Inceptisol merupakan tanah yang tergolong masih muda atau tanah yang sedang mulai berkembang. inceptisol adalah salah satu jenis tanah yang mempunyai produktivitas rendah namun berpotensi dikembangkan sebagai lahan pertanian. inceptisol adalah tanah yang penyebarannya cukup luas, tetapi dalam pemanfaatannya inceptisol mengalami permasalahan di lapangan. permasalahan yang dijumpai pada tanah inceptisol yaitu, tanah ini memiliki kandungan unsur hara yang kurang tersedia, terutama n,p,k, kapasitas tukar kation yang rendah, kandungan bahan organik rendah, dan reaksi tanah (ph) yang agak masam. untuk meningkatkan produktivitas tanah inceptisol, alternatif yang dapat dilakukan adalah dengan cara pemupukan menggunakan pupuk organik (pupuk kandang) dan pupuk hayati. penelitian ini menggunakan rancangan acak kelompok (rak) dengan susunan perlakuan berpola non faktorial. susunan perlakuan ini dilakukan dalam lima perlakuan dan empat ulangan. susunan kombinasi perlakuan yaitu, p0 = kontrol, p1 = 25 g pupuk kandang + 0,0035 ml pupuk hayati, p2 = 25 g pupuk kandang + 0,0070 ml pupuk hayati, p3 = 25 g pupuk kandang + 0,0105 ml pupuk hayati, p4 = 25 g pupuk kandang + 0,0140 ml pupuk hayati. parameter yang diamati adalah pertumbuhan tanaman jagung (tinggi tanaman, jumlah daun, dan diameter batang), sifat biologi tanah (total mikroorganisme, mikroorganisme pelarut fosfat, dan azotobacter sp), dan sifat kimia (ph, c-organik, n-total, dan rasio c/n). hasil penelitian menunjukkan bahwa kombinasi pupuk kandang dan dosis pupuk hayati dapat meningkatkan tinggi tanaman dan diameter batang tanaman jagung pada umur 21 hst, meningkatkan jumlah daun pada umur 7, 14 dan 21 hst. namun, belum dapat meningkatkan tinggi tanaman dan diameter batang pada umur 7 dan 14 hst. meningkatkan c-organik tanah, namun belum dapat meningkatkan total mikroorganisme, mikroorganisme pelarut fosfat, azotobacter, respirasi tanah, ph tanah, n-total dan rasio c/n tanah dalam waktu 30 hari. perlakuan terbaik dari kombinasi pupuk kandang dan dosis pupuk hayati terhadap pertumbuhan tanaman jagung dijumpai pada perlakuan p3 (pupuk kandang 25 g + pupuk hayati 0,0105 ml).
Electronic Theses and Dissertation
Universitas Syiah Kuala
SKRIPSI
PERTUMBUHAN TANAMAN JAGUNG (ZEA MAYS L.) DAN PERUBAHAN SIFAT BIOLOGI DAN KIMIA INCEPTISOL AKIBAT PEMBERIAN KOMBINASI PUPUK KANDANG DAN DOSIS PUPUK HAYATI. Banda Aceh Fakultas pertanian Ilmu Tanah,2025
Baca Juga : PERUBAHAN SIFAT FISIKA DAN KIMIA TANAH, SERTA HASIL JAGUNG (ZEA MAYS L.) AKIBAT PERBEDAAN JENIS DAN DOSIS BAHAN ORGANIK PADA INCEPTISOL KRUENG RAYA (Iwan Saputra, 2025)
Abstract
Inceptisol is a type of soil that is still relatively young or is just starting to develop. Inceptisol is a type of soil that has low productivity but has the potential to be developed as agricultural land. Inceptisol is a type of soil that is quite widely distributed, but in its utilization, Inceptisol experiences problems in the field. The problems encountered in Inceptisol soil are that this soil has a low nutrient content, especially N, P, K, low cation exchange capacity, low organic matter content, and a slightly acidic soil reaction (pH). To increase the productivity of Inceptisol soil, an alternative that can be done is by fertilizing using organic fertilizers (manure) and biological fertilizers. This study used a randomized block design (RAK) with a non-factorial treatment arrangement. This treatment arrangement was carried out in five treatments and four replications. The combination of treatments were, P0 = control, P1 = 25 g of manure + 0.0035 ml of biological fertilizer, P2 = 25 g of manure + 0.0070 ml of biological fertilizer, P3 = 25 g of manure + 0.0105 ml of biological fertilizer, P4 = 25 g of manure + 0.0140 ml of biological fertilizer. The parameters observed were the growth of corn plants (plant height, number of leaves, and stem diameter), soil biological properties (total microorganisms, phosphate-solubilizing microorganisms, and Azotobacter sp), and chemical properties (pH, C-Organic, N-total, and C/N ratio). The results showed that the combination of manure and doses of biological fertilizers could increase plant height and stem diameter of corn plants at the age of 21 HST, increasing the number of leaves at the ages of 7, 14 and 21 HST. However, it has not been able to increase plant height and stem diameter at 7 and 14 HST. Increased soil C-Organic, but has not been able to increase total microorganisms, phosphate-solubilizing microorganisms, azotobacter, soil respiration, soil pH, N-Total and soil C/N ratio within 30 days. The best treatment of the combination of manure and biofertilizer doses on corn plant growth was found in treatment P3 (25 g Manure + 0.0105 ml Biofertilizer)