Abstrak kata kunci: sumang, resam berume, budaya, gayo penelitian ini berjudul “budaya sumang dalam tari resam berume di kabupaten aceh tengah”. rumusan masalah pada penelitian ini yaitu perkembangan tari resam berume pada tahun 1960, 2002 dan pada tahun 2016 dan apa saja ragam budaya sumang dalam tari resam berume. metode yang digunakan pada penelitian ini adalah deskriptif dengan pendekatan kualitatif. teknik pengumpulan data yaitu observasi, wawancara dan dokumentasi. subjek dalam penelitian ini adalah ketua sanggar kuta dance teater dan ketua sanggar pucuk lemi. objek dari penelitian ini adalah budaya sumang terhadap tari resam berume. teknik analisis data dalam penelitian ini yaitu mereduksi data, penyajian data dan verifikasi data. hasil penelitian menunjukkan bahwa budaya sumang merupakan nilai-nilai masyarakat yang tumbuh sejak keberadaan leluhur kelompok masyarakat yang bermukim di dataran tinggi gayo yang mengandung pengetahuan, keyakinan, nilai dan aturan serta hukum yang menjadi pedoman bagi tingkah laku sosial di dalam kehidupan masyarakat gayo. tari resam berume ini ada perkembangan dalam setiap gerak, syair, pola lantai, busana dan tata rias bahkan panggung pertunjukan tetapi tidak boleh meninggalkan tradisi masyarakat gayo tersebut yaitu budaya sumang. ada empat pantangan sikap atau disebut juga sumang opat (sumbang empat) yang dilarang oleh masyarakat yaitu: sumang perceraken (sumbang perkataan), sumang pelangkahen (sumbang perjalanan), sumang kenunulen (sumbang kedudukan) dan sumang pergaulen (sumbang pergaulan). tari resam berume ada terdapat sumang, yakni ragam gerakan-gerakan yang sumang dilakukan, karena tidak sesuai dengan adat dan istiadat gayo. ada 5 jenis ragam gerakan yang dilarang tersebut yaitu nama gerakannya: gedep (main mata), gentot (menggerak-gerak pinggul secara berlebihan atau sensual), lelih/cerel (ganjen atau mentel), lumpet (meloncat bagi perempuan) dan teragong (loncat gaya kuda atau loncatan yang tidak bernilai estetik).
Electronic Theses and Dissertation
Universitas Syiah Kuala
SKRIPSI
BUDAYA SUMANG DALAM TARI RESAM BERUME DI KABUPATEN ACEH TENGAH. Banda Aceh Fakultas KIP Pendidikan Seni Drama, Tari dan Musik (S1),2024
Baca Juga : PESAN INFORMATIF YANG TERKANDUNG DALAM GERAK TARI RESAM BERUME DI ACEH TENGAH (NAJLA ANNISA, 2026)
Abstract
ABSTRACT Keywords: Sumang, Resam Berume, culture, Gayo This study is entitled "Sumang Culture in Resam Berume Dance in Central Aceh Regency". The formulation of the problem in this study is the development of Resam Berume dance in 1960, 2002 and in 2016 and what are the varieties of Sumang culture in Resam Berume dance. The method used in this study is descriptive with a qualitative approach. Data collection techniques are observation, interviews and documentation. The subjects in this study were the head of the Kuta Dance Theater studio and the head of the Pucuk Lemi studio. The object of this study is Sumang culture towards the Resam Berume dance. Data analysis techniques in this study are data reduction, data presentation and data verification. The results of the study indicate that Sumang Culture is the values of society that have grown since the existence of the ancestors of the community group who live in the Gayo highlands which contain knowledge, beliefs, values and rules and laws that serve as guidelines for social behavior in the lives of the Gayo community. This Resam Berume dance has developments in every movement, lyrics, floor patterns, costumes and make-up, even the performance stage, but it must not leave the tradition of the Gayo community, namely the Sumang culture. There are four taboo attitudes or also called Sumang Opat (SumbangEmpat) which are prohibited by the community, namely: Sumang Perceraken (Sumbang Perkataan), Sumang Pelangkahen (Sumbang Perjalanan), Sumang Kenunulen (Sumbang Kedudukan) and Sumang Pergaulen (Sumbang Pergaulan). The Resam Berume dance contains Sumang, namely the various movements that Sumang performs, because they are not in accordance with Gayo customs and traditions. There are 5 types of prohibited movements, namely the names of the movements: gedep (playing), gentot (moving the hips excessively or sensually), lelih/cerel (ganjen or mentel), lumpet (jumping for women) and teragong (horse style jump or jumps that have no aesthetic value).
Baca Juga : REKONSTRUKSI KESENIAN DALAM TRADISI RESAM MUNOLING PADA MASYARAKAT KEBAYAKAN KABUPATEN ACEH TENGAH (Gadis Saradiva, 2024)