Perencanaan tata ruang sangat penting dalam mendukung ketahanan perkotaan dalam merespons tren meningkatnya kejadian bencana secara global, terutama dalam konteks wilayah perkotaan yang rawan bencana dan masyarakat religius. masyarakat religius dalam konteks ini, yaitu masyarakat islam, memiliki karakteristik khusus dalam penggunaan ruang dan respons terhadap bencana. meskipun perencanaan tata ruang dan aspek religius telah diidentifikasi sebagai hal yang penting dalam ketahanan perkotaan, masih sedikit yang diketahui tentang bagaimana pengaruh tersebut terjadi di komunitas islam. penelitian ini mengidentifikasi karakteristik dan dimensi ketahanan perkotaan dalam konteks masyarakat islam dan menemukan determinan dari perencanaan tata ruang dan faktor religius untuk ketahanan perkotaan dalam konteks masyarakat islam di banda aceh, indonesia. penelitian ini juga mengevaluasi persepsi masyarakat islam terhadap perencanaan tata ruang dan ketahanan perkotaan, kemudian membangun sebuah model yang merepresentasikan hubungan antara perencanaan tata ruang dan ketahanan perkotaan dalam masyarakat islam serta menjelaskan peran faktor religius dalam hubungan tersebut. nkajian teori dan bukti empiris mengungkapkan keterbatasan dalam mendefinisikan konsep perencanaan tata ruang untuk ketahanan perkotaan dalam konteks masyarakat berbasis agama. penelitian ini menggunakan pendekatan penelitian studi kasus metode campuran, di mana metode campuran diintegrasikan ke dalam studi kasus. pendekatan eksplorasi sekuensial metode campuran digunakan untuk mengeksplorasi hubungan antarvariabel penelitian dalam konteks masyarakat islam di banda aceh sebagai studi kasus. hasil penelitian kualitatif dari wawancara dengan sepuluh pemangku kepentingan mengusulkan model terpadu tentang hubungan antara perencanaan tata ruang, faktor religius, dan ketahanan perkotaan. penelitian kuantitatif kemudian menguji model tersebut berdasarkan hasil survei kuesioner terhadap 369 warga banda aceh. analisis model persamaan struktural (sem) menemukan bahwa, seperti yang diharapkan, perencanaan tata ruang memiliki hubungan langsung dan signifikan secara positif dengan ketahanan perkotaan dalam masyarakat islam. selanjutnya, hasil penelitian juga menunjukkan bahwa perencanaan tata ruang memengaruhi ketahanan perkotaan melalui efek mediasi dari faktor religius. namun, peran mediasi faktor religius dalam perencanaan tata ruang untuk ketahanan perkotaan bersifat parsial, artinya ketidakhadiran variabel ini tidak menyebabkan hubungan perencanaan tata ruang terhadap ketahanan perkotaan menjadi tidak signifikan. namun, keberadaan variabel ini hanya memperkuat hubungan tersebut. temuan penelitian ini memberikan pemahaman yang lebih mendalam tentang praktik perencanaan tata ruang dalam komunitas islam di indonesia dan berkontribusi pada pengetahuan baru dalam studi ketahanan perkotaan dan perencanaan tata ruang. hasilnya memberikan wawasan yang signifikan dalam perdebatan akademis tentang perbedaan budaya lokal dalam perencanaan tata ruang dengan menunjukkan bagaimana faktor religius suatu komunitas membentuk konteks ketahanan tata ruang perkotaan dalam masyarakat dinamis di kawasan asia. temuan ini memiliki implikasi bagi pengembangan dan pengelolaan ketahanan perkotaan dalam masyarakat islam di banda aceh, indonesia, yang dapat digeneralisasi ke negara-negara tetangga. manfaat lebih lanjut termasuk membangun basis bukti tentang pemanfaatan keuntungan dari perencanaan tata ruang berbasis agama untuk menciptakan ketahanan perkotaan melalui faktor religius yang eksplisit untuk ketahanan perkotaan dalam komunitas islam.
Electronic Theses and Dissertation
Universitas Syiah Kuala
DISSERTATION
MODEL PERENCANAAN TATA RUANG UNTUK KETAHANAN KOTA MASYARAKAT ISLAM: STUDI KASUS KOTA BANDA ACEH, INDONESIA (MODEL OF SPATIAL PLANNING FOR URBAN RESILIENCE IN ISLAMIC SOCIETY: A CASE STUDY OF BANDA ACEH CITY, INDONESIA). Banda Aceh Program Doktor Ilmu Teknik (S3),2025
Baca Juga : ANALISIS MODEL PENGUNGKAPAN ISLAMIC SOCIAL REPORTING (ISR) PADA BANK UMUM ISLAM DI INDONESIA (CUT TIYA MIRANTI, 2019)
Abstract
Spatial planning is essential in supporting urban resilience in responding to the trend of increasing disaster events globally, especially in the context of disaster-prone urban areas and religious societies. The religious societies in this context of Islamic society have specific characteristics in the use of space and disaster response. Although spatial planning and religious aspects have been identified as pivotal in urban resilience, little is known about how these influences occur in Islamic communities. This study identifies the characteristic and dimensions of urban resilience in Islamic society context and discovers the determinants of spatial planning and Religious Factors for urban resilience in the context of the Islamic society in Banda Aceh, Indonesia. This study also evaluates the Islamic society’s perception on spatial planning and urban resilience and then establishes a model that represents the relationship of spatial planning and urban resilience in Islamic society and clarifies the role of religious factor in that relationship. A review of theory and empirical evidence reveals limitations in defining concepts of spatial planning for urban resilience in a religious-based society context. This study uses a mixed-methods case study research approach, where the mixed methods are embedded in the case study. A mixed-method sequential exploration was used to explore the relationship among research variables in the context of the Islamic people in Banda Aceh as a case study. The qualitative study results from interviews with ten stakeholders proposed an integrated model of the relationship among spatial planning, religious factors, and urban resilience. The quantitative study then tested the model, based on questionnaire survey results on 369 Banda Aceh citizens. The structural equation model (SEM) analysis found that, as expected, spatial planning has a direct and significant positive relationship with urban resilience in Islamic society. Then, the study results also show that spatial planning influences urban resilience through the mediating effect of religious factors. However, the mediating role of religious factors in spatial planning for urban resilience is only partial, meaning that the absence of this variable does not cause the spatial planning relationship to urban resilience to be insignificant. However, the presence of this variable only strengthens the relationship. This study's findings provide a deeper understanding of spatial planning practices in Islamic communities in Indonesia and contribute new knowledge to the study of urban resilience and spatial planning. The results offer significant insight into the scholarly debate about local cultural differences in spatial planning by showing how a community's religious factors shape the context of urban spatial resilience in dynamic societies in the Asian region. These findings have implications for developing and managing urban resilience in the Islamic society in Banda Aceh, Indonesia, which can be generalized to neighboring countries. Further benefits include building an evidence base on utilizing the advantages of religious-based spatial planning to create urban resilience through explicit religious factors for urban resilience in Islamic communities.
Baca Juga : STUDI PARTISIPASI MASYARAKAT DALAM PENGENDALIAN PEMANFAATAN TATA RUANG KOTA DI KECAMATAN KUTA ALAM KOTA BANDA ACEH (RD. CECEP YUDHIE ERBA WINATA, 2015)