning the Conservation of Ecosystems, Natural Resources and Ecosystems need to be protected and preserved. This animal is a herbivore that has many daily behaviors. The decreasing habitat of elephants, especially forests, elephants are looking for places that provide food and various needs. One of the areas where elephant food is available besides forests is agricultural land owned by the community. Because what elephants do results in conflict with humans. The purpose of this study was to determine the number of conflicts that occurred within a period of 5 years, the types of conflicts that occurred, the types of damage, impacts, and estimates of economic losses experienced by the community due to the conflict. This study was conducted from April to June 2024 in all sub-districts in Aceh Jaya Regency. Data collection in this study used the purposive sampling method with the aim of collecting the necessary data that was directly aimed at the community related to the conflict that occurred. The number of conflicts between humans and elephants in a period of 5 years was 95 conflicts, with increasing and decreasing intensity, where a significant decrease occurred in 2021 with 12 conflicts. The highest sub-district conflict occurred in Sampoiniet District with 12 cases. The types of conflicts that occur between humans and elephants are crop damage, building damage, damage to buildings and crops and encounters with humans. The highest percentage of conflict types is owned by encounters with humans at 40%. The damage caused by human-elephant conflicts ranges from types of crops to buildings (huts). The type of plant that is most damaged in units is corn with a percentage of 58.30% and the smallest is in the types of cocoa, citrus, and jsengkol plants with a percentage of 0.1% for each type of plant. Damage based on the area of damaged areas occurs in oil palm plants with damage covering an area of 357.63 Ha and has a percentage of 71.71%. The highest economic loss of plants was in the oil palm type with a loss of Rp. 117,402,676,400. Damage to buildings damaged as many as 19 with the highest unit value of Rp. 38,000,000. The impact most felt by the community was fear, with a percentage of 84%. The total economic loss due to the conflict that occurred was Rp. 126,993,062,400, with an average per year over a period of 5 years of Rp. 25,398,612,480, and an average damage per sub-district of 14,110,340,267, with the sub-district experiencing the highest economic loss in Setia Bakti Sub-district with a total of Rp. 52,819,700,624 with a percentage of 41.59% and the smallest in Jaya Sub-district with a total loss value of Rp. 8,701,860,128 with a percentage of 0.69%. This research is expected to provide insight into the economic impacts of human-elephant conflict and suggest more effective mitigation measures for wildlife conservation and the sustainability of community life around elephant habitats. Keywords: Aceh Jaya, , Damage to crops and buildings, Economic losses, Number of conflicts. Sumatran elephants
Baca Juga : MITIGASI KONFLIK MANUSIA DAN GAJAH SUMATERA (ELEPHAS MAXIMUS SUMATRANUS) DI KECAMATAN SAKTI KABUPATEN PIDIE (SALSABILA DARA FONNA, 2024)